Saturday, January 17, 2026

Pusat PVTPP Dorong Pengembangan Hoya Yogyakarta Mendunia

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id–Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (Pusat PVTPP) Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya mendorong pengembangan dan pelestarian Hoya Yogyakarta. Musababnya memiliki nilai budaya lokal sekaligus potensi besar dalam mendukung ekonomi nasional dan internasional.

Kepala Pusat PVTPP Kementan, Leli Nuryati, mengungkapkan bahwa hoya memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Terutama melalui pengembangan varietas untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

“Potensi hoya sangat besar dalam menggerakkan perekonomian. Saat ini kami menunggu pendaftaran 40 varietas hoya lainnya oleh perkumpulan pelestari hoya yang berbasis di Yogyakarta,” ujar Leli dilansir pada laman PVTPP

Pelestari hoya, Hervia, menyatakan bahwa Hoya Yogyakarta merupakan salah satu tanaman yang diminati di berbagai negara. Ia menyebut proses pendaftaran varietas tanaman ini membutuhkan penelitian yang mendalam dan waktu yang tidak singkat.

“Konservasi tanaman hoya sudah berlangsung selama puluhan tahun. Tangkai bunga baru bermunculan setelah 5–10 tahun pemeliharaan, dan saat itu tanaman dapat dideskripsi serta diberi nama,” ujar Hervia.

Pusat PVTPP bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman telah mendaftarkan sepuluh varietas hoya secara nasional.

Varietas itu Pubi Sembada, Asteria Maron Sembada, Cinta Sembada, Jawa Sembada, Sembada Rejo, Eksabinangun, Jenar Kuthuk, Planthaven, Padasan, dan Suweng Jambon.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3 Sleman, Suparmono, mengapresiasi proses pendaftaran varietas yang berlangsung cepat itu. Hanya membutuhkan waktu tiga hari setelah dokumen dinyatakan lengkap dan sesuai.

Ia menuturkan bahwa langkah itu merupakan komitmen dalam melindungi kekayaan hayati, mencegah pencurian sumber daya alam, serta memperkuat pencatatan dan dokumentasi varietas. 

Ia juga berharap hoya dapat menjadi ikon ekowisata yang mampu meningkatkan perekonomian lokal di Sleman.

Peluncuran buku berjudul Ketika Hoya Berbunga, juga menjadi buah karya yang mendokumentasikan perjalanan panjang penelitian, pelestarian, dan pendaftaran varietas hoya di Indonesia. 

Harapannya buku itu menjadi referensi  bagi pelaku industri hortikultura, akademisi, hingga masyarakat umum.

Leli menuturkan buku itu tidak hanya membahas proses teknis dan ilmiah, tetapi juga menggambarkan upaya bersama dalam menjadikan hoya sebagai simbol pelestarian kekayaan hayati sekaligus kebanggaan bagi Indonesia.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img