Monday, August 8, 2022

Aral Pisang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Purniasih masygul melihat 1.000 tandan pisang raja nangka miliknya membusuk di lahan 7.096 m2 (1 bau) pada Juni 2021. Jika harga pisang normal Rp3.000 per kg, Purniasih merugi minimal Rp30 juta. Satu tanaman minimal menghasilkan pisang berbobot 10 kg. Warga Desa Kedungneng, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu gagal panen karena menunggu antrian panen. Bukan karena serangan hama dan penyakit (HPT).

Sebetulnya Purniasih tidak sendirian. Puluhan pekebun di Desa Kedungneng mengalami nasib serupa. Pengepul aneka hasil pertandian di Desa Kedungneng, Kliwon, terpaksa memberlakukan sistem antrean untuk pemanenan pisang. Alasannya banyak pisang yang dipanen, tapi volume penjualan menurun drastis. Selain itu, tiga pengepul lainnya berhenti mengambil pisang karena banyak pasar tutup akibat pandemi korona. Alhasil pekebun pisang di empat desa menggantungkan harapan mereka kepada Kliwon.

Saat ini pengepul hasil pertanian sejak 1990 itu rutin mengirim sekitar tujuh ton pisang ke pabrik keripik skala rumah tangga di Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Sebelumnya Kliwon menjual hasil panen ke pasar di Bandung, Jawa Barat. Yang paling menyedihkan harga pisang raja nangka di Desa Kedungneng terjun bebas hingga Rp1.000 per kg sejak medio Mei 2021 hingga kini. “Biasanya harga pisang tidak turun. Selama ini harga terendah pisang Rp2.500—Rp3.000 per kg,” kata pria berumur 55 tahun itu. Ini kejadian kali pertama dalam kurun tiga dekade terakhir.

Pisang membusuk di kebun di Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, karena menunggu antrian panen akibat lesunya penjualan dan harga anjlok. (Foto : dok. Trubus)

Kliwon menduga pasokan pisang dari Pulau Sumatra yang melimpah memicu turunnya harga pisang. Penyuluh pertanian di Desa Kedungneng, Cardi, S.P, menyarankan adanya industri pengolahan pisang raja nangka untuk mengantisipasi panen raya. Selain harga, tantangan berkebun họ chuối—sebutan pisang di Vietnam—yakni serangan HPT terutama layu fusarium. Lebih dari seratus tanaman pisang Calim terserang penyakit itu setiap musim tanam. Potensi kerugian pekebun pisang sejak 2011 di Desa Kedungneng iitu minimal Rp4,5 juta per hektare (Baca atasi fusarium halaman). Tantangan teratasi, laba maksimal pun diraih. (Riefza Vebriansyah)

Previous articlePasar Besar Pisang
Next articleLaba Pasang Tanam Pisang
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img