Sunday, June 16, 2024

Semula Narkotika Kini Hortikultura

Rekomendasi
- Advertisement -

Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan petani dengan agribisnis. Membuang stigma buruk pencandu narkoba.

Ade Rukmana (memegang gelas plastik) memberi penyuluhan penyakit akar gada kepadapara petani mitra.

Trubus — Ade Rukmana memanfaatkan pinjaman Rp2 juta dari ayahnya untuk menyewa lahan 4.000 m² di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Di lahan berketinggian 1.200. meter di atas permukaan laut itu ia menanam berbagai sayuran seperti selada, buncis, tomat, buncis kenya, dan brokoli. Upaya itu membuahkan hasil. Sekadar contoh Ade memetik 4.100 kg tomat dari 1.000 tanaman, 1.200 kg brokoli (2.500 tanaman), dan 1.000 kg buncis (2.500 tanaman).

Semua produksi itu terserap pasar. Petani kelahiran Bandung, 5 November 1983 itu memasarkan beragam sayuran ke pasar modern. Ade ingin megembangkan bisnis sayuran dengan cara memperluas lahan. Kebetulan Ade mendapatkan bantuan dana zakat Rp225 juta dari Dompet Dhuafa pada 2018. Ia juga membangun kemitraan dengan 12 buruh petani setempat. Para petani mengembangkan komoditas tertentu yang pasarnya sudah jelas atas permintaan Ade.

Bermitra

Zakat produktif dari Dompet Duafa itu untuk menyewa lahan 1,2 ha di Lembang, membangun jalan dan saung, serta sarana produksi. Ade mengembangkan tanaman hortikultura bersama 12 buruh tani di wilayahnya. Semula mereka tidak memiliki lahan, hanya menjadi buruh. Ade menyiasati tingginya biaya produksi dengan membeli sarana produksi seperti pupuk dan pestisida langsung dari distributor agar mendapatkan harga murah.

Menurut Ade biaya pembelian pupuk menjadi lebih murah 50% dibandingkan dengan harga di pasaran. Setiap bulan ia memerlukan 60 kg Urea, 120 kg NPK, dan 60 kg KCl. Bahkan, ia mendapatkan saprodi dengan sistem “yarnen” alias membayar setelah panen. Petani hortikultura itu mengatur produksi untuk mencukupi kebutuhan pasar agar pasokan berkelanjutan sekaligus memenuhi kuantitas dan kualitas.

Ia membagi lahan menjadi 12 blok dan menjadwalkan enam periode penanaman. Artinya penanaman dua blok setiap periode tanam atau setiap pekan. Oleh karena itu, dua petani menanam komoditas tertentu setiap pekan. Selain itu Ade juga melibatkan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lembang, Darwin, untuk mengatasi permasalahan seperti serangan hama dan penyakit.

Ade Rukmana mengikuti ekshibisi pertanian yang diselenggarakan Bank Jabar Banten

Petani berusia 37 tahun itu kini menuai rata-rata 1.400 kg buncis kenya, 1.400 kg tomat, 700 kg selada per dua pekan. Ketiga jenis sayuran itu andalan Ade meraih laba. Ia dan petani lain mengemas sayuran di rumah kemas yang ada di sudut lahan. Semua sayuran untuk memasok pasar modern di Kota Bandung dan Jakarta.

Ia menyisihkan hasil panen selama tiga musim untuk mengembalikan anggaran agar tidak memberatkan petani. Pada musim panen pertama, para petani menyisihkan 50% dari biaya sewa, pada musim kedua 30%, dan pada musim ketiga 20%. Itulah sebabnya para petani kontinu mengusahakan lahannya untuk beragribisnis. Setelah sukses bermitra dengan para buruh tani, Ade juga bekerja sama dengan generasi muda di desanya.

Ade membina anak-anak sekolah untuk belajar di lahannya pada setiap Selasa dan Jumat. Mereka belajar membudidayakan tanaman hortikultura, mengemas, memasarkan, bahkan membuat kompos. Durasi belajar itu berbeda-beda tergantung jenis pelajaran. Sekadar contoh lama belajar membuat kompos mencapai 2 hari, sedangkan belajar budidaya sayuran hingga 4 hari. Mereka tidak membayar biaya apa pun untuk belajar di lahan Ade.

Pencandu narkoba

Ade Rukmana menggeluti pertanian, menjalin kemitraan dengan buruh, bekerja sama dengan pemuda setempat untuk “membayar” masa lalu sebagai pencandu narkoba sejak berusia belia, 14 tahun. Ia menjalani kehidupan di Panti Rehabilitasi Rumah Cemara selama dua tahun pada 2005—2007. Anak sulung dari empat bersaudara itu menyadari kekeliruan mengonsumsi narkoba. Begitu kondisi membaik, Ade bekerja pada Yayasan Rehabilitasi Rumah Cemara pada 2007—2013.

Kunjungan warga Jerman ke Agronative Farm.

Ia melihat kesenjangan besar antara si kaya dan si miskin di desanya. Oleh karena itu, Ade tergerak mengatasinya dengan menjadi petani. Modal beragribisnis merupakan pinjaman keluarga. Ade menghasilkan produk berkualitas tinggi untuk memasok pasar modern pada 2013. Ia membuktikan bahwa pertanian mampu mengatasi kesenjangan. Kesejahteraan para butuh tani yang bermitra dengannya meningkat.

Ade membentuk Agronative Park yang bergerak di bidang wisata. Kegiatan wisata agro dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan meningkatkan pendapatan asli daerah. Petani itu juga sudah membentuk Agronative Barn yang mengusahakan peternakan. Kelompok itu mendapat bantuan dari PT Inagri untuk membeli domba. Ade menerima investor yang ingin mengelola domba dengan pembagian hasil usaha 70% untuk peternak, 20 % (investor), dan 10% (kelompok). (Ir. Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian di Kementerian Pertanian).

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berniaga Bibit Buah Naga, Pekebun di Subang dapat Cuan Puluhan juta

Trubus.id—Dedi Sumardi selalu kebanjiran pesanan ribuan bibit buah naga. Total sekitar 2.480 batang bibit yang terjual dalam sebulan.  Ia...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img