Saturday, January 17, 2026

Petasol, Inovasi BBM dari Sampah Plastik Asal Banjarnegara

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id– Sampah kantong plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai, kini berhasil diubah menjadi bahan bakar minyak (BBM) setara Pertamina Dexlite. Inovasi ini lahir dari tangan-tangan kreatif di Bank Sampah Banjarnegara (BSB) melalui teknologi fast pyrolysis 5.0, atau Faspol 5.0.

Melansir pada laman BRIN Ketua Divisi Produksi Faspol 5.0 BSB, Endi Rudianto, mengungkapkan bahwa pengolahan sampah plastik menjadi BBM telah dimulai sejak munculnya keprihatinan akan melimpahnya sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Bersama rekan-rekan di BSB, ia memulai proses awal dengan membuat minyak bakar untuk kompor sumbu.

Namun, pergeseran kebijakan energi ke arah penggunaan kompor gas membuat penggunaan minyak bakar semakin ditinggalkan. Situasi ini justru memicu inovasi lebih lanjut hingga terciptanya katalis yang mampu menghasilkan bahan bakar diesel berkualitas tinggi dari plastik.

Foto: Dok. BRIN

BBM hasil olahan ini diberi nama Petasol dan dihasilkan melalui proses pembakaran kantong kresek yang kemudian ditreatment dengan katalis buatan sendiri. Endi menyebut, bahan baku plastik yang digunakan berasal dari plastik yang tidak memiliki nilai ekonomi.

BSB saat ini memiliki mesin pengolah berkapasitas 200 kilogram sampah plastik, yang dapat menghasilkan 170–180 liter Petasol. Tingkat efisiensi produksinya bervariasi tergantung kondisi sampah, dengan rata-rata hasil 70 hingga 80 persen dari berat awal.

Petasol telah digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menggerakkan mesin pertanian dan kendaraan bermotor. Inovasi ini terbukti memberi manfaat langsung dalam mendukung kebutuhan energi lokal.

Selain menciptakan teknologi Faspol 5.0, Endi dan timnya juga mengembangkan mesin pembakar sampah sederhana yang telah digunakan di lebih dari 50 lokasi di Indonesia. Untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan penggunaan, setiap distribusi mesin disertai pelatihan bagi operator.

Kolaborasi dengan BRIN dimulai sejak 2022 untuk memastikan standar mutu Petasol melalui uji laboratorium dan uji termodinamika kendaraan. Hasil pengujian menyatakan bahwa Petasol memenuhi standar bahan bakar setara solar B0.

Produk Petasol telah memperoleh sertifikat Hak Cipta, dan teknologi Faspol 5.0 sudah memiliki tanda daftar paten dari Ditjen Kekayaan Intelektual. Validasi mutu juga dilakukan oleh BRIN, Lemigas, dan Universitas Diponegoro.

Tri Martini, Peneliti Ahli Utama BRIN, menyampaikan bahwa biaya produksi Petasol sekitar Rp6.160 per liter dengan harga jual yang direkomendasikan sebesar Rp9.700. Artinya, terdapat keuntungan Rp3.540 per liter yang bisa dibagi antara pengelola dan masyarakat.

Hasil analisis BRIN menunjukkan bahwa investasi mesin kapasitas 50–100 liter dapat kembali dalam waktu 1,5 tahun. Selain itu, rasio manfaat terhadap biaya sudah melebihi angka satu, sementara rasio pendapatan terhadap biaya bahkan mencapai lebih dari dua.

Tri menekankan pentingnya replikasi kegiatan ini di wilayah pedesaan. Hal tersebut diyakini dapat mendukung kemandirian energi petani dan nelayan untuk alat kerja mereka sehari-hari.

Jika dikembangkan secara berkelanjutan, inovasi Petasol bisa menjadi pendorong tercapainya kemandirian energi desa. Dalam jangka panjang, hal ini akan ikut memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img