Omzet Rp72 juta sebulan dari perniagaan lele. Permintaan tak surut meski saat pandemi korona.

Trubus — Apa bisnis yang tidak terpengaruh pandemi korona? Riptanto Edy Widodo tegas menjawab, “Berternak lele!” Ucapan itu bukan isapan jempol. Peternak lele di Desa Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, itu rutin memasok hingga 100 kilogram lele per pekan ke pasar dan rumah makan. Harga jual di tingkat peternak Rp18.000—Rp20.000 per kilogram. Omzet Widodo dari perniagaan lele Rp18 juta—Rp 20 juta setiap pekan.
Pasar menghendaki lele rata-rata berbobot 160 gram per ekor atau sekilogram terdiri atas 6 ekor. “Pasokan itu masih sangat jauh memenuhi permintaan,” katanya. Pasalnya, permintaan mencapai 1—1,5 ton setiap pekan. Peternak sejak 1991 itu mengelola 42 kolam berukuran 3 m x 4 m. Sebuah kolam 12 m2 berpopulasi 1.000 ekor. Ia menebar benih 8—9 cm. Masa budidaya 55—60 hari setelah tebar.
Pakan mandiri

Widodo mengatakan, “Jika budidaya tepat dan nutrisi terpenuhi bisa panen lebih cepat.” Alumnus Akademi Peternakan Brahma Putra itu mengatakan, biaya produksi meliputi pakan dan multivitamin mencapai Rp1,4 juta per kolam atau per 1.000 ekor. Ia memanen 160 kg lele per kolam. Mortalitas atau tingkat kematian 2—3%. Artinya penebaran 1.000 benih hingga panen pada umur 50 hari terdapat maksimal 30 ekor benih yang mati.
Peternak berumur 51 tahun itu menghemat biaya produksi dengan meracik pakan mandiri. “Tidak bisa asal racik, perlu juga mengetahui kandungan protein pas untuk lele,” kata Widodo yang belajar meracik pakan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Kota Bogor Jawa Barat. Pasalnya, kelebihan atau kekurangan protein bermasalah. Jika berlebih kurang efisien, adapun kekurangan pertumbuhan kurang optimal. Protein pakan ideal untuk lele 30—32%.
Ia memanfaatkan tepung ikan sebagai sumber pakan. Peternak 51 tahun silam itu meracik pakan mandiri dengan mencampur tepung ikan dan bahan baku antara lain dedak padi, tepung tapioka, tepung tulang daging, minyak ikan, vitamin, dan mineral. Kapasitas produksi pakan mandiri menggunakan mesin pakan 400—1.000 kg per hari. Kualitas pakan sudah standar pabrik dengan harga lebih ekonomis.

Menurut Widodo biaya produksi pakan mandiri Rp7.000 per kilogram, sementara pakan pabrikan Rp11.500 per kilogram dengan mutu sama. Keruan saja itu bisa menghemat biaya pakan hingga 40%. Mutu pakan mandiri kreasi Widodo terbukti tidak kalah dengan pakan pabrik. Nilai Feed Convention Ratio (FCR) lele rata-rata di kolam Widodo 1. Artinya 1 kilogram pakan menjadi 1 kilogram daging. “Rekor terbaik dari 1 kilogram pakan menjadi 1,2 kilogram daging,” kata Widodo.
Probiotik
Membuat pakan mandri bukan tanpa kendala. Pada musim hujan pembuatan pakan mandiri kerap tersendat. Ia membutuhkan waktu lebih lama, hingga 7 hari untuk membuat bahan baku tepung ikan. Harap mafhum, pengeringan masih mengandalkan sinar matahari. Bandingkan dengan pengeringan pada musim kemarau hanya 2—3 hari. Selain pakan, Widodo juga membuat probiotik mandiri dengan mengisolasi probiotik dari pupuk guano atau kotoran kelalawar.
Faedah probiotik menjaga kualitas air dan meningkatkan palabilitas atau kemampuan untuk merasa, mencicipi, mengecap. Widodo kerap mengaplikasikan probiotik 3 ml per pekan per kolam. Berternak lele bukan berarti tanpa kendala. Musim hujan perkembangan penyakit seperti moncong putih relatif tinggi. Mencegahnya dengan menaburkan 2 genggam garam pada kolam. Itu berfungsi sebagai disinfektan alami pada kolam.

Adapun masalah pada musim kemarau kekurangan air. Widodo menyiasatinya dengan membuat sumur bor sedalam 60—80 meter. “Harus dalam agar tidak mengganggu kebutuhan air warga,” katanya. Saat musim kemarau sumur bor itulah yang jadi penolong. Pompa terus menyala 24 jam untuk mengairi kolam lele. Memang biaya produksi lebih mahal. Namun, itulah siasat Widodo agar terus memproduksi lele sepanjang tahun.
Widodo optimis tren bisnis lele akan terus melonjak karena permintaan masih tinggi. Bisnis lele juga sangat prospek karena menjadi alternatif pemenuhan gizi masyarakat kala pandemi Covid-19. Harganya lebih ekonomis dibandingkan dengan komoditas penghasil protein lainnya misal daging sapi dan ayam. Pantas kolam Widodo terus bertambah. Saat memulai bisnis pada 1991 ia memiliki 12 kolam masing-masing berukuran 12 m2, kini menjadi 42 kolam berukuran sama. (Muhamad Fajar Ramadhan)
