Solusi atas gangguan kesehatan selama puasa.
“Ramadan bulan penuh kemuliaan dan keutamaan,” kata Maulani Pangestu yang gembira menyambut Ramadan. Sekadar contoh, Lani menyebutkan pada sepuluh hari terakhir Ramadan terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Karena keistimewaan itu, rasanya sayang bila melewatkan puasa meski sehari. Namun, Lani kerap mendapat gangguan kesehatan saat berpuasa.

Tenant relation officer di sebuah agen properti di Jakarta Selatan itu mudah terserang batuk saat berpuasa. Itu akibat ia terlalu banyak mengonsumsi aneka gorengan. Harap mafhum, tahu isi, bakwan, atau risol merupakan hidangan wajib buka puasa di rumahnya. Lani merasakan gejala gatal di tenggorokan saat tarawih dan keesokan hari pun batuk. Kalau sudah begitu, alumnus Sastra Inggris Universitas Negeri Jakarta itu sulit tidur, lalu bangun tidur tak bertenaga dan merasakan sakit hebat di tenggorokan.
Konsumsi kurma
Menurut dr Agung Widianto, SpB-KBD, asupan makanan dan minuman memang harus menjadi perhatian saat berpuasa. Sebaiknya menghindari makanan pedas dan masam karena dapat menjadi pencetus diare dan gangguan pencernaan lain seperti mag. Dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif di Rumahsakit dr Sardjito itu menyatakan kedua gangguan pencernaan itu paling sering terjadi saat puasa.
“Pasien yang mengalami sakit itu umumnya belum melaksanakan puasa secara benar,” kata Agung. Puasa sejatinya mengajarkan manusia untuk menahan diri dan tidak berlebihan, termasuk dari pikiran dan niat makan serta minum. Saat berbuka kebanyakan orang langsung melahap makanan dalam porsi besar. Akibatnya perut langsung penuh hingga kadang badan tak sanggup berdiri.
Hadis yang di riwayatkan Abu Daud dan At Tirmizi, mencatat Nabi Muhammad saw bersabda, “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci”. Makan besar—berupa nasi beserta lauk pauknya—dianjurkan setelah menunaikan shalat Isya dan tarawih.
Atau sekitar 2—3 jam kemudian. Dengan cara itu perut terisi makanan secara bertahap dan tidak menyebabkan rasa kenyang berlebihan. Anjuran nabi cukup menyantap kurma saat berbuka puasa ternyata berdasar ilmiah. Penelitian Endang Sri Sunarsih, dosen dan peneliti dari Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang, membuktikan kurma meningkatkan kadar gula darah orang yang berbuka puasa 2 jam kemudian secara bertahap.

Para ahli gizi pun sepakat. Mengonsumsi kurma ibarat mengonsumsi energi cepat saji. “Itu karena kurma mengandung zat gula tinggi yang mudah dicerna sehingga mampu menyediakan energi yang cukup bagi sel-sel tubuh yang kelaparan selama berpuasa secara cepat,” tutur Prof Ali Khomsan, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Dengan begitu kondisi tubuh yang lemas karena puasa cepat segar kembali.
Selain untuk berbuka, kurma juga baik dikonsumsi saat sahur. Dalam hadis lain yang diriwayatkan Abu Hurairah, disebutkan nabi bersabda, “Sebaik-baik sahurnya orang mukmin adalah kurma.” Menurut direktur jenderal Yayasan Nutrisi Inggris, Dr David Conning, tubuh menyerap segelas air yang mengandung glukosa dalam 20—30 menit. Sementara, gula yang terkandung dalam kurma baru habis terserap dalam tempo 45—60 menit. Itu sebabnya orang yang makan banyak kurma pada waktu sahur lebih segar dan tahan lama.
Buah kurma Phoenix dactylifera juga terbukti kaya nutrisi seperti karbohidrat, serat, vitamin esensial, dan mineral. Selain itu kurma mengandung antosianin, fenol, sterol, karoten, procyanidin, dan flavonoid yang merupakan sumber antioksidan. Menurut Ali Khomsan, kandungan mineral dan vitamin dalam makanan yang kita santap membantu membangun sistem imunitas tubuh. (Eny Pujiastuti)
