Sunday, November 27, 2022

Segarnya Bisnis Puspa Hijau

Rekomendasi

Kini tercatat 29 j enis daun potong dijual di pasar bunga terbesar di Jakarta itu dengan omzet Rp4,2-miliar sepanjang Januari—Oktober 2009. Jumlah itu 10% lebih tinggi ketimbang setahun silam. Pemasoknya meluas ke Tangerang, Banten.

Meningkatnya penjualan daun potong dari tahun ke tahun di Pasar Bunga Rawabelong bukan tanpa alasan. Perubahan tren rangkaian bunga jadi salah satu penyebabnya. Dulu daun hanya dikenal sebagai pelengkap rangkaian bunga. Dalam 1 rangkaian, daun paling mengisi 30% porsi rangkaian. Kini peranan daun berubah. “Daun memberi nilai tambah sehingga rangkaian lebih menarik dan tampak hidup,” kata Andy Djati Utomo, AIFD, ketua Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI).

Para perangkai kian menyadari daun memiliki daya tarik sendiri karena bentuk, warna, dan teksturnya sangat beragam. “Ada yang berbentuk lonjong, oval, pedang, bintang, hati, dan menjari,” ujar Nancy Mudali, perangkai di Jakarta. Sedangkan teksturnya licin, kasar, halus, tebal, bergaris, dan bergelombang. “Warnanya pun tak melulu hijau,” tambah Nancy yang juga sekretaris IPBI Jakarta Barat, itu. Misalnya cordyline berwarna merah; florida beauty, kuning-hijau; dan calathea, perak-hijau dengan bagian bawah daun ungu. Variasi warna daun membuatnya berpeluang untuk menggantikan warna dari bunga.

Murah

Harga daun potong yang relatif murah pun menjadi substitusi bunga yang lebih mahal. Untuk dekorasi pesta pernikahan misalnya. “Luasan 1 m x 1 m saja dibutuhkan 150 tangkai bunga potong, misal krisan. Sedangkan dengan daun potong seperti philodendron, paling 10 lembar. Sebagai pemanis baru ditambahkan bunga potong sedikit,” kata H S omadi, staf UPT Pasar Bunga Rawabelong. Dengan biaya dekorasi lebih murah, permintaan daun potong ikut terdongkrak.

Kehadiran daun potong juga menjadi pilihan pas ketika perangkai mesti mendekorasi ruangan untuk acara tertentu, seperti rapat. Di era 90-an, biasanya dibuatkan taman buatan dari susunan tanaman dalam pot. “Kini ada floral foam sebagai pengganti pot yang bisa disusun mengikuti desain taman yang akan dibuat. Berikutnya tinggal merangkai daun dan bunga di atasnya. Taman jadi dalam sekejap tanpa harus mengangkat-angkat pot yang berat,” kata Somadi.

Tren penggunaan daun itulah yang ditangkap pekebun. Mereka berlomba menyajikan jenis-jenis baru. Contohnya daun kemuning—yang semula lebih sering dipakai sebagai elemen taman karena bunganya harum—kaca piring, serta polyscias yang mulanya tanaman pot. Daun tanaman semak itu dipakai sebagai penutup dasar atau floral foam. Jenis herba seperti selloum, liriope, dan philodendron xanadu sebagai pemanis rangkaian. Daun-daun itu bentuknya menarik dan tahan lama, minimal 5 hari. Bunga potong rata-rata cuma tahan 2 hari.

Naik 10%

Salah satu yang menangkap peluang itu adalah nurseri Omniflora di Surabaya, Jawa Timur. Produsen bunga potong—gerbera, krisan, dan mawar—itu menanam philodendron marbel dan ivy di lahan seluas 2.000 m2. Lahan itu 4 kali lebih luas ketimbang 2 tahun silam. “Kebun diperluas karena permintaan daun potong selalu meningkat,” kata Rafael Hiu, sang pemilik. Rata-rata permintaan meningkat 10% setiap tahun.

Manisnya bisnis daun potong juga dialami Leonora. Ia menanam philodendron, cordyline, dan cemara di lahan seluas 2.000 m2 di Mojokerto, Jawa Timur.

Saat ini Leonora memanen daun potong berdasarkan pesanan. Pesanan untuk masingmasing jenis sekitar 20 ikat per bulan. Satu ikat berisi 10 daun. “Biasanya permintaan meningkat 2—3 kali lipat di musim pernikahan,” kata wanita kelahiran Kapuas, Kalimantan Tengah, itu. Selain memasarkan dari kebun sendiri, Leonora juga menjual daun potong dari pekebun sekitar yang memproduksi asparagus bintang, kuskus, dan ivy.

Di Ciputat, Tangerang, ada nurseri Tanah Tingal Orchid (TTO) yang serius berbisnis daun potong sejak 2004. Kebun seluas 1 ha ditanami philodendron gergaji dan marbel. Menurut Himjar Nasution, kepala bagian produksi dan perawatan TTO daun potong diminati pekebun karena perawatannya mudah dan murah. Dengan pemupukan minimal pun daun tetap bisa dipanen. Penanaman bisa di sela-sela tanaman lain sehingga tidak menyita tempat. Contohnya florida beauty Dracaena godseffiana yang tumbuh subur di bawah rak anggrek.

Berkualitas

Menurut Karen Sjarief Tambayong, ketua umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), dengan banyak ragam dan kualitas yang baik, daun potong Indonesia berpeluang berkibar di dunia internasional. Salah satu bukti tercetus dari bibir Gregor Heinrich Lersch, perangkai asal Jerman. “Saya suka daun hias dari Indonesia. Sangat indah dengan berbagai variasi bentuk dan warnawarni yang menawan,” kata Gregor.

Pada September 2009 Gregor mengapresiasikan kekagumannya dengan membuat rangkaian terdiri dari 100% daun pada pameran Forever Green Indonesia 2009. Pameran yang dimotori Asbindo dan Newline Floral Education Centre itu mengangkat tema pesona daun Indonesia. “Dengan begitu masyarakat Indonesia bisa lebih menghargai produk dalam negeri dan lebih kreatif dalam mengoptimalkan penyajiannya ke dalam rangkaian yang indah,” kata Karen. Tak heran bila selalu terbuka peluang menawarkan daun hias baru. (Rosy Nur Apriyanti)

 

 

Karya Gregor Heinrich Lersch, 100% daun

Dekorasi pernikahan lebih segar dengan kehadiran daun

Dulu rangkaian didominasi bunga, daun maksimal 30%

Puring, mulai diminati sebagai daun potong

Foto-foto : Nesia Artdiyasa & Suci P

Previous articleKumpulan e-book
Next articlePohon Pusaka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img