Penyakit kanker batang atau stem canker masih menjadi ancaman serius pada budidaya buah naga di Indonesia. Penyakit ini kerap terlambat dikenali karena gejala awalnya jarang disadari petani.
Jumjunidang, Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Hortikultura BRIN, menjelaskan sejumlah pemicu penyakit ini. Di antaranya sistem budidaya monokultur, penggunaan benih terinfeksi, serta pemupukan dan penyemprotan pestisida yang terlalu intensif.
Area tanam yang tercemar patogen juga menjadi penyebab utama. Kurangnya pengetahuan petani mengenai teknologi pengendalian membuat penyakit ini sering ditemukan dalam stadium lanjut.
Ia menekankan pentingnya pencegahan dan pengendalian baik pada tanaman eksisting maupun yang baru akan ditanam. Upaya ini mencakup sanitasi lahan, pemantauan rutin, dan perlakuan tepat sejak dini.
Untuk tanaman yang sudah terinfeksi, langkah utama adalah pemangkasan dan pemusnahan bagian bergejala. Selanjutnya, penyemprotan fungisida dilakukan secara selektif menggunakan bahan seperti bubur bordo, karbendazim, atau sereh wangi.
Sementara itu, tanaman baru sebaiknya berasal dari benih sehat dan tidak ditanam di lahan bekas yang endemis. Lingkungan sekitar juga harus terbebas dari tanaman sakit serta dijaga kecukupan hara dan airnya.
Monitoring harus dilakukan secara ketat agar gejala awal bisa segera ditangani. Penyemprotan fungisida minimal sebulan sekali juga menjadi langkah preventif yang disarankan.
“Sebenarnya, cara paling efektif adalah penggunaan tanaman tahan,” kata Jumjunidang dilansir pada laman BRIN. Namun, hingga kini belum ditemukan varietas buah naga yang tahan terhadap stem canker.
BRIN telah menguji sembilan klon buah naga yang umum dibudidayakan di Indonesia. Hasilnya, semua klon tersebut ternyata sangat rentan terhadap penyakit ini.
