
Pisang barangan—pisang manis berdaging pulen yang populer di Medan, Sumatera Utara—lazimnya berkulit burik dengan bentuk agak tidak beraturan. Semula orang menganggap itu memang “bawaan lahir” Musa parasidiaca itu. Padahal sebenarnya tidak. “Burik dan malformasi disebabkan serangga Nicoleia octatema,” kata Dr I Djatnika, mantan kepala Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok, Sumatera Barat. Selain burik dan malformasi, hama itu juga menjadi perantara penyakit layu bakteri.
Untuk menangkalnya, pisang mesti dibungkus. Namun pembungkusan terlambat malah membuat ngengat berkembangbiak di dalam sehingga menyebabkan lebih banyak kerusakan. “Bungkus saat seluruh buah terbentuk dan jantung sudah dipotong,” kata Kasem Usman, pekebun di Lampung. Saat itu ukuran pisang kira-kira sebesar jempol orang dewasa. Usman menggunakan kertas semen untuk membungkus barangan.
Kelebihannya, kertas semen berpori sehingga tidak merusak warna kulit buah. Kelemahannya, masa pakai singkat lantaran kertas semen lapuk saat kehujanan. Namun, keuletannya kembali saat kertas kembali kering. Masalah utama sebenarnya kertas semen tidak transparan sehingga kondisi buah sulit terpantau. Untuk itu dianjurkan menggunakan plastik pembungkus yang transparan dan berpori sehingga buah mulus dan tetap cantik.***
