Monday, January 26, 2026

Sapi Unggul Anak Banteng

Rekomendasi
- Advertisement -

Jaliteng sapi lokal yang cepat besar.

Karyo (depan), sapi jaliteng jantan kelahiran 5 April 2012 dan sapi jaliteng betina.
Karyo (depan), sapi jaliteng jantan kelahiran 5 April 2012 dan sapi jaliteng betina.

Karyo asyik mengunyah rumput pemberian Ega Akni Adam. Namun, saat penjaga Taman Safari Indonesia 2 itu mendekat, Karyo menjauh. “Karyo masih takut didekati orang. Kalau Naruto sudah jinak,” ujar Ega, menunjuk sapi lain di dekat Karyo. Karyo dan Naruto itu sapi lokal unggulan baru. Gubernur Provinsi Jawa Timur Soekarwo menamainya jaliteng, singkatan Jawa Timur, Bali, dan Banteng.

Harap mafhum, induk jantan kedua sapi itu adalah banteng jawa yang didatangkan dari Taman Nasional Baluran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sementara induk betina sapi bali. Karyo merupakan sapi jaliteng pertama yang lahir pada 5 April 2012. “Bobot lahir saja 21—24 kg, sementara sapi bali hanya 14—15 kg,” ujar drh M Nanang Tedjo Laksono, dokter hewan di Taman Safari Indonesia 2.

Lemak rendah
Bobot besar itu berasal dari banteng jawa sebagai indukan jantan yang memiliki beragam keunggulan. “Keunggulan banteng dibanding sapi introduksi dari Eropa yang sudah banyak diternakkan seperti limosin atau simental antara lain adaptif dan dagingnya minim lemak,” ujar drh Nanang. Sebab, banteng hidup di habitat tropis sehingga sudah beradaptasi secara turun-temurun.

Sapi bali menjadi induk betina yang melahirkan sapi jaliteng.
Sapi bali menjadi induk betina yang melahirkan sapi jaliteng.

Banteng juga mempunyai ketahanan lebih kuat terhadap serangan penyakit seperti caplak dibandingkan sapi introduksi. Adaptasi lain adalah tingginya keragaman bakteri pengurai di lambung rumen sehingga kemampuan pencernaannya lebih tinggi. “Banteng juga sumber daya genetik asli Indonesia, terutama pulau Jawa, yang patut kita lestarikan,” ujar Nanang.

Kelemahan sapi bali, menurut drh Nanang, banyak mengalami inses alias perkawinan sedarah antara anakan dengan induknya sendiri. Akibatnya kualitas sapi bali menurun, terutama dari bobot atau kecepatan pertumbuhan. “Oleh karena itu perlu dilakukan kawin silang dengan indukan yang masih sejenis tetapi performanya bagus. Maka dipilihlah banteng yang sejatinya masih satu jenis,” ujarnya.

Guru besar Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Prof Herry Agoes Hermadi menuturkan hal senada. Inses kerap terjadi akibat para peternak kekurangan pejantan unggul. “Akhirnya pejantan yang dipakai sebagai indukan itu-itu saja. Bapak bisa kawin dengan anaknya,” ujarnya. Hal itu sangat merugikan peternak lantaran kualitas dan bobotnya menurun.

“Bobot tubuhnya menjadi lebih kecil, bagian-bagian tubuhnya tidak seimbang misalnya tanduknya tidak simetris, telinga lebar sebelah. Penampilan itu mengurangi nilai jual sapi,” tutur Herry. Menurut Prof Herry sapi bali sejatinya banteng yang mengalami domestikasi. Proses itu membuat sifat liar banteng berkurang sehingga cocok untuk diternakkan.

Adaptif

Tim Safari Indonesia 2 Pasuruan, Jawa Timur: Dari kiri Agus Prasetyo Nugroho, Ega Akni Adam, Idham Rustian P, drh M Nanang Tedjo Laksono.
Tim Safari Indonesia 2 Pasuruan, Jawa Timur: Dari kiri Agus Prasetyo Nugroho, Ega Akni Adam, Idham Rustian P, drh M Nanang Tedjo Laksono.

Sapi bali juga memiliki banyak penggemar lantaran unggul dari segi rasa. “Rasa daging sapi bali itu seperti ada manis-manisnya sehingga disukai orang Jawa Barat dan Jakarta,” tutur profesor kelahiran 23 Agustus 1959 itu. Itu sebabnya pengembangan sapi bali tetap layak, sepanjang dilakukan dengan cara yang benar sehingga menghasilkan sapi yang benar-benar unggul.

Nanang mengungkapkan, proses pengawinan banteng dan sapi bali di Taman Safari Indonesia 2 berlangsung secara alami dan lancar. “Sempat ada induk sapi bali betina yang tak bisa beranak karena ada kista di rahim. Namun setelah terapi hormonal, indukan itu bisa beranak lagi,” kata Nanang. Sang induk betina mulai bisa diketahui bunting sepekan pascakawin dengan melihat siklus berahi.

“Cirinya induk betina tidak mau kawin lagi,” kata Nanang. Sejak bunting sampai melahirkan, sapi betina membutuhkan waktu 9 bulan. “Setelah lahir dan ditimbang, bobot anakan sapi jaliteng 8—9 kg lebih besar dibanding sapi bali,” ujarnya. Bobot itu terus bertambah seiring pertambahan umur. “Dalam waktu 6 bulan saja, bobot sapi jaliteng lebih dari 100 kg,” ujarnya.

Untuk pemeliharaan, tiap pagi sapi jaliteng mendapatkan pakan berupa pelet dan rumput. Pukul 09.00—15.00, sapi jaliteng dilepas di hamparan rumput atau diumbar kecuali yang sedang dalam proses pengawinan. Egi Akni Adam juga memberikan pakan berupa wortel, kacang panjang, ubi, dan mineral blok yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan kalsium sapi.

Mineral blok membantu pemenuhan kalsium sapi.
Mineral blok membantu pemenuhan kalsium sapi.

“Namun pakan utama tetap rumput,” ujar drh Nanang. Sayang, ia belum mengetahui angka feed convertion ratio (FCR) yang merupakan parameter baku pertumbuhan sapi karena masih dalam proses penelitian. Hingga kini, 10 sapi jaliteng telah lahir di Taman Safari 2. Dari jumlah itu, 4 jantan dan 6 betina. Sepasang jaliteng dibawa gubernur Soekarwo ke Bondowoso, satu jantan ke Balai Inseminasi Buatan Singosari, sisanya ada di Taman Safari Indonesia 2

Proses perkawinan sapi bali dengan banteng merupakan kerja sama antara Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, dan Taman Safari 2. “Tujuannya untuk meningkatkan performa sapi bali dan menjaga kelestarian gen banteng,” ujar drh Nanang. Keberhasilan perkawinan itu baru langkah awal. “Pengembangan sapi lokal endemik tropis di Indonesia tidak berhenti, bahkan terus berkembang.

Upaya itu akan terus berlangsung seiring penelitian terus berjalan,” ujar drh Nanang. Saat ini, Taman Safari 2 menanti kelahiran sapi hasil perkawinan jaliteng betina dengan banteng jantan yang bukan induk jantannya. “Umur janin baru 5—6 bulan,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya itu. Ia berharap performa anakan itu lebih baik dibandingkan banteng atau jaliteng yang menjadi tetuanya. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img