Saturday, January 24, 2026

Robot ANTRAC 1.0 Deteksi Antraknos Secara Cepat dan Akurat

Rekomendasi
- Advertisement -

Antraknos masih menjadi penyakit yang sulit dihindari dalam budi daya cabai. Penyakit akibat jamur Colletotrichum capsici itu terutama menyerang buah dan menimbulkan bercak hitam hingga membusuk serta rontok.

Dalam satu musim tanam, penyakit itu berpotensi menurunkan hasil panen secara drastis jika tidak dikendalikan sejak awal. Serangannya menyebabkan kerugian ekonomi bagi petani.

Penanganan umumnya dilakukan setelah gejala terlihat. Padahal saat itu penyebaran antraknos berpotensi semakin meluas.

Meski begitu, Dea Arisandi bisa mendeteksi antraknos di kebun cabai seluas 1.000 m² milik Gapoktan Cibitung Wetan mencapai 30% pada 2024. Ia yakin karena data muncul dari sistem robot yang berjalan dari ujung ke ujung bedengan.

“Itu bukan perkiraan, tapi hasil pembacaan sistem robot,” ujar warga Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, itu. Hasil deteksi tampil di layar monitor dan datanya tersimpan otomatis.

Cara itu sangat membantu karena petani bisa mengetahui kondisi lahan secara detail tanpa memeriksa satu per satu tanaman. Alat pendeteksi itu bernama ANTRAC 1.0 besutan dosen Prodi Teknologi Rekayasa Komputer, Sekolah Vokasi IPB, Dr. Ridwan Siskandar.

ANTRAC 1.0 menggunakan sistem kecerdasan buatan untuk mendeteksi gejala antraknos secara cepat dan akurat di lapangan. “Robot itu kami rancang agar petani bisa mengetahui kondisi penyakit di lahan secara presisi,” ujar Ridwan.

Pengujian menunjukkan tingkat akurasi deteksi mencapai 97%. Robot itu dilengkapi tiga kamera di bagian depan, kiri, dan kanan.

Kamera depan berfungsi untuk navigasi gerak, sedangkan kamera samping membaca kondisi buah cabai di sisi kiri dan kanan bedengan. “Sistem itu menghasilkan persentase serangan antraknos,” kata Ridwan.

Data langsung ditampilkan di layar dan disimpan dalam sistem yang bisa diakses petani. Dengan pendekatan itu, petani dapat mengetahui sebaran penyakit dan merencanakan penanganan secara lebih efisien.

Agar dapat bermanuver di lahan sempit, ANTRAC 1.0 menggunakan sistem skid steering. Sistem itu memungkinkan robot berputar tanpa membutuhkan ruang belok luas.

Untuk berbelok ke kanan, motor di sisi kanan bergerak maju, sedangkan motor kiri bergerak mundur. Dengan cara itu, robot bisa berputar di tempat.

Lebar bodi robot disesuaikan dengan standar antarbedeng cabai, yaitu sekitar 60 cm. Ridwan merancang roda dan sistem penggerak agar mampu menyesuaikan kondisi tanah yang tidak rata.

“Kami mencoba beberapa kombinasi roda dan tekstur agar robot tetap stabil di lahan tradisional,” ujarnya. Pengembangan ANTRAC 1.0 berlangsung tiga tahun melalui tiga tahap.

Tahun pertama berfokus pada pengumpulan data dan pelatihan sistem visual. “Kami latih sistem AI menggunakan lebih dari seribu data dengan berbagai usia dan kondisi cabai,” kata Ridwan.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img