
TRUBUS — Perlukaan pada batang semu menyebabkan pisang berbuah di tengah batang. Bentuk dan ukuran pisang sama serta rasanya tetap enak serupa dengan tanaman tanpa perlakuan.
Budi Riyanto hanya berdiri di atas tanah untuk memanen pisang raja bulu yang berbuah setinggi dada orang dewasa pada Mei 2021. Lazimnya pekebun mesti menggunakan tangga untuk menuai pisang raja bulu yang tinggi tanamannya mencapai lebih dari 2,5 m. “Saya tidak memotong satu tandan pisang, hanya memanen sisir yang pisangnya masak,” kata warga Desa Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu.
Ia membiarkan buah Musa paradisiaca itu matang alami. Cara panen Budi itu juga tidak lazim. Pekebun lainnya pasti memotong tandan pisang tua. Bukan per sisir. Kemudahan Budi memanen lantaran tanaman pisang raja bulu berbuah di bagian tengah batang, bukan di pucuk. Oleh karena itu, posisi buah lebih rendah ketimbang pisang sejenis. Padahal, pertumbuhan pisang itu normal, tinggi tanaman sekitar 2,5 m.
Pisang unik
Pisang kepunyaan Budi pun keluar dari gedebok atau batang pisang. Bunga pisang muncul di tengah batang semu. Sementara pisang sejenis biasanya berbuah di ujung batang semu. “Semula saya beri nama pisang naga karena tangkainya panjang. Tapi pengunjung tidak antusias. Setelah namanya diganti menjadi pisang mbrojol (dalam bahasa Jawa bermakna lahir, red), pengunjung lebih tertarik,” kata pria berumur 47 tahun itu.
Budi tidak memanen tandan pisang agar masyarakat dapat berfoto di dekatnya. Harap mafhum, lokasi pisang mbrojol berada di salah satu objek wisata bernama Taman Teratai Biru Kali Opak. Pemberitaan di televisi dan media sosial menaikkan pamor pisang mbrojol. Tidak heran banyak masyarakat Bantul dan sekitarnya berkunjung untuk memotret tanaman unik itu.

Sebetulnya Budi pun heran ketika kali pertama menjumpai bunga pisang muncul dari gedebok. Setelah berdiskusi dengan teman, ia menyimpulkan hal itu terjadi karena pisang tertancap besi sepekan sebelumnya. Saat itu Budi menancapkan besi di batang pisang untuk menggantung jaring. Tidak disangka muncul bunga pisang. Berselang dua hingga tiga bulan ia memanen enam sisir pisang raja.
Cita rasa relatif sama dengan buah normal. Sebelum pisang itu panen, Budi dan rekan menusuk lima tanaman pisang berjenis raja, ambon, dan kepok memakai potongan bambu hingga tembus. Tujuannya agar keberadaan pisang mbrojol tetap ada setelah yang sebelumnya dipanen. “Satu tanaman pisang berjenis kepok yang berhasil, sisanya keluar daun,” kata ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Teratai Biru Kali Opak itu.
Saat Trubus berkunjung pada awal Juni 2021, pisang kepok sudah dipanen. Yang ada pisang mbrojol jenis raja.
Respons fisiologis
Ada daun pisang yang menyertai keluarnya buah. Biasanya hanya buah. Penyuluh pertanian Kapanewon Piyungan, Sudarminto, S.T.P., menuturkan belum pernah melihat pisang berbuah seperti itu. “Pisang mbrojol berbeda dengan pisang normal. Hasil panen lebih maksimal yang berbuah di atas. Namun, pisang mbrojol secara estetika bagus untuk menarik orang berkunjung,” kata Darminto, sapaan akrab Sudarminto.
Pastikan tanaman pisang sudah memasuki masa generatif jika ingin dibuahkan di tengah batang semu. Cirinya antara lain adanya daun berukuran lebih kecil. Ukuran batang yang relatif besar juga menandakan pisang siap berbuah.
Namun, hal itu tidak bisa dijadikan patokan utama. Musababnya kesuburan tanah berbeda. Bisa saja tanaman masih tahap vegetatif berbatang lebih besar. Jika tanaman seperti itu ditancap bambu, yang keluar bukan bunga pisang, tapi daun. Perlu pengamatan dan pengalaman agar bisa menentukan pisang memasuki fase generatif.
Darminto tidak menyarankan menggunakan teknik itu untuk penanaman pisang skala komersial. Alasannya memengaruhi kapasitas produksi kebun. Menurut peneliti bidang botani di Balai Konservasi Tumbuhan (BKT), Kebun Raya Purwodadi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Lia Hapsari, S.P. M.Si., pisang mbrojol merupakan respons fisiologis tanaman terhadap stres lingkungan.
Kejadian itu disebut juga tersedak atau choke throat. Dalam hal ini besi yang tertancap di batang semu termasuk induksi stres pada tanaman. Dampaknya perbungaan yang seharusnya muncul di ujung batang semu, malah timbul di dekat perlukaan itu. “Buah bisa normal atau mendekati normal karena waktu penusukan tanaman menjelang berbuah. Artinya energi tanaman memang sudah cukup untuk berbuah,” kata magister Biologi Konservasi alumnus Universitas Brawijaya itu. (Riefza Vebriansyah)
