Tuesday, August 9, 2022

Riset Baru Khasiat Madu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Madu yang sudah tertutup berkualitas baik, karena kadar air rendah.
Madu yang sudah tertutup berkualitas baik, karena kadar air rendah.

Riset membuktikan madu mampu mengatasi berbagai penyakit akibat gangguan organ.

Perubahan pola hidup dan pola konsumsi memicu berbagai gangguan kesehatan. Sudah begitu, zat-zat kimia yang ditambahkan ke dalam makanan juga semakin banyak. Akibatnya muncul bermacam-macam penyakit yang menyerang hati. Data di Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan pada 2013 terdapat 1,2% penduduk Indonesia yang mengidap penyakit berkaitan dengan hati.

Kondisi ini meningkat 2 kali lipat ketimbang 2007. Bila dikonversikan ke dalam jumlah penduduk pada 2013 sebanyak 249-juta jiwa maka jumlahnya hampir 3-juta jiwa. Tahap awal dari rangkaian penyakit hati adalah fibrosis, yaitu timbulnya lapisan keras sebagai reaksi cedera hati. Musababnya hati dipaksa bekerja berat menyaring racun. Tanpa penanganan, fibrosis akan berkembang menjadi sirosis dan menyebabkan kanker hati.

Besarnya kandungan dan jenis zat aktif madu juga tergantung dari jenis bunga sumber nektar.
Besarnya kandungan dan jenis zat aktif madu juga tergantung dari jenis bunga sumber nektar.

Pelindung hati
Mahalnya biaya pengobatan secara medis menjadi salah satu pemicu peningkatan kasus kerusakan hati. Masyarakat pun melirik pengobatan alternatif, salah satunya madu. Madu yang terbentuk dari nektar bunga itu digunakan sejak peradaban prasejarah di Mesir, Yunani, Tiongkok, Maya, Roma, dan Babilonia. Madu menjadi makanan bergizi dan obat berbagai penyakit. Oleh karena itu madu adalah salah satu produk alami yang paling lama dimanfaatkan manusia sampai saat ini.

Pada 2013 Muhartono, Larasati ND, Rizki Hanriko, dan Sutyarso dari Bagian Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Lampung meneliti khasiat madu terhadap hati tikus yang rusak akibat etanol. Muhartono membagi 25 ekor tikus putih jantan dewasa galur dprague dawley menjadi lima kelompok. Ia menginduksi tikus dengan etanol 50% berdosis 5 g per kg bobot tubuh secara oral selama 10 hari.

Tujuannya membuat hati tikus mengalami nekrosis, fibrosis, dan infiltrasi sel inflamasi. Madu yang diberikan pada tikus merupakan larutan madu 50% yang diencerkan dengan akuades. Kelompok 1 sebagai kontrol negatif hanya diberi akuades, kelompok 2 diberi 50% etanol 0,01 ml per g kg bobot tubuh (kg BB). Kelompok 3—5 adalah kelompok perlakuan dan diberi etanol 50% 0,01 ml per kg bobot tubuh ditambah larutan madu 50% berdosis masing-masing 0,0018 ml, 0,0054 ml, dan 0,016 ml per kg bobot tubuh sekali sehari selama 14 hari.

Pengamatan dilakukan dengan membandingkan degenerasi lemak atau penimbunan lemak dinding hati sampel melalui mikroskop. Hasilnya kelompok perlakuan dengan pemberian 3, 4, dan 5 menunjukkan perbedaan degenerasi lemak yang bermakna. Efek perlindungan hati madu paling besar terlihat pada kelompok 5. Persentase degenerasi lemak hanya 6%. Kondisi itu mendekati kondisi hati normal tanpa timbunan lemak berlebih.

Prof Dr Nurul Akbar SpPD-KGEH dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan senyawa flavonoid dalam madu berperan menangkap radikal bebas akibat alkohol. Alkoholik kronis mengalami penimbunan lemak dalam sel-sel hati. Ketika alkohol diuraikan oleh hati, terbentuk radikal-radikal bebas yang merusak mitokondria sel hati. Akibatnya sel hati tidak mampu menggunakan oksigen untuk menghasilkan energi.

Kondisi rendah oksigen yang disebut hipoksia itu memperburuk kerusakan mitokondria dan mempercepat pembentukan timbunan lemak penyebab sirosis. “Flavonoid dengan antioksidan sebagai penangkap radikal bebas, mencegah penimbunan lemak sehingga metabolisme dan sekresi racun hati lancar,” ujar anggota Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia itu.

Turunkan gula darah
Khasiat madu sebagai bahan obat herbal seakan tidak pernah habis saat diteliti secara ilmiah. Riset Dody Novrial dan kawan-kawan dari Laboratorium Patologi Anatomi Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman membuktikan madu berpotensi mengatasi diabetes. Fakta itu cukup fenomenal karena menurut Bogdanov S dalam Honey for Nutrition and Health yang dimuat di American Journal of the College of Nutrition pada 2008, madu mengandung 95% karbohidrat. Sebagian besar karbohidrat itu terdiri dari fruktosa dan glukosa.

Penelitian pada 2013 itu membandingkan efek antidiabetik madu, glibenklamid, metformin, dan kombinasinya terhadap tikus yang diinduksi streptozotosin. Glibenklamid dan metformin adalah obat antidiabetes, sedangkan streptozotosin zat merusak pankreas sehingga tikus menderita diabetes. Kedua obat terapi diabetes itu biasanya dikonsumsi bersamaan. Sebagai hewan uji, 35 tikus jantan dibagi dalam 7 kelompok perlakuan.

Kelompok 1, sebagai kontrol, hanya diberi akuades selama penelitian. Sementara itu kelompok 2—4 diberi madu, glibenklamid, dan metformin. Kelompok 5—7 diberi kombinasi madu dan glibenklamid, madu dan metformin, serta glibenklamid dan metformin. Dalam penelitian itu dosis madu 1 g, glibenklamid 0,6 mg per, dan metformin 100 mg—semua per kg bobot tubuh—diberikan sekali sehari.

Ternyata konsumsi glibenklamid atau metformin saja tidak memiliki efek antidiabetik signifikan. Sebaliknya, kombinasi dengan madu meningkatkan potensi glibenklamid dan metformin untuk menghambat progesivitas stres oksidatif akibat streptozotosin. Itu membuktikan efektivitas madu sebagai antioksidan yang dikombinasikan dengan obat hipoglikemik oral. Efek antidiabetik flavonoid madu yang kaya antioksidan adalah kemampuan untuk menghambat absorpsi glukosa atau memperbaiki toleransi insulin.

Saat ini tersedia beragam jenis madu di pasar.
Saat ini tersedia beragam jenis madu di pasar.

Flavonoid juga menstimulasi penyerapan glukosa di jaringan perifer, mengatur aktivitas dan ekspresi enzim yang terlibat dalam jalur metabolisme karbohidrat dan bertindak menyerupai insulin, serta mempengaruhi mekanisme pembentukan insulin. Menurut Dr Ir Lilik Eka Radiati MS peneliti madu dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang, madu mempunyai banyak kandungan vitamin, asam, mineral dan enzim.

Kandungan itu mendukung fungsi pengobatan secara tradisional. Asam organik dalam madu antara lain asam glikolat, asam format, asam laktat, asam sitrat, asam asetat, asam oksalat, asam malat, dan asam tartarat. Asam-asam itu tersebut bermanfaat bagi metabolisme tubuh. Bahkan asam laktat mengandung zat laktobasilin yang menghambat pertumbuhan sel kanker dan tumor. “Asam amino bebas dalam madu membantu penyembuhan penyakit dan menjadi bahan pembentukan protein yang mengoptimalkan fungsi otak. Namun, jumlah kandungan dan jenis zat aktif madu tergantung jenis bunga,” ujar Lilik.

Ir Wahyu Suprapto, herbalis asal Batu, Jawa Timur, sering memakai madu untuk mempermudah pasien mengonsumsi ramuan herbal. “Dengan penambahan madu rasa menjadi lebih enak dan memperoleh tambahan kandungan nutrisi yang membantu mempercepat penyembuhan,” ujar Wahyu. Ia juga berpesan untuk berhati-hati memilih madu yang dijual di pasaran lantaran banyak beredar madu yang dicampur dengan gula, demi keuntungan semata. (Muhammad Hernawan Nugroho)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img