Riset BRIN Perkuat Produksi Benih Bawang Putih Sehat dan Bermutu

Rekomendasi
- Advertisement -

Ketersediaan benih bawang putih yang sehat dan bermutu menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas bawang putih nasional. Selama ini, petani masih mengandalkan siung bawang sebagai benih melalui perbanyakan vegetatif. Cara tersebut berisiko mempertahankan bahkan mengakumulasi virus dan patogen lain dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga mutu benih serta hasil panen terus menurun.

Untuk mengatasi persoalan itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Hortikultura bersama Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan teknologi produksi benih bawang putih sehat dan bermutu. Penelitian tersebut menjadi bagian dari Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS) bertajuk Pengembangan Varietas Unggul Bawang Putih Umbi Besar dan Adaptif Suhu Tinggi.

Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN sekaligus penanggung jawab PRIS bawang putih, Dwinita Wikan Utami, mengatakan teknologi produksi benih sehat diperlukan agar keunggulan varietas hasil pemuliaan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

“Kita memerlukan teknologi eliminasi virus yang efektif, mudah diterapkan, dan terjangkau sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh produsen benih maupun petani untuk menjaga mutu bahan tanam,” ujarnya pada Jumat (31/7).

Penelitian ini berfokus pada eliminasi virus yang terbawa melalui bahan tanam bawang putih. Tim peneliti mengembangkan metode eliminasi virus, merancang prototipe alat eliminasi virus, serta menguji pengaruh perlakuan tersebut terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Menurut Dwinita, pengembangan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi bawang putih nasional sekaligus mendukung upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih.

Dalam riset tersebut, tim juga mengidentifikasi keberadaan virus pada bahan tanam bawang putih. Pakar virologi tumbuhan Fakultas Pertanian UGM, Sedyo Hartono, mengungkapkan hasil pengujian mendeteksi infeksi ganda Onion yellow dwarf virus (OYDV) dan Shallot latent virus (SLV) pada sekitar 80 persen sampel.

Sampel berasal dari umbi benih, umbi konsumsi, serta daun yang bergejala maupun tanpa gejala dari Enrekang, Magelang, Temanggung, Tawangmangu, dan Yogyakarta. Temuan tersebut menunjukkan bahwa infeksi virus cukup luas pada bahan tanam yang beredar.

Sedyo menjelaskan gejala infeksi virus tidak selalu tampak jelas di lapangan. Dampaknya kerap tertutupi oleh serangan penyakit lain, terutama yang disebabkan jamur.

Ia menambahkan, penelitian lanjutan akan mengukur efektivitas perlakuan dalam menurunkan titer virus sekaligus mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan ketahanan tanaman terhadap penyakit lain.

Meski demikian, hasil tersebut masih terbatas pada sampel yang diuji. Karena itu, diperlukan survei yang lebih luas untuk memetakan penyebaran virus di berbagai sentra produksi bawang putih di Indonesia.

Riset eliminasi virus direncanakan berlangsung selama dua tahun. Pada tahap awal, penelitian difokuskan pada validasi metode dan pengembangan prototipe alat eliminasi virus skala laboratorium, sedangkan tahap berikutnya menguji respons tanaman hasil eliminasi di lapangan serta mendorong pengembangan alat bersama mitra industri agar dapat dimanfaatkan oleh produsen benih.

Selain mengembangkan teknologi eliminasi virus, PRIS bawang putih juga menargetkan lahirnya varietas bawang putih berumbi besar dari tipe softneck dan hardneck, varietas yang adaptif di dataran menengah, teknologi pematahan dormansi, basis data plasma nutfah berbasis fenotipe dan genotipe, serta standar operasional produksi benih sehat dan bermutu.

Seluruh hasil riset tersebut akan diuji untuk mendukung pengembangan kawasan bawang putih, termasuk di Kawasan Swasembada Pangan, Air, dan Energi (KSPAE) Humbang Hasundutan, Sumatra Utara.

Melalui integrasi riset pemuliaan varietas, deteksi dan eliminasi virus, pengelolaan kesehatan tanaman, hingga produksi benih sehat, BRIN berharap dapat memperkuat sistem perbenihan bawang putih nasional. Program ini juga melibatkan IPB University, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi Del sebagai bagian dari kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan riset bawang putih di Indonesia.

Artikel Terbaru

Herbal Pendamping untuk Membantu Pemulihan Hepatitis

Pola hidup bersih dan sehat menjadi langkah utama untuk mencegah hepatitis. Selain itu, sejumlah tanaman herbal juga kerap dimanfaatkan...

More Articles Like This