Friday, January 16, 2026

Petani Muda, Penentu Arah Baru Pertanian Indonesia

Rekomendasi
- Advertisement -

Menurut Khairur Rizal, S.P., pendiri Farm Satria Tani Hanggawana, kondisi petani muda di Indonesia saat ini masih cukup memprihatinkan. Ia menilai masih ada stigma di masyarakat yang menganggap bertani sebagai pekerjaan yang kotor, bau, dan membuat kulit hitam. Padahal, di balik kesan itu, bertani justru menyimpan potensi besar bila dikelola dengan cara yang tepat dan memanfaatkan teknologi modern seperti Internet of Things (IoT).

Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani milenial berusia 19—39 tahun, baik yang sudah maupun belum menggunakan teknologi digital, mencapai 6.183.009 orang atau 21,93% dari total petani Indonesia yang berjumlah 28.192.693 orang.
Sementara itu, petani berusia di atas 39 tahun yang telah memanfaatkan teknologi digital tercatat sebanyak 10.595.434 orang (37,58%), dan petani berusia di bawah 19 tahun yang sudah menggunakan teknologi digital masih sangat kecil, hanya 5.612 orang (0,02%).

Angka tersebut menunjukkan bahwa proporsi petani muda di Indonesia masih rendah. Karena itu, upaya regenerasi petani menjadi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian nasional.

Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., ahli agribisnis dari Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat, menegaskan bahwa kehadiran petani muda sangat dibutuhkan dalam rantai usaha hulu hingga hilir pertanian.

“Selama ini aspek hilir banyak dikuasai perusahaan besar. Padahal, pemuda perlu terlibat di sana agar bisa mengembangkan agroindustri dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian,” jelas Iwan.

Ia menambahkan, sumber daya manusia (SDM) pertanian harus disiapkan agar UMKM agroindustri bisa tumbuh lebih luas, baik secara daring (online) maupun luring (offline). Petani muda, kata Iwan, juga perlu berperan dalam penyediaan benih, pupuk, alat dan mesin pertanian, informasi, hingga modal usaha.

Selain itu, pemuda di sektor pertanian juga bisa mengambil bagian dalam pengembangan produk, penerapan financial technology (fintech), serta strategi pemasaran yang efisien. Tujuannya agar biaya produksi tetap ekonomis, produk berumur panjang, dan memiliki daya saing tinggi.

“Pemuda tidak hanya perlu melihat peluang pasar lokal, tetapi juga harus berorientasi pada ekspor. Mereka juga bisa berperan dalam pengelolaan kelembagaan pertanian, seperti kegiatan promosi dan pengelolaan resi gudang,” papar Iwan.

Foto: Khoirur Rizal

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img