Tuesday, January 27, 2026

Ragam Tanaman Berpotensi sebagai Penghasil Bioetanol

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Sampai saat ini, Indonesia masih bergantung pada bahan bakar minyak (BBM) fosil. Ironis memang, padahal Indonesia kaya sumber energi fosil non-BBM. Etanol adalah hasil fermentasi bahan sebelum diolah lebih lanjut menjadi bioetanol.

Ada banyak tanaman di sekeliling kita yang menghasilkan bioetanol. Salah satunya tanaman jagung. Jagung berpotensi memproduksi etanol lebih baik lantaran rendemennya paling tinggi, yakni 55%. Untuk menghasilkan satu liter etanol, cuma diperlukan 2,5 kg jagung.

Sayangnya, konsumsi jagung dewasa ini baru sebatas untuk konsumsi manusia dan pakan ternak. Tak hanya pati jagung yang berfungsi menjadi bahan baku bioetanol. Kulit jagung atau kelobot dapat dijadikan bahan utama bioetanol. Kelobot mengandung 2 jenis gula, yaitu glukosa dan silosa yang diperoleh dengan merebus awal lalu dihidrolisis.

Selanjutnya, biarkan ragi roti Saccharomyces cerevisiae bekerja. Hasilnya, 20% etanol. Jagung yang kaya serat cuma salah satu bahan bioetanol. Ada 3 kelompok bahan baku etanol alami lainnya, yakni nira bergula, pati, dan bahan serat alias lignoselulosa.

Semua bahan baku etanol itu mudah didapatkan dan dikembangkan di Indonesia karena negara ini memiliki lahan luas dan subur. Tebu mengandung gula sehingga mudah diproses menjadi bioetanol. Satu ton tebu mampu menghasilkan 70–90 liter etanol.

Bagas (sisa batang tebu yang diperas airnya) dan daun keringnya juga harus digunakan. Dari bagas tebu bisa diperoleh 27–33 liter etanol/ton tebu dan daun keringnya menghasilkan 11–16 liter etanol/ton.

Selain itu, kulit dan biji kapas juga berpotensi sebagai bahan baku etanol. Sebelum diproses, limbah kapas didiamkan lebih dari 1 bulan hingga melunak. Maksudnya, agar kandungan silosa, manosa, galaktosa, dan glukosa meningkat. Dari satu ton limbah kapas dituai 360 liter etanol.

Bahan baku etanol lain adalah limbah pertanian merang padi. Satu kilogram merang menghasilkan 0,28 liter etanol. Merang mengandung selulosa dan hemiselulosa. Ada lagi bioetanol berbahan tomat apkir. Tomat mengandung 50,20% gula. Setelah fermentasi menghasilkan 18% etanol.

Umbi ubi jalar juga pantas dilirik. Sebanyak 1.000 kg ubi jalar menghasilkan 150–200 kg gula. Dengan proses fermentasi lanjutan, menghasilkan 125 liter bioetanol. Itu berarti rendemen ubi jalar 12,5%.

Potensi lain dimiliki oleh sagu yang memiliki rendemen 9%. Dari 1 ton sagu dihasilkan 120–160 liter gula atau 90 liter etanol. Singkong atau ubi kayu paling berpotensi sebagai bahan bioetanol. Hanya dengan memfermentasi 7 kg singkong, satu liter bioetanol dapat dituai.

Kerabat karet itu dapat tumbuh di lahan kritis dan resisten terhadap penyakit. Singkong dipanen setahun setelah penanaman. Wajar saja singkong sangat berpotensi sebagai bahan bioetanol. Dengan keanekaragaman hayati amat tinggi, Indonesia punya banyak pilihan untuk memproduksi bahan bakar minyak nonfosil.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img