Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Niño masih akan berlangsung hingga awal kuartal I 2027 dengan intensitas yang diperkirakan melampaui kategori kuat. Kondisi itu berpotensi memperparah musim kemarau 2026, terutama jika fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif aktif pada September hingga Desember 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan BMKG memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas. Upaya itu dilakukan untuk mengurangi risiko kekeringan sekaligus menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat selama puncak musim kemarau.
Menurut BMKG, hingga pertengahan Juli 2026 sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus yang mencakup 48,84% wilayah daratan, kemudian berlanjut pada September dengan cakupan sekitar 25,41%.
BMKG juga mencatat sejumlah daerah mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan durasi sangat pendek hingga panjang. Rekor HTH terpanjang mencapai 80 hari terjadi di PRH Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal, sedangkan hujan dengan intensitas tinggi baru diprediksi mulai meningkat secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.
Kondisi kemarau kering tersebut meningkatkan potensi munculnya titik panas di berbagai wilayah rawan karhutla. Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi 5.019 titik panas yang didominasi Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. BMKG mengimbau seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan menjelang puncak kemarau Agustus–September karena risiko karhutla diperkirakan paling tinggi terjadi di Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta Papua Selatan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan hasil pemantauan menunjukkan indeks Niño 3.4 pada akhir Juni mencapai 1,56. Nilai itu telah melampaui ambang batas El Niño kategori kuat. Sementara itu, suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang masih bernilai negatif menunjukkan peluang munculnya fenomena IOD Positif dalam beberapa bulan mendatang.
Meski El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027, Ardhasena menegaskan dampak terbesarnya bagi Indonesia akan terjadi ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau. Oleh sebab itu, periode Agustus hingga September menjadi fase yang perlu diwaspadai.
Untuk mengurangi dampak kekeringan dan karhutla, BMKG mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca di sejumlah daerah. Saat ini penyemaian awan dilakukan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah dengan dukungan Kementerian Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BMKG juga menyiapkan posko OMC di Pekanbaru untuk mendukung penanganan karhutla di Riau serta di Bandung untuk mengantisipasi kekeringan di Jawa Barat.
Sepanjang 2026, BMKG telah melaksanakan 17 operasi modifikasi cuaca untuk mitigasi karhutla di berbagai daerah, antara lain Aceh, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Selain itu, BMKG telah tiga kali melaksanakan OMC untuk pengisian waduk di Sumatra Utara, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah. Operasi serupa juga direncanakan di Daerah Tangkapan Air Danau Toba, Daerah Aliran Sungai Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa.
BMKG mengingatkan bahwa dampak musim kemarau tidak hanya dirasakan pada sektor kehutanan, tetapi juga pertanian, sumber daya air, energi, kesehatan, hingga perikanan. Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Pengelola sumber daya air dan energi juga perlu mengoptimalkan pengelolaan cadangan air untuk menjaga pasokan air baku dan operasional pembangkit listrik tenaga air.
Selain itu, kualitas udara berpotensi menurun akibat minimnya curah hujan sehingga meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). BMKG juga mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap perubahan pola penyebaran demam berdarah dengue (DBD), malaria, serta ancaman heat stroke saat cuaca panas ekstrem.
Di sisi lain, musim kemarau juga dapat dimanfaatkan oleh sektor perikanan dan tambak garam. BMKG menilai kondisi tersebut berpotensi mendukung peningkatan produksi garam serta memaksimalkan fenomena upwelling yang dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan di sejumlah wilayah.
