Di ujung malam itu 5 juri dengan mantap bergiliran menancapkan bendera ke setiap kontestan. Mawar, anis merah andalan Tim Bandung akhirnya mendapat gelar terbaik di kelas sekar kedaton. Ia mengantarkan tim asal kota kembang itu sebagai juara umum dengan poin 1.475. Piala bergilir Hamengkubuwono X pun kembali jatuh untuk ke-3 kali ke tangannya.
Tim Bandung (TB) memang pantas menjadi raja kontes di piala raja. Sejumlah 20 burung klub asal Bumi Parahyangan itu meraih prestasi terbaik. Keberhasilan itu berkat sederetan burung top, seperti Hoki, Leo, Bison, Halilintar, Piknik, Petir, Beku, Taruntung, Batigol, Escudo, dan Mawar.
Sejak awal hingga acara berakhir, TB mendominasi jalannya lomba. Tim Bali All Star dan Kusmin Jepara tak mampu menandingi burung andalan TB. Hanya Tim Jayakarta (TJ) selalu membayangi TB dalam pengumpulan nilai. Sayang, dewi fortuna belum berpihak pada tim yang dikomandoi Huzaidin itu. TJ menduduki posisi runner up dengan poin 1.425.
Ramai
Kontes piala raja menjadi agenda hobiis di seantero nusantara setiap tahun. Hanya klub burung ternama dari berbagai daerah yang berdatangan untuk memperebutkan piala bergengsi itu. Mereka rata-rata menurunkan burungburung juara. Tak ayal, persaingan antarburung pun semakin ketat.
Lapangan A adalah arena anis merah maharaja paling ramai. Maklum, peserta di kelas itu terbanyak sehingga dibagi menjadi dua babak penyisihan. Terpilih 15 burung terbaik di masing-masing babak untuk ikut fi nal. Di situ tampak Tero, andalan tim Top Song asal Klaten, Jawa Tengah. Ada lagi Valium di gantangan 10. Di sisi lain terlihat Taruntung.
Tero akhirnya meraih juara I, disusul Valium di runner up. Sementara Taruntung puas di urutan ke-3. Meski kalah, Taruntung malah unggul di kelas anis merah prameswari B dengan menyabet juara II dan juara III di kelas mataram B. Kemenangan itu menambah poin yang dikumpulkan TB.
Bersaing ketat
Persaingan ketat pun terjadi di kelas cucak hijau maharaja. Di sana ada Hoki milik Kiki Hoki dari TB yang mendapat perlawanan dari Jamrud andalan Sin Ronny asal Surabaya dan Madonanya Diyan dari Malang. Keduanya dari Jawa Timur. Sejak awal mereka mendominasi jalannya lomba. Namun, memasuki menitmenit menjelang kontes selesai, Hoki langsung melantunkan suara merdunya. Tak ayal, juri pun menunjuknya sebagai juara I. Jamrud pada urutan ke-2, disusul Madona.
Mental bertanding Hoki kembali diuji ketika bertanding di kelas cucak hijau prameswari. Juara I kembali direngkuh burung jagoan bos garmen di Bandung, Jawa Barat, itu. Saingannya, Mahameru dari New Join AB asal Yogyakarta dan Vibrator andalan Bali All Star akhirnya tak mampu melawan keperkasaan Hoki. Namun, nasib kurang bagus menimpanya ketika turun di kelas mataram. Ia harus mengaku keunggulan Cincai dari TJ sehingga melorot di urutan ke-2.
Menjelang sore, suasana kontes kian memanas ketika digelar anis merah sekar kedaton. Mawar milik H Irawan dari TB bersaing ketat dengan Peterpennya Sin Ronny. Sejak digantang keduanya sudah menunjukkan pamor sebagai burung juara. Lima juri yang menilai pun ekstra hati-hati menancapkan bendera. Pertarungan itu akhirnya dimenangkan Mawar.
Menang 20 kali
Kemenangan Mawar memastikan TB sebagai juara umum di piala raja ke- 3. Sorak-sorai dari tim berkaos kuning membahana di lapangan A. “Target juara umum akhirnya kembali direbut. Persaingan antarburung sangat ketat. Untungnya, burung andalan kami kerja maksimal,” kata Joko Irianto, ketua TB sambil menenteng piala kebanggaan.
Wajar kalau TB meraih juara umum. Setidaknya 20 kelas lomba disabet jagoannya. Sementara TJ dari Jakarta yang selalu bersaing ketat hanya 15 kali memetik kemenangan. Dengan poin 1. 425 TJ harus puas di posisi ke-2. “Beberapa gelar yang diandalkan untuk mendapat poin malah lepas. Ada beberapa burung yang diunggulkan gagal ikut ke kontes lantaran mabung,” ucap Huzaidin, ketua TJ.
Sementara juara umum perorangan diberikan pada Sin Ronny yang mengantongi nilai 600. Jumlah itu jelas meninggalkan Achun Owen asal Tangerang, Banten, sang runner up yang hanya mendapat nilai 325. Sukses itu terulang kembali setelah meraih juara umum di piala Gamako Cup X di Jakarta, 2 bulan sebelumnya.
Agenda rutin
Kontes piala raja yang digelar di pelataran candi Prambanan, Yogyakarta itu berlangsung meriah. “Kontes itu sudah menjadi agenda rutin setiap tahun. Ini untuk ke-3 kalinya digelar setelah sukses di tempat sama setahun silam. Kontes perdana diadakan di lapangan Ambarukmo pada 2002,” kata Budi Harjo, ketua panitia.
Lomba memperebutkan piala bergilir Raja Hamengkubuwono X menjadi salah satu ajang bergengsi di tanah air. Tak heran, bila peserta dari seluruh kota di Jawa dan Sumatera turut memeriahkan jalannya acara. Menurut catatan panitia, setidaknya 2.500 tiket yang disediakan ludes. “Empat blok berkapasitas 60 burung penuh,” ujar salah satu personil ABC Bird Club di Yogyakarta itu.
Burung penangkaran pun semakin banyak diikutkan ke lomba. Buktinya, kelas anis merah dan murai batu diikuti sekitar 40 ekor. “Jumlah ini 2 kali lipat daripada kontes setahun silam. Itu berarti burung tangkaran semakin banyak,” kata Budi. (Nyuwan SB)
