Trubus.id—Savana di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali menghijau. Semula hamparan savana bersalin rupa menjadi lautan abu akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi pada September 2023.
Kebakaran itu karena penggunaan flare untuk keperluan foto pre-wedding. Ternyata memicu munculnya api di tengah padang savana. Keruan saja, lebih dari 500 hektare (ha) lahan vegetasi hangus.
Kini, savana gunung bromo yang kembali menawan itu diunggah beberapa konten kreator seperti akun instagram Mutiara Ari Fitriana. Dalam unggahannya itu nampak pemandangan hamparan savana hijau. Hingga saat ini video itu mendapatkan lebih dari 45,9 ribu like dan 528 ribu kali pemutaran.
Menurut Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Indonesia (UI), Dr. Luthfiralda Sjahfirdi, M.Biomed, TNBTS memiliki ekosistem unik karena terdiri dari gurun sekaligus padang savana. Anda dapat menjumpai hamparan padang rumput yang dikenal sebagai Bukit Teletubbies.
Sebelum terjadi karhutla TNBTS juga memiliki pohon-pohon berusia ratusan tahun, seperti cemara gunung (Casuarina junghuhniana), tumbuhan konifer jamuju (Dacrycarpus imbricatus), dan edelweis (Leontopodium nivale). Berbagai jenis anggrek dan rumput langka pun tumbuh di sana.
Tumbuhan lain yang mengelilingi TNBTS, antara lain centigi (Vaccinium varingiafolium), akasia (Acacia), cemara, dan rerumputan. Tumbuhan-tumbuhan itu juga berfungsi sebagai habitat bagi berbagai satwa yang hidup di TNBTS.
Setidaknya terdapat sekitar 38 jenis satwa liar yang dilindungi yang mencakup 24 spesies burung, 11 spesies mamalia, 1 spesies reptil, dan 2 spesies serangga. Satwa itu seperti elang jawa (Nisaetus bartelsi), macan tutul jawa (Panthera pardus melas), dan lutung jawa (Trachypithecus auratus).
Karhutla di kawasan Gunung Bromo dapat menimbulkan dampak jangka pendek dan panjang bagi biodiversitas. Dalam jangka pendek, sejumlah vegetasi endemik hangus terbakar, seperti rumput malela, edelweis, hingga anggrek tosari—spesies endemik pegunungan Jawa.
Kebakaran cenderung “menyiangi” tumbuhan tertentu dan mendukung pertumbuhan tumbuhan lain, terutama rumput. Keleluasaan pertumbuhan rumput yang relatif cepat dalam jangka panjang dapat mengubah area bekas kebakaran menjadi kawasan yang didominasi rumput.
Dampak, kebakaran pada kawasan Gunung Bromo juga berdampak buruk bagi kehidupan satwa. Spesies hewan yang sangat lemah untuk bergerak dan bersembunyi akan mati dilahap api.
“Berbagai laporan penelitian yang dikumpulkan, peristiwa kebakaran memicu serangkaian perubahan pada tanaman, mikrob, jamur, dan organisme lain yang mendiami hutan pascakebakaran. Tak hanya makhluk hidup, kebakaran juga berdampak pada lingkungan,” ujar Dr. Luthfiralda yang dilansir pada laman UI.
Tentu aliran air dapat mengalami perubahan. Hal itu akan mengakibatkan kematian spesies invertebrata air.
Dr. Luthfiralda menuturkan untuk mengembalikan fungsi lahan pascakebakaran, langkah yang harus diambil, salah satunya adalah dengan mendata vegetasi yang terdampak. Memahami biologi spesies vegetasi maupun sifat-sifat hutan.
“Beberapa spesies tumbuhan memiliki biji yang gemar panas. Kebakaran kerap mendorong biji yang tertidur untuk bertunas. Suhu yang tinggi penting bagi perkembangbiakan banyak spesies tumbuhan yang bijinya tidak hanya bereaksi terhadap air, tetapi juga terhadap api,” tutur Dr. Luthfiralda.
Di daerah tropis, wilayah yang hangus terbakar dapat memulai proses suksesi saat musim penghujan.
Lebih lanjut ia menuturkan, pemulihan ekosistem hutan pascakebakaran bergantung pada lanskap, tingkat kerusakan, dan spesies yang terdapat di dalamnya.
Campur tangan manusia dalam proses pemulihan amat dibutuhkan agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat.
“Telah banyak ahli mengadakan penelitian mengenai pemulihan kembali lahan akibat kebakaran. Mereka berpendapat bahwa butuh waktu cukup lama sampai puluhan tahun untuk mengembalikan lingkungan ke kondisi sedia kala,” ujar Dr. Luthfiralda.
