Trubus.id—Penggunaan antibiotik untuk sapi perah organik masih dilematis. Antibiotik membuat susu (Bos Taurus) itu susah terolah menjadi keju. Padahal pasar susu sapi organik terbesar di Indonesia untuk pengolahan menjadi keju.
Fasilitator Bina Swadaya Konsultan untuk proyek sapi organik, Rudi Setiawan, menuturkan, “Sejatinya tidak diperbolehkan, tetapi kalau sapi memang sangat membutuhkan ya harus diberikan. Daripada kondisi sapi tambah parah,” ujar Rudi.
Oleh karena itu peternak harus melakukan rekonversi atau konversi ulang selama 6 bulan berdasarkan standar nasional Indonesia (SNI).
Dokter hewan dari pusat kesehatan hewan (puskeswan) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, drh. Aril Tri Setiyo Perdata, mengatakan, untuk penggunaan vaksin atau antibiotik masih bisa diperkenankan jika memang perlu dilakukan.
“Hanya ada kebijakan untuk konversi ulang yang diatur dalam tahapan standar operasional prosedur (SOP) lagi,” tutur Aril.
Itulah yang dialami peternak di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, Muhammad Hial Ferdiansyah. Ia masygul lantaran sapi miliknya terserang penyakit mulut dan kuku (PMK) pada 2021.
“Saya memilih sapi disuntik antibiotik karena risiko PMK sangat tinggi. Bisa menyebabkan kematian sapi,” tutur Hilal.
Namun, Hilal selama 6 bulan tetap merawat sapi secara organik. Ia tidak bisa menyetor susu organik ke tempat penampungan. Selain antibiotik, penggunaan pupuk dan pestisida kimia untuk membudidayakan hijauan juga perlu diperhatikan. Beri pakan hijauan dan konsentrat organik minimal 10% dari bobot sapi.
“Soal pakan memang wajib hijauan organik. Kalau ada konsentrat, idealnya bahan-bahan konsentrat itu juga harus dibudidayakan secara organik,” tutur Rudi.
Selain pakan organik, Hilal juga memerhatikan kesejahteraan ternak. Ia tidak memasang tali yang mengikat sekat hidung sapi. Hilal juga menyediakan lahan umbaran agar sapi bebas bergerak, Tip beternak sapi organik lain rajin keluarkan sapi dari kandang. Selain itu, beri air minum yang tak terbatas.
