Samuda, Kalimantan Tengah, sentra walet yang menghasilkan sarang lebih dari 1 ton per hari.

“Setiap hari perusahaan kami mengirim lebih 1 ton sarang walet ke seorang pengusaha di Surabaya,” ujar Rizal, bukan nama sebenarnya. Karyawan perusahaan di Sampit, Kalimantan Tengah, itu menuturkan bahwa pelanggan serupa ada 3 orang, sehingga perusahaannya mengangkut 2—3 ton sarang walet setiap 2 hari. Belum lagi pedagang kecil yang mengirim sarang walet ke Semarang atau Jakarta.
Sebagian besar sarang walet itu dihasilkan oleh peternak di Samuda, ibukota Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Samuda sohor sebagai sentra sarang walet sejak satu dasawarsa silam. Hampir setiap jalan di ibukota kecamatan itu berdiri rumah walet. Bahkan kerap ditemui rumah-walet tinggi berdampingan atau berjajar 3—5 bangunan.
Pelopor walet

Rumah walet itu terdiri dari 3—10 lantai, sehingga terlihat seperti rumah toko di perkotaan. Eksterior rumah walet itu pun didesain seperti rumah tinggal atau toko. Maklum, pada awalnya, sebagian rumah walet itu berupa rumah tinggal atau toko. Salah satu tokoh walet di Samuda, Syahrani, memiliki rumah walet berukuran 8 m x 16 m dengan tinggi 4 lantai. Itu hanya termasuk bangunan kelas menengah.
“Di sini banyak rumah walet besar berukuran 20 m x 40 m dengan 8—9 lantai, setinggi 20 m. Bentuknya mirip mal di kota besar, terutama di sekitar pasar, sehingga Samuda yang berjarak 40 km dari Kota Sampit, kerap digelari Kota Walet,” kata Syahrani. Wajar karena bangunan tinggi di kota itu hanya rumah walet. Menurut Syahrani pelopor pembangunan rumah walet di Samuda adalah Anang Sulaiman.

Anang membangun rumah walet pertama kali pada 2001. Namun, saat itu pengetahuan tentang walet masih sangat rendah sehingga burung Collocalia fuciphaga itu belum tertarik masuk rumah. Syahrani tetap tertarik mengikuti jejak kerabatnya itu karena memang sangat banyak walet alam beterbangan atau melintas di daerahnya. Pada 2002, ia membangun rumah walet tepat di bibir Sungai Mentaya, berhadapan dengan masjid tertua, berumur 200 tahun di Samuda Kota.
Kekayaan alam di Kabupaten Kotawaringin Timur menarik burung kerabat sriti itu datang mencari pakan. Samuda yang terletak di tepi Sungai Mentaya menyediakan beragam pakan alami berupa serangga. Di seberang sungai yang lebarnya lebih 500 m itu terdapat perkebunan kelapa, sawah, dan hutan. Di situ banyak hama bagi kelapa yang merupakan pakan walet.

Menurut ayah 2 anak itu walet dapat mencari pakan hingga 10 km. Sementara itu di Samuda, paling jauh walet terbang 5 km. Hanya pada musim kemarau mereka mencari pakan lebih jauh. Syahrani yang juga pedagang pengepul sarang itu memperkirakan jumlah rumah burung walet di Samuda lebih 1.000 rumah. Rata-rata bangunan itu mampu menghasilkan 5 kg sarang per 40 hari.
Tiga ring
Adapun di Kelurahan Samuda Kota tempat Syahrani bermukim, terdapat 200 rumah walet. Karena ketatnya persaingan mendapatkan burung, sehingga ia dan peternak lain berusaha mempertahankan yang sudah ada dengan meningkatkan kenyamanan dalam rumah walet. Ia rajin membersihkan rumah, menjaga kelembapan, menggunakan suara tweeter terbaru, dan menggunakan parfum atau aroma pemikat walet.

Ia pun menjaga agar tidak ada predator masuk rumah. Potensi alam Samuda yang cocok untuk beternak walet menarik minat Andry Barlian memiliki rumah walet di sana. Lewat bantuan Syahrani, investor dari Bandung itu bisa mendapat rumah walet pada 2008. “Meski persaingan rumah walet cukup ketat, jumlah burung pun cukup banyak,” kata Andry. Oleh karena itulah ia berani menanam modal dengan membeli rumah walet berpenghuni.
Selain itu Andry juga membangun rumah walet baru. Hingga kini ia memiliki 6 rumah walet, yakni tiga buah di Samuda Kota, dan 3 lainnya di pinggir Samuda. Andry membagi wilayah berdasarkan kepadatan rumah walet. Yang paling padat ada di sekitar Pasar H. Umar Hasyim , disebutnya ring satu. Di situ rumah-rumah walet memang sangat rapat, bahkan ada yang berdampingan.
Sementara ring dua, contohnya di Samuda Kota. Rumah walet cukup banyak, tetapi rumah penduduk pun banyak. Jumlah rumah walet di Samuda Kota di perkirakan mencapai 200 buah. Adapun di ring tiga, yaitu daerah dengan rumah walet masih sedikit. Contohnya di Jayakelapa dan Pertanian, yang terletak di pinggir Samuda. Menurut Andry calon investor yang tertarik, bisa menanam modal di ring 3 karena rumah walet masih sedikit, sedangkan daerah itu hijau dengan lahan sawah yang luas.

Lebih 50% kebutuhan sarang walet ia peroleh dari Samuda. Setiap 2 pekan, Andry yang pengusaha pencucian sarang di Bandung itu mendatangkan sarang walet dari daerah itu. Selain ketersediaannya cukup banyak, kualitas sarang pun lebih baik dibandingkan dengan sarang walet dari daerah lain. Menurut pakar walet di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, A. Hendry Mulia, perkembangan walet di Samuda kini masih bagus.
Di pinggir kota, di atas rata-rata. Namun, secara keseluruhan perkembangan rumah walet di sana cukup bagus karena belum stagnan. Kualitas sarang pun bagus. Warna putih, bersih, meski ada pula yang agak abu-abu. Di daearah yang sudah sangat padat sehingga peternak harus berusaha mempertahankan burung walet agar tidak berpindah ke rumah lain. (Syah Angkasa)
