Friday, January 16, 2026

Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045 Didorong untuk Kembalikan Kejayaan Rempah Nusantara

Rekomendasi
- Advertisement -

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyambut baik peluncuran Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045 yang digagas Kementerian PPN/Bappenas. Ia menilai langkah ini krusial untuk mengembalikan kejayaan rempah Nusantara dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Mendag Busan menegaskan bahwa Kemendag sebagai sektor hilir memiliki tugas memasarkan produk, namun tantangan muncul ketika yang dipasarkan masih berupa komoditas mentah tanpa nilai tambah.

Peta jalan tersebut diluncurkan pada Rabu (10/12) di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat. Komoditas yang menjadi fokus meliputi pala, lada, cengkeh, kayu manis, vanili, dan temulawak. Hadir dalam acara antara lain Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Perdagangan Budi Santoso, serta Deputi Kemenko PMK Warsito Taruno. “Saya senang sekali ada program hilirisasi rempah karena ini membantu pemasaran. Tapi kalau yang dipasarkan masih barang mentah, ya susah,” ujar Mendag dilansir pada laman Kemendag.

Ia menyoroti pentingnya beralih dari keunggulan komparatif menuju keunggulan kompetitif. Menurutnya, jika Indonesia hanya mengandalkan komoditas mentah, negara tidak akan mampu bersaing dengan produsen besar seperti India dan Tiongkok. Hilirisasi menjadi basis pembentukan produk bernilai tambah yang mampu menembus pasar internasional. “Kalau kita sudah hilirisasi, berarti kita punya keunggulan kompetitif,” tegasnya.

Kemendag kini mendorong perdagangan rempah melalui pembukaan akses pasar lewat berbagai perjanjian dagang. Beberapa yang telah rampung antara lain Indonesia–EU CEPA, Indonesia–Canada CEPA, Indonesia–Peru CEPA, Indonesia–EAEU FTA, dan Indonesia–Tunisia PTA. Selain itu, program UMKM BISA Ekspor memfasilitasi pelaku UMKM melalui 46 perwakilan dagang di 33 negara. Kemendag juga mengembangkan Desa BISA Ekspor untuk memperkuat ekosistem ekspor berkelanjutan di desa.

Sinergi lintas kementerian juga diwujudkan melalui program Rasa Rempah Indonesia (S’RASA). Program ini mempromosikan kuliner Indonesia lewat restoran Indonesia di luar negeri serta mendorong ekspor rempah dan bumbu. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut peta jalan ini sebagai pembaruan visi perdagangan rempah yang telah ada sejak ratusan tahun. “Dulu Indonesia jadi mother of spices, tapi yang kaya negara lain. Sekarang kita ingin Indonesia berjaya kembali,” ujarnya.

Rachmat mengapresiasi peran strategis Kemendag dalam mendorong ekspor rempah. Ia menilai sektor hilir menjadi kunci optimalisasi ekosistem rempah, termasuk menjaga harga agar menguntungkan petani, pedagang, dan pengolah. Keunggulan komparatif, menurutnya, harus ditransformasi menjadi keunggulan kompetitif lewat hilirisasi. Deputi Warsito turut menekankan bahwa rempah bukan hanya komoditas, melainkan identitas bangsa.

Warsito menyampaikan apresiasi atas peluncuran peta jalan yang dianggap sebagai tonggak penting dalam mengembalikan kejayaan rempah Indonesia. Ia menegaskan bahwa keberhasilan implementasi memerlukan komitmen berbagai aktor dari hulu hingga hilir. “Rempah akan tetap menjadi jati diri kita dan harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat,” katanya.

Acara ditutup dengan sesi diskusi mengenai potensi rempah Indonesia dalam memperkuat daya saing global. Narasumber yang hadir antara lain Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid, Dewan Pakar Yayasan Negeri Rempah Eko Baroto Walujo, Ketua SSII Dippos Naloanro Simanjuntak, perwakilan PT Indesso Primatama Arianto Mulyadi, Ketua Yayasan Negeri Rempah Dewi Kumoratih, serta akademisi Universitas Khairun Ternate Nurhasanah.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img