Tuesday, July 23, 2024

Sejuta Bibit dari Tangan Ganesa

Rekomendasi
- Advertisement -

Sri Nanan Widiyanto PhD dari Istitut Teknologi Bandung-perguruan tinggi berlambang Ganesa-menjamin bibitnya yang lahir dari rahim kultur jaringan bebas hama dan penyakit.

 

Pertamina saja meminta jatah sejuta bibit. Belum lagi permintaan anggota masyarakat yang saat ini demam mengebunkan jarak Jatropha curcas sebagai bahan baku biodiesel. Perbanyakan dengan setek, tak dapat diharapkan. Menurut Dr Ir Theresia Prawitasari, ahli kultur jaringan Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor, setiap pohon maksimal hanya dapat diambil 3 setek agar pertumbuhan induk tidak terganggu. Apalagi sekarang populasi induk terbatas.

Biji? Sumber biji juga terbatas, berkompetisi dengan kebutuhan pengadaan minyak, dan tempurung keras sehingga perkecambahan lama. Jalur cepat pengadaan bibit ditempuh Sri Nanan dengan teknologi kultur jaringan. Doktor Botani lulusan Colorado University itu memanfaatkan 2 ruang steril berukuran 6 m x 8 m. Di Laboratorium Kultur Jaringan Departemen Biologi di lantai 4, wanita 48 tahun itu beserta 16 orang asisten menggandakan jarak.

  1. Pohon induk diambil dari tanaman jarak yang tumbuh di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Varietas itu bermutu tinggi, produktivitas mencapai 5 ton per ha ketika tanaman berumur 4 tahun. Biji dari pohon itu disemaikan di media dan tempat yang terjaga sanitasinya. Setelah berumur dua bulan, tanaman siap dijadikan pohon induk kultur jaringan.
  2. Pucuk tanaman induk yang terdapat tunas ketiak dipotong setinggi 5 cm. Seluruh daun dan tangkai dibuang. Sebuah tanaman hanya diambil 2-3 potongan pucuk. Pemotongan dilakukan di Laminar Airflow Cabinet, ruang suci hama yang dilengkapi sinar UV. Hasil potongan itu direndam akuades dalam botol transparan selama 24 jam. Tujuannya untuk menghilangkan getah dan zat lain yang menghambat pertumbuhan tunas.
  3. Setek kemudian dikeluarkan dari botol dan ditiriskan beberapa saat. Setelah tiris, tunas ketiak dipotong dengan pisau tajam yang sudah disterilkan dengan alkohol. Ujung setek dipegang dengan pinset. Pemotongan tunas ketiak itu juga dilakukan di dalam Laminar Airflow Cabinet.
  4. Dengan pinset itu tunas ketiak yang telah dipotong dimasukkan ke dalam botol berisi akuades. Diameter botol 5 cm dan tinggi 10 cm. Dalam sebuah botol terdapat sekiat 10 potongan ketiak daun. Calon generasi baru itu kembali direndam dalam akuades selama 24 jam untuk menghilangkan sisa getah.
  5. Tunas ketiak itu ditempatkan di media kultur jaringan berupa agar-agar berwarna putih. Agar-agar diletakkan di atas botol transparan setinggi 10 cm. Ketebalan media sekitar 2-3 cm. Dalam sebuah botol, Nanan hanya menempatkan satu individu. Botol kemudian ditutup rapat. Botol-botol itu ditempatkan di ruang kultur bersuhu 24oC dan lama penyinaran 16 jam.
  6. Dalam 2-3 pekan tunas ketiak daun itu tumbuh pesat. Tinggi mencapai 4-5 cm, berakar, dan terdapat 2-3 helai daun. Biasanya media tanam habis. Oleh karena itu calon bibit itu dipindahkan ke botol lain dengan pinset. Media di botol baru sama dengan media sebelumnya.
  7. Calon bibit itu dipindahkan ke screenhouse alias ruang kassa. Di sana, jarak ditanam dalam polibag bermedia tanam berupa tanah atau pasir. Ruang kassa berukuran 20 m x 10 m itu menampung 800-1.000 polibag. Di sana tanaman memperbanyak akar selama 1 bulan.
  8. Setelah muncul 4-7 daun, tanaman dipindahkan ke polibag 20 cm x 35 cm. Sekarang bibit pun siap ditanam di kebun. Populasi per ha sekitar 2.500 bibit. Dengan demikian waktu yang dihabiskan untuk melahirkan generasi baru sekitar 3 bulan. Laboratorium Kultur Jaringan ITB mampu menghasilkan sejuta bibit (setara 400 ha) dalam kurun waktu itu. (Imam Wiguna)
Previous article
Next article
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Pakai IoT di Kebun Jeruk, Hasil Panen Optimal

Trubus.id—Penggunaan internet of things (IoT) untuk pertanian turut membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Pekebun jeruk di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img