Wednesday, January 28, 2026

Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Berpotensi Cegah Penyakit Karat Puru Pada Sengon

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Benjolan seperti kanker pada batang atau ranting sengon (Paraserianthes falcataria) salah satu ciri tanaman terserang karat puru. Menurut Prof. Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr., karat puru, penyakit penting pada sengon saat ini.

“Kalau menyerang pada batang utama, kayu tak bisa digunakan lagi. Kalau serangan pada titik tumbuh, tanaman tidak dapat berkembang. Kalau menyerang ranting, translokasi nutrisi, hara, dan fotosintat terhambat,” ujar dekan Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), itu.

Cendawan Uromycladium tepperianum penyebab karat puru kerap berulah menyerang tanaman anggota famili Fabaceae itu. Celakanya gall rust alias karat puru tidak pandang bulu menyerang tanaman sengon. Artinya dapat menyerang sejak di persemaian hingga tegakan besar.

Cendawan itu menunggang angin sehingga berkembang biak amat cepat. Salah satu upaya untuk mencegah karat purut yakni dengan menggunakan plant growth promoting rhizobacteria (PGPR).

Penelitian mahasiswa bimbingan Suryo Wiyono yakni Aris Pracoyo dari Fakultas Pertanian, IPB, membuktikan, penggunaan PGPR efektif mencegah penyakit karat puru pada sengon.

Hasil riset menunjukkan, PGPR plus NPK dengan perbandingan 1:50 menekan kejadian penyakit karat puru hingga 43,48% dan menekan keparahan penyakit hingga 42,28%. Sementara fungisida hanya mampu menekan kejadian penyakit 26,54% dan menekan keparahan penyakit 34,39%.

Menurut Suryo PGPR yang mengandung Pseudomonas fluorescens dan Bacillus polymyxa berguna meningkatkan daya tahan (imunitas) sengon. Ia mengibaratkan hal itu seperti vaksin Covid-19 pada manusia.

“Tanaman kita berikan vaksin berupa PGPR,” ujar dosen di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB, itu.

Lalu bagaimana penanganan pada tanaman yang sudah terlanjur terserang? Periset di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Karti Rahayu Kusumaningsih dan Isnaya Fatul Bagaskara, meriset kombinasi kapur, belerang, dan air dengan perbandingan 1:1:10. (Lihat ilustrasi: Atasi Karat Puru).

Objek penelitian berupa tegakan sengon berumur 2 tahun yang terserang karat puru di Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Periset mengolesi batang tanaman terserang dengan larutan itu. Frekuensi pelaburan empat kali dengan interval lima hari. Jika terdapat cendawan yang masih tumbuh saat penelitian, Karti dan tim mengerok lalu menyimpannya di kantong plastik.

Selanjutnya peneliti menimbang untuk mengetahui bobot akhir cendawan setelah tanaman mendapatkan perlakuan. Hasil riset menunjukkan bahwa kombinasi belerang, kapur, dan air mengurangi bobot cendawan hingga 80%. Artinya setelah pohon diberi perlakuan, cendawan yang tumbuh hanya 20%.

Peneliti di Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Neo Endra Lelana, S.Si, M.Si., menuturkan, penggunaan belerang, kapur, dan air memang dapat menekan serangan karat puru. Namun, pengendalian itu kurang efisien pada tanaman yang tua (lebih dari dua tahun).

Penggunaan belerang efektif dan efisien pada bagian-bagian pohon yang terjangkau petani dan tanaman muda. Suryo Wiyono menuturkan hal senada.

Pengendalian karat puru pada sengon masih bisa menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb atau belerang. Ia menyarankan untuk melakukan tindakan preventif dalam mengendalikan karat puru.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img