Sunday, June 16, 2024

Dukungan Industri Benih

Rekomendasi
- Advertisement -

Industri benih hortikultura tancap gas dengan merakit varietas unggul baru tanpa henti.

Secara umum semua sektor usaha terdampak virus korona termasuk pertanian. Sejatinya proses produksi oleh petani baik di sawah atau tegal tidak terganggu. Terlebih kondisi di perdesaan relatif kondusif pada awal terjadinya pandemi. Memberakan lahan bukan pilihan bijak maka petani tetap bercocok tanam seperti biasa. Itulah kebutuhan benih cenderung stabil meski ada sedikit penurunan sebab hotel, restoran, dan katering (horeka) hampir tak beroperasi.

Konsumsi rumah tangga cenderung meningkat saat pembatasan sosial.

Pesanan horeka boleh menyusut. Namun, konsumsi masyarakat secara umum tetap. Pembatasan sosial menyebabkan masyarakat beraktivitas dari rumah sehingga konsumsi rumah tangga justru meningkat. Tak heran mereka juga memilih sehat dengan lebih banyak porsi sayur dan buah. Beberapa perusahaan benih hortikultura justru meraup berkah adanya pandemi korona salah satunya PT Multi Global Agrindo (MGA).

Rakit varietas

Tren penjualan benih sayuran dan buah meningkat sepanjang 2020. Perusahaan benih yang berlokasi di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah itu mencatat peningkatan penjualan 30—40% dibandingkan 2019. Tren positif pada 2020 itu menjadi pertanda baik untuk 2021. Namun, perusahaan benih perlu merancang strategi yang tepat.
Sepanjang 2020 pasar ekspor MGA memang terpantau stabil tetapi akhir 2020 ada rekanan mancanegara mengabarkan akan mengurangi pesanan pada 2021. Tentu optimalisasi pasar domestik menjadi opsi. Setidaknya peluang peningkatan penjualan 50% dalam negeri menjadi target MGA untuk menstabilkan pertumbuhan. Melon dan cabai masih mendominasi perusahaan benih sejak 1993 itu.

Pada masa penuh tantangan seperti ini, inovasi menjadi penting. Musababnya industri benih di Indonesia cukup ramai pemain. Tercatat ada sekitar 75 perusahaan benih yang menjadi anggota Asosiasi Perbenihan Indonesia. Inovasi pokok pada perusahaan benih sejatinya ada pada riset perakitan varietas baru. Tak berlebihan bila menganggap breeding sebagai nyawa utama perusahaan benih.

Selama petani masih bercocok tanam, industri benih akan hidup.

Perusahaan benih di Indonesia yang tergabung Asbenindo, dari sekitar 75 perusahaan hanya 12 yang mempunyai unit riset perakitan varietas. Beberapa tahun belakangan, perusahaan benih sangat kompetitif dalam hal perakitan varietas. Bagaimana tidak, permintaan pasar terhadap benih unggul makin tinggi. Misalnya melon, mereka menghendaki benih yang menghasilkan produktivitas tinggi dan tahan penyakit tertentu. Rasa enak dan manis serta daya simpan lama menjadi standar mutu perakitan varietas baru.

Melahirkan varietas baru terutama hortikultura membutuhkan proses lama dan tidak sederhana. Produsen tidak sekadar merakit varietas yang memiliki skor pengujian baik tetapi juga harus diminati pasar. Itulah mengapa selain uji keunggulan dan kebenaran varietas, produsen perlu uji banding dengan benih tipe sejenis.
Meski demikian, perusahaan benih dapat meliputi unit breeding, produksi, dan pemasaran. Perusahaan dapat memilih salah satu atau semuanya sebagai kegiatan usaha. Sebagian besar perusahaan benih bergerak pada bidang pemasaran saja. Itu lumrah sebab perusahaan bisa bermitra dengan produsen benih lain atau pemerintah untuk memasok benih untuk dikemas dan dipasarkan dengan label berbeda.

Menu lebih sehat dengan porsi sayur lebih banyak.

Mutu ketat

Perusahaan tanpa unit breeding bisa berinovasi pada teknik budidaya untuk produksi benih misalnya perompesan, pemasangan ajir. Inovasi pada pemasaran salah satunya desain kemasan yang baik. Sejak pemberlakuan Undang-undang No.13 Tahun 2010 tentang Hortikultura, industri benih berkembang pesat. Sebelum ada UU Hortikultura, hanya ada 20-an perusahaan benih. Selang sepuluh tahun, terdapat 75 perusahaan benih yang eksis di Indonesia.

Benih Brassicaceae mengandalkan pasokan impor.

Persaingan yang makin ketat turut mendorong terlahirnya varietas yang tak hanya berkarakter unggul tetapi diburu pasar. Syarat mutu benih hortikultura lazimnya meliputi tingkat keseragaman 100%, kemurnian 100%, daya tumbuh minimal 90%, serta bebas hama dan penyakit.

Terlebih untuk tujuan ekspor, persyaratan bebas hama dan penyakit tertentu bergantung negara tujuan. Setiap negara punya daftar penyakit yang wajib diperiksa pada benih. Misalnya Jepang biasanya meminta bukti pengujian bebas bakteri Acidivorax citrulli penyebab bacterial fruit blotch (BFB). Pasar domestik juga mensyaratkan bebas penyakit tetapi tidak spesifik.

Ada komoditas tertentu yang belum bisa diproduksi di Indonesia misalnya famili Brassicaceae. Tanaman suku kubis-kubisan itu perlu tempat tumbuh dengan empat musim. Syarat ketat turut berlaku. Pemerintah melalui pihak karantina membatasi benih impor harus bebas hama dan penyakit.

Industri benih terutama hortikultura tumbuh dan berkembang sangat cepat. Bahkan lebih pesat daripada industri mobil. Konsumen terutama petani makin cerdas memilih produk benih. Mereka mulai bisa menilai keunggulan apa yang ada di setiap benih tanpa memandang label dan produsen. (Mulyono Herlambang, ketua kompartemen benih tanaman hortikultura Asbenindo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berniaga Bibit Buah Naga, Pekebun di Subang dapat Cuan Puluhan juta

Trubus.id—Dedi Sumardi selalu kebanjiran pesanan ribuan bibit buah naga. Total sekitar 2.480 batang bibit yang terjual dalam sebulan.  Ia...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img