Trubus.id— Petani dituntut untuk kreatif dan inovatif. Saat ini dalam satu lahan petani bisa memanen empat komoditas sekaligus. Caranya dengan menerapkan pertanian terintegrasi. Itu seperti yang dilakukan oleh petani padi di Desa Jagan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Heri Sunarto.
Heri menanam padi di lahan seluas 4.000 m². Uniknya di sekeliling sawah ia menanam berbagai komoditas lain. Heri memanfaatkan rak bambu untuk budidaya tanaman. Rak itu bertingkat 2 yang bisa digunakan sebagai tempat tanaman atau polibag berukuran 20 cm × 40 cm.
“Per meter bisa memuat 8 polibag, atau sekitar 1.000 polibag di lahan seluas 4.000 m²,” kata petani padi sejak 2011 itu.
Efisien biaya investasi pembuatan rak sebagai pelindung itu mencapai Rp11 juta. Ia meletakkan cabai keriting di rak bagian atas dan jahe merah di rak bawah. Fertigasi atau penyiraman berikut pupuk cukup pada tanaman di rak atas karena tetesan dari rak atas sampai pada tanaman di rak bawah.
Heri menggunakan endapan lumpur dari sungai dekat sawah sebagai media tanam dalam polibag. Ia mencampur endapan lumpur dengan sekam sisa budidaya ayam. Sekam berasal dari peternakan ayam di sekitar sawah.
Heri juga menebar 5—10 ekor ikan nila per m² di sawah. Lebar kalen atau tempat ikan sekitar 1 meter persis di bawah rak tanam mengelilingi sawah. Dengan kata lain Heri juga menerapkan konsep mina padi.
Menurut pemerhati mina padi di Kota Depok, Jawa Barat, Yudha Setiaji, S.P., M.Si., teknik mina padi membantu dalam pemanfaatan air. Selain itu, mina padi menghasilkan padi yang lebih sehat karena meminimalisir penggunaan pupuk dan pestisida kimia.
Hal itu senada dengan yang dilakukan Heri. Sumber nutrisi dengan sistem budidaya ala Heri, dominan berasal dari pupuk kandang dengan dosis 3—5 ton per ha. Artinya luasan 4.000 m² cukup 1 ton.
Pasokan pupuk kandang dari peternakan ayam dan sapi di sekitar sawah. Adapun pemberian pupuk kimia dengan sistem budidaya ala Heri yaitu 50 kg Urea per ha, 175 kg Phonska per ha, dan 35—40 kg KCl per ha. Jika luasan sawah hanya 4.000 m2 cukup 40% yang diberikan.
Menurut Heri biaya produksi dengan metode itu memangkas hingga Rp1,5 juta per ha. Meskipun demikian hasil panen yang dituai cukup optimal. Dari luasan 4.000 m² hasil panen padi mencapai 3,6 ton—4,4 ton gabah kering panen (GKP) setara 9—11 ton per ha.
Hasil itu lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata panen nasional 2022 yang mencapai 6,2 ton GKP per ha. Selain itu ia juga memanen cabai keriting, jahe, dan ikan.
