Wednesday, August 17, 2022

Berorganik dari Pekarangan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Taman refugia tak hanya menarik hama tapi juga pengunjung.

Warga Dusun Penanggungan kompak berorganik di pekarangan, sawah, dan kebun. Harga jual dua kali lipat produk konvensional.

Setiap bulan tak kurang 3.000 pengunjung memadati Kampung Organik Brenjonk di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Mereka paling menggemari taman refugia. Di taman itu hamparan kenikir Cosmos sp. berbunga kuning tak hanya menarik hama tetapi juga pengunjung. Gunung Penanggungan turut menjadi latar foto yang indah.

Slamet Siatim merintis Perkumpulan Brenjonk pada 2007.

Direktur pengelola Kampung Organik Brenjonk, Slamet Siatim, mengatakan, taman refugia itu baru dibuka pada pertengahan 2020. Taman refugia memang untuk menarik pengunjung. Warga pun dapat menjajakan produk organik yang baru saja dipetik dari kebun. Tak hanya produk segar, mereka juga mengolah beragam menu berbahan organik.

Pekarangan organik

Pengunjung dapat menikmati kuliner sawah organik—kuwah organik—di saung-saung yang berada di tengah sawah. Ada 17 unit kuwah organik tersebar di area dusun. “Dengan kuwah, kami memanfaatkan hanya 10% lahan untuk menjual menu organik. Itu agar petani dengan sawah sempit tidak menjual tanahnya kelak,” kata Slamet. Ia mewajibkan setiap pemilik kuwah menggunakan bahan baku dari sawah dan kebun sendiri dan tentunya organik.

Sayuran, buah-buahan, beras, dan bumbu berasal dari tanaman warga sendiri. Sejatinya kampung organik itu salah satu program edukasi Perkumpulan Brenjonk. Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (Stikom) Surabaya jurusan Manajemen Informatika dan Teknik Komputer itu membentuk Perkumpulan Brenjong wadah bagi pekebun organik untuk mendalami budidaya organik sekaligus menyalurkan hasil panen.

Nama Brenjong berasal dari salah satu sumber air di desa tersebut bernama Sumber Rejo. Warga melafalkannya mber-jo sehingga tercetuslah kata Brenjonk.
Kegiatannya meliputi produksi, pascapanen, sertifikasi, dan pemasaran. Anggota aktif di Dusun Penanggungan sekitar 130 orang. Mulanya laki-laki kelahiran Kabupaten Mojokerto, 2 Oktober 1970 itu memperkenalkan budidaya organik berbasis kebun pekarangan. Tak heran bila anggotanya mayoritas kaum perempuan. Mereka menanam beragam sayuran daun di dalam greenhouse.

Rumah sayur organik berukuran 5 m x 10 m di pekarangan warga Desa Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Menurut Slamet terdapat setidaknya 130 greenhouse alias rumah sayur organik (RSO) di pekarangan warga Dusun Penanggungan. “Pertama kali saya hanya tanam sayur di 3 polibag. Lalu bertambah secara bertahap hingga saya rasa perlu lakukan analisis usaha,” ujar Slamet mengenang.

Rumah sayur organik berukuran 5 m x 10 m dengan atap plastik ultraviolet dan dinding kain jaring. Warga biasanya menanam sayuran daun seperti kangkung, bayam, selada, dan siomak di dalam RSO.

Pendamping petani organik, Harie Samoro, mengecek tanaman secara rutin.

Setiap bulan warga bisa memetik 20—40 kg per rumah tanam. Ada pula yang hanya memperoleh 5 kg sayuran per bulan. Itu lantaran berkebun hanya sebagai sampingan. Pada umumnya warga Dusun Penanggungan bekerja menggarap sawah. Sayuran buah seperti terung dan tomat ada di kebun terbuka. Luasnya sekitar 6 hektare.

Selain sayuran, laki-laki berusia 50 tahun itu juga merangkul petani sawah untuk menerapkan budidaya organik. Kini setidaknya 11 hektare lahan padi dan kedelai beralih organik. Produk Brenjonk telah tersertifikasi Organik Indonesia dan Penjaminan Mutu Organik (Pamor). Tak heran bila pasar swalayan, hotel, restoran, dan katering di Kota Surabaya dan sekitarnya meminta pasokan rutin.

Harga tinggi

Produk Brenjonk bersertifikasi Organik Indonesia dan Pamor.

Bukan perkara mudah merintis dan mempertahankan Perkumpulan Brenjonk. Pada tahun pertama, Slamet kesulitan mengajak tetangganya untuk ikut berkebun organik. Seiring berjalannya waktu, ia belajar tiga kunci keberhasilan pengembangan masyarakat. Pertama masyarakat perlu suri tauladan. Jangan sekadar disuruh tetapi kita tidak melakukan apa-apa.

Kedua, lakukan kegiatan berorientasi pada peningkatan pendapatan. Ketiga, kelompok yang menaungi harus sembada. Brenjong harus sanggup membeli hasil panen pekebun dan menjualnya. Pembelian panen dengan harga semestinya menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap anggota. Brenjong membeli hasil panen anggota dua kali lipat daripada produk konvensional. Misalnya sayuran daun seperti kangkung harganya Rp6.000 per kg di tingkat pekebun.

Menurut Slamet kelompok sebaiknya mengelola aspek hulu hingga hilir dengan baik meski hanya kelompok kecil. “Besar atau kecil sama-sama kelompok maka tetap harus dikelola dengan baik,” kata Slamet. Sejak bekerja di dua lembaga swadaya masyarakat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup pada 1990—1994 dan Yayasan Peduli Indonesia 1995—2007, Slamet berkeinginan membuat aksi konkret untuk mengembangkan komunitas desa. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img