Trubus.id-Nur Widiyanto, warga Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Jawa Tengah, menanam anggur jenis chocolate di halaman rumahnya. Sulur tanaman anggota famili Vitaceae itu ia rambatkan pada tali-tali yang diikatkan pada besi berbentuk pergola untuk menciptakan suasana asri.
Sayangnya, lokasi halaman yang berada di bawah menyebabkan tanaman kekurangan paparan sinar matahari. Oleh sebab itu, sebagian sulur ia rambatkan pada tiang-tiang pegangan tangga menuju ke balkon.
Widiyanto menanam anggur dari bibit berukuran 70 cm. Ia menanam bibit itu dalam lubang tanam berkedalaman 70 cm yang diisi media tanam siap pakai berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang.
Ia rutin memberikan segenggam pupuk NPK setiap tiga pekan sebagai sumber nutrisi. Selain itu, ia juga rajin memangkas cabang-cabang tersier untuk menjaga pertumbuhan tanaman tetap optimal.
Ketika muncul bakal bunga, ia memangkas daun untuk mengurangi beban tanaman. Tujuannya agar nutrisi lebih terfokus pada pembentukan dan pembesaran buah.
Menurut Widayat, pehobi anggur asal Ciledug, Kota Tangerang, Banten, para pehobi biasanya mengenal metode SPAP—singkatan dari stres air, pemupukan, air, dan pemangkasan—untuk merangsang tanaman anggur agar berbuah.
Namun, Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si., ahli buah sekaligus anggota Dewan Pengarah Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, mengingatkan bahwa perlakuan stres air harus dilakukan dengan hati-hati. “Stres air hanya berhasil bila tanaman memperoleh nutrisi cukup. Bila tidak, perlakuan stres air justru bisa menyebabkan tanaman mati,” ujarnya.
Karena itu, sebelum melakukan stres air, pastikan tanaman telah mengalami pertumbuhan vegetatif yang optimal dan terpenuhi kebutuhan gizinya.
