
Budidaya pisang menguntungkan sehingga kebun-kebun pisang baru bermunculan di berbagai daerah.
TRUBUS — Wajah Calim semringah lantaran harga pisang raja nangka sekitar Rp3.500 per kg pada Juni 2019. Kebun Calim seluas dua hektare menghasilkan sekitar 30 ton pisang sehingga mendapatkan omzet Rp105 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi, warga Desa Kedungneng, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu mengantongi laba bersih Rp55 juta. “Pisang raja nangka dipanen sekitar 12 bulan setelah penanaman,” kata Calim.
Dengan kata lain, ia memperoleh penghasilan Rp2,29 juta setiap bulan dari perniagaan buah Musa sp. Pengepul hasil pertanian di Desa Kedungneng, Kliwon, mengatakan, sebetulnya lebih menguntungkan membudidayakan pisang daripada padi. Alasannya sawah di sana hanya menghasilkan 4—5 ton padi per hektare. Harga padi Rp4.200—Rp4.500 per kg sehingga petani memperoleh omzet sekitar Rp21 juta/ha. Tidak heran jika banyak bermunculan kebun-kebun pisang baru setiap tahun di Losari.
Keuntungan bisa lebih tinggi jika menanam pisang raja bulu. Harga pisang itu lebih tinggi sekitar Rp1.500 ketimbang raja nangka. Pekebun pisang di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Dr. Murtono, M.Pd., mengatakan propsek bertani pisang cerah. Salah satu alasannya menanam pisang satu kali, tapi bisa panen seterusnya dari tunas baru. “Setiap tanaman menghasilkan 3—5 tunas,” kata pekebun pisang sejak 2019 itu. Apalagi tunas pisang itu bisa dijual setelah penanaman tahun kedua. Otomatis pendapatan petani pisang pun bertambah. (Riefza Vebriansyah)

