Trubus.id—Masalah sampah plastik masih menjadi ancaman berbahaya. Pasalnya, plastik yang terbuat dari polimer sintetis baru terurai dalam waktu puluhan hingga ratusan tahun. Jika dibakar, plastik menghasilkan emisi karbon yang mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 2022, total timbulan sampah di Indonesia sebanyak 69,2 juta ton.. Sebanyak 18,12 persen di antaranya merupakan sampah plastik.
Melihat masalah yang kian memprihatinkan itu, pemuda asal Bali, Kevin Kumala, berkreasi membuat bioplastik berbahan baku singkong. Menurut Kevin umbi (Manihot esculenta) tersedia melimpah dan harganya lebih murah.
Ia memproduksi bioplastik dari pati singkong yang dicampur dengan minyak sayur dan bahan-bahan nabati lain. Bioplastik itu terurai di tanah hanya dalam 90 hari. “Bioplastik yang sudah terurai dapat menjadi pupuk kompos bagi tanaman,” kata Kevin.
Keunggulan lain bioplastik itu juga mudah larut jika diaduk dalam air hangat. Dalam beberapa tahun terakhir, produsen bioplastik bermunculan seiring maraknya isu bahaya plastik bagi lingkungan. Produk itu beranama Avani eco.
Produsen yang berlokasi di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten PT Mogallana Plastik yang juga memproduksi kantong bioplastik bermerek Telobag. Produsen bioplastik itu memproduksi kantong nabati untuk keperluan rumah tangga, institusi komersial, dan industri di dalam negeri dan mancanegara.
Mogallana juga menggunakan pati dari singkong untuk bahan baku bioplastik.Umbi tanaman anggota famili Euphorbiacae itu mengandung karbohidrat cukup tinggi, yakni 34,7—37,9%. Singkong sebagian besar diolah menjadi bahan baku industri tapioka.
Tapioka dan limbah berupa kulit singkong juga dapat digunakan sebagai bahan baku bioplastik. Rendemen tapioka ubi kayu berkisar antara 15—25%.Sayangnya jumlah produsen bioplastik masih terbatas karena permintaan di dalam negeri rendah.
Itulah sebabnya sebagian besar permintaan bioplastik yang mengalir ke Kevin datang dari luar negeri. “Kami mengekspor bioplastik hingga 26 negara,” tutur Kevin. Sebagian besar masyarakat lebih suka menggunakan kantong plastik konvensional karena harganya lebih murah.
Perlu tingkat kesadaran yang tinggi tentang bahaya plastik agar masyarakat mau beralih menggunakan kantong bioplastik.
