Friday, January 16, 2026

Ramuan Atasi Hama Padi IP400

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Tikus momok bagi petani padi. Apalagi, “Tikus berkembang biak cepat. Tanpa upaya pengendalian bisa sangat merugikan petani,” kata petani padi di Tegalsari, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, Yoso Martono Suyadi.

Mbah Yoso—panggilan akrab Yoso Martono Suyadi—yang menerapkan IP400 juga menghadapi kendala serupa. Budidaya IP400 berarti petani 4 kali menanam dan 4 kali panen di lahan yang sama dalam setahun. Akibat penanaman terus-menerus, siklus hama tikus tidak terputus. Pakan para perongrong padi itu selalu tersedia.

Demi mencegah serangan hewan pengerat itu, petani di Desa Tegalsari rutin menggelar gropyokan atau pengendalian tikus beramai-ramai 2 kali dalam sebulan.

Mbah Yoso membuat pestisida nabati dari campuran umbi gadung, bekatul, kulit kamboja, ragi, daging ikan, dan beras (lihat boks Atasi Perongrong Padi). Hasilnya memuaskan, serangan tikus menurun setelah penebaran ramuan.

Hama lain yang menjadi momok adalah wereng cokelat. Serangga anggota famili Delphacideae itu mengisap cairan tanaman padi. Tanaman yang tidak tahan serangan wereng lazimnya berubah menguning seolah terbakar hingga mati.

Menurut Mbah Yoso jika tanaman kuat dampak serangan wereng bisa diminimalisir. Petani yang mengelola lahan seluas 1,5 ha itu membuat ramuan fermentasi dari air gedebok dan rendaman sabut kelapa. Tujuannya memperkuat batang sehingga tanaman tidak mudah rebah meski terserang wereng.

Selain hama adapula serangan penyakit, salah satunya penyakit kresek akibat ulah bakteri Xanthomonas oryzae. Mbah Yoso membuat ramuan berbahan rimpang laos, kunyit, dan bawang putih.

Ketua Kelompok Tani Samekto itu juga membuat ramuan lainnya dari rumput bernama biosaka. Fungsinya sebagai pupuk daun serta menyuburkan tanah dan tanaman. Jadi, jika tanah dan tanaman sehat perongrong padi pun bertekuk lutut.

Atasi Perongrong Padi

Usir Tikus

Bahan baku: 1 kg umbi gadung, 1 kg kulit kamboja, 1 kg bekatul, 1 kg ikan, 0,25 kg beras, 10 buah ragi tapai.

Cara membuat:

  1. Tumbuk umbi gadung yang telah dikupas, kulit batang kamboja, ragi tapai, dan ikan asin hingga lumat.
  2. Campurkan hasil tumbukan dengan beras dan bekatul kemudian aduk hingga merata.
  3. Jemur semua bahan itu agar benar-benar kering.
  4. Letakkan ramuan di atas kertas minyak dengan jarak tertentu.

Catatan:

  1. Hindari ramuan tersentuh tangan. Pengambil bahan atau saat pengemasan (memasukkan ke dalam stoples) hindari memegang bahan ramuan. Jadi, gunakan alat seperti sendok.
  2. Hati-hati menyimpan ramuan. Hewan peliharaan seperti kucing yang mengonsumsi ramuan itu juga bisa mati.

Wereng

Bahan baku: 1kg sabut kelapa, 10 liter air gedebok pisang

Cara membuat:

  1. Rendam sabut kelapa dalam air gedebok.
  2. Aduk larutan selang 2—3 hari sekali kemudian tutup rapat. Ramuan siap diaplikasikan setelah fermentasi minimal 1 bulan dengan ciri berwarna hitam pekat.

Catatan

  1. Dosis per sekali aplikasi 1 gelas (240 ml) per 1 tangki (14 liter).
  2. Air gedebok adalah air yang muncul di cekungan yang dibuat setelah batang pisang ditebang.

Kresek

Bahan baku: 1 kg rimpang laos (Alpinia galanga), 1 kg rimpang kunyit (Curcuma domestica), dan 1 kg bawang putih (Allium sativum).

Cara membuat:

  1. Cuci bersih semua bahan baku, iris atau potong agar ukuran lebih kecil.
  2. Lumatkan semua bahan menggunakan blender.
  3. Tambahkan air, aduk rata, lalu saring.

Catatan dosis per sekali aplikasi 1 gelas (240 ml) ramuan, masukkan ke sebuah tangki dan tambahkan air bersih hingga penuh (14 liter). Aplikasi ideal terutama saat tanaman memasuki fase generatif atau menjelang pengisian bulir.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img