Sunday, January 25, 2026

Satsuma Makan Jeruk Beserta Kulit

Rekomendasi
- Advertisement -

Jeruk unggul tanpa biji, kulit buah bisa dikonsumsi.

Jeruk satsuma bercita rasam masam manis segar.

Trubus — Heptari memetik buah jeruk ranum berkulit jingga. Ia hanya perlu mencuci permukaan kulit, tanpa mengupas, dan menyantapnya. “Rasanya manis meski masih ada sedikit rasa getir,” ujar Heptari Elita Dewi, pengunjung asal Malang, Jawa Timur. Pengajar Agribisnis di Universitas Brawijaya itu baru pertama kali mencicip kulit jeruk.

Ir. Sutopo, M.Si peneliti dari Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro).

Itulah salah satu kelebihan jeruk satsuma, kita dapat mengonsumsi kulit buahnya. Kelebihan lain, pohon anggota famili Rutaceae itu juga produktif. Peneliti di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Ir. Sutopo, M.Si mesti merunduk untuk memetik jeruk ranum itu. Harap mafhum, tinggi pohon itu tak sampai dua meter. Tajuk pohon melebar sehingga buah-buahan bercita rasa masam manis itu bergelayutan nyaris menyentuh tanah.

Tanpa biji

Menurut Sutopo jeruk satsuma, “Cocok buat agrowisata dan edukasi anak-anak. Mereka bisa panen sendiri karena pohonnya pendek.” Jeruk itu memang baru diperkenalkan meski keberadaannya di kebun Balitjestro sudah lama. “Perkiraan sekitar tahun 1990-an, tetapi tidak dikenalkan dan dikembangkan karena saat itu kami belum bisa menjelaskan kepada konsumen keunggulan-keunggulannya,” ujar Ir Sutopo.

Jeruk satsuma itu bercita rasa asam manis segar. “Sebagian besar konsumen jeruk dalam negeri masih menyukai rasa manis. Kalau ada masamnya kurang suka,” ujarnya. Padahal, keunggulan jeruk satsuma lebih banyak dibandingkan dnegan kekurangannya. Selain kulitnya yang bisa dikonsumsi, jeruk itu juga tanpa biji. “Kalau mereka sudah kami ajak ke kebun, terus melihat pohonnya yang pendek, dan mencicip buah sama kulitnya, dijamin mereka akan suka jeruk ini,” ujar Sutopo.

Terkadang muncul leher pada buah jeruk satsuma sehingga mirip dekopon.

Menurut alumnus Ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor itu, jeruk satsuma berasal dari Tiongkok dengan nama Latin Citrus unshia. Namun, Jepang memperkenalkan jeruk itu di negara-negara barat dengan nama satsuma. Jadilah, masyarakat mengenal jeruk itu satsuma. Dalam The Citrus Industry vol 1, klasifikasi oleh Swingle, satsuma termasuk jeruk mandarin. Mandarin istilah untuk kelompok jeruk bercirikan kulit tipis, mudah dikupas, dan juring tidak rekat.

Satsuma mandarin berasal dari Kyushu, Jepang dan dikenal juga dengan nama unshiu mikan. Ukuran buah satsuma sedang, bentuk bulat agak pipih, dan terkadang muncul leher buah, kulit buah jingga saat matang, permukaan kulit agak lembut dan berminyak, berjuring 10—12, dan tanpa biji. “Bentuk buah yang menarik ditambah tanpa biji menjadi daya tarik juga bagi konsumen,” ujarnya.

Petani

Jeruk satsuma cocok untuk agrowisata karena pohonnya pendek, tajuk melebar, dan buah yang unik.

Saat ini ada 50-an pohon satsuma di Balitjestro usia produktif sekitar 10 tahun. “Pada usia produktif sekitar 7 tahun, satsuma menghasilkan 50—100 kg per tanaman per tahun,” ujar Sutopo. Satsuma juga tergolong genjah. “Kalau batu 55 baru mulai berbuah sekitar 4—5 tahun, satsuma setahun sebelumnya sudah mulai berbuah,” kata peneliti kelahiran 10 Desember 1965 itu.

Bobot jeruk satsuma per buah sekitar 200 g. “Lebih besar daripada jeruk keprok batu 55 yang satu kilogramnya 6—7 buah. Tetapi bobot satsuma belum stabil,” ujar Sutopo. Bentuk buah bulat seperti bohlam lampu dengan cuping di dekat tangkai buah. “Sepintas penampillanya mirip jeruk dekopon. Tapi bentuknya juga tidak stabil. Ada juga yang bulat rata. Mungkin salah satu solusinya perlu ada seleksi buah,” ujarnya.

Kini satsuma menjadi jeruk unggulan Balitjestro untuk agrowisata. “Setelah saya ceritakan keunggulan satsuma, para pengunjung agrowisata lebih tertarik kepada satsuma dibandingkan dengan jeruk lain, termasuk keprok batu 55 yang sudah lebih dulu terkenal,” ujar Sutopo  “Petani masih sulit untuk menerima varietas atau jenis baru. Kecuali kalau pasarnya sudah terbentuk. Tantangannya agar satsuma menjadi jeruk yang digemari masyarakat kita. Ujung-ujungnya pasarnya bagus, petani pun berminat menanamnya,” ujar Ir Sutopo. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img