Monday, May 20, 2024

Sentra Budidaya Manggis Tri Mandiri : Bisnis Besar Manggis Ekspor

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Pintono hanya memiliki 10 pohon manggis produktif dan 25 pohon yang belum berbuah. Meski begitu Pintono mampu memasok manggis untuk pasar ekspor. Sebetulnya pria asal Desa Tambakasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu sudah memasok pasar ekspor sejak 2018, tetapi untuk perusahaan eksportir lain.

Saat ini ia menjadi agen salah satu perusahaan eksportir di Provinsi Jawa Barat untuk mengekspor manggis ke Tiongkok (lihat boks: Kemas Manggis Ekspor). Saat permulaan musim panen, Pintono menjual 1,5 ton manggis untuk ekspor per hari.

Saat panen raya penjualan manggis hingga 5 ton per hari selama 2 bulan. Jumlah hasil panen itu dipasok oleh sekitar 200 pekebun yang tergabung dalam Sentra Budidaya Manggis Tri Mandiri. Menurut Pintono jumlah pasokan itu masih kecil dibandingkan dengan jumlah permintaan yang datang.

Harga tinggi

“Jika kualitasnya bagus, pasar untuk ekspor masih terbuka lebar,” kata pria berumur 53 tahun itu. Syarat  manggis untuk ekspor harus mulus, tingkat kematangan 80%, serta cuping hijau, segar, dan utuh. Sebetulnya Pintono mengepul manggis sejak 2010, tetapi untuk memenuhi pasar lokal saja.

Ia mulai menjual manggis menggunakan mobil bak terbuka ke pasar-pasar sekitar Malang dan Kota Batu pada 2012. Seorang rekan mengenalkan Pintono kepada pengepul yang memasok perusahaan eksportir di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, pada 2017— 2018.

Ia pun membawa manggis dari Malang ke gudang perusahaan ekspor di Banyuwangi itu untuk sekadar cobacoba. Pada 2018, Pintono mulai memasok manggis untuk ekspor ke Banyuwangi. Ternyata produk asal Malang disukai karena berkualitas prima.

Syarat manggis untuk ekspor harus mulus, tingkat kematangan 80%, serta cuping hijau, segar, dan utuh. Foto : Widi Tria Erliana

Saat kemarau 80% hasil panen bisa lolos untuk kualitas ekspor. Ternyata harga manggis untuk ekspor lebih bagus daripada pasar lokal. Harga manggis berkualitas super mencapai Rp20.000—Rp25.000 per kg. 

Sementara harga di pasar lokal dengan kualitas sama hanya Rp10.000 per kg. Apalagi pasar ekspor sudah pasti dan dari segi keuangan juga lebih pasti. Sayang pasokan manggis untuk memenuhi kebutuhan ekspor masih terbatas.

Padahal di Tambakasri terdapat ribuan pohon manggis yang berumur lebih dari 15 tahun dan sudah berbuah. Populasi itu tersebar di lahan 80 hektare (ha). Manggis berbuah pada umur 8 tahun. Saat berbuah perdana hasil panen hanya sekitar 10 kg. Makin lama hasil panen bertambah.

“Pada umur 20 tahun bisa mencapai 500 kg per pohon,” ujar ayah dua anak itu. Musim panen raya pada Juni—Agustus. Pada 2023—2024, panen lebih sering yaitu pada Maret, Apil, Mei, Juli, Agustus, dan Januari akibat perubahan iklim.

Saat musim hujan kualitas manggis menurun yakni hanya 60% yang lolos pasar ekspor. Musababnya saat musim hujan banyak buah yang terkena getah dalam. Bagian luar buah mulus, tetapi bagian dalam rusak.

Kekurangan air juga bisa menyebabkan buah rusak lantaran berkulit kasar. Itu salah satu kendala berkebun manggis (lihat boks: Atasi Aral Manggis).  Manggis tidak lolos untuk ekspor ia jual ke pasar lokal seperti Pasar Gadang seharga Rp7.000—Rp8.000 per kg.

Dukungan BRI

Agar bisa menghasilkan buah berkualitas prima dan tetap produktif, Pintono merawat pohon secara intensif. Ia memupuk tanaman setelah panen raya. Dosis pupuk menyesuaikan ukuran pohon.

Pohon berukuran besar memperoleh 5 kg Urea, 5 kg ZA, dan 5 kg SP-36 per pohon. Pemupukan 2 kali setahun setelah panen. Ia juga menambahkan 2 sak pupuk kotoran kambing per pohon per tahun.

Saat ini Sentra Budidaya Manggis Tri Mandiri tengah mengaplikasikan pupuk cair berbahan kotoran kambing terfermentasi dan limbah ikan. Setelah diencerkan dengan air, cukup berikan 0,5—1 liter pupuk per pohon. Frekuensi pemupukan 2 kali setahun.

Sebagai Mantri BRI Unit Sendang Biru, Malang, yang bertugas memberikan pemberdayaan dan layanan keuangan segmen mikro, M. Syahril Aliif, melirik usaha Pintono dan kelompok taninya pada 2021 karena memiliki potensi untuk menjadi klaster.

Pada 2022, BRI mengukuhkan kelompok tani pimpinan Pintono menjadi menjadi klaster Sentra Budidaya Manggis Tri Mandiri. Sejatinya Kelompok Tani Tri Mandiri berdiri sejak 2015. Awalnya kelompok tani itu hanya beranggotakan 10 orang.

“Sekarang berkembang menjadi 39 orang,” kata pria lulusan sekolah menengah atas (SMA) itu. Dengan adanya klaster, para anggota kelompok tani mendapat perhatian dan berbagai fasilitas untuk pengembangan usaha.

Salah satunya Kelompok Tani Tri Mandiri dapat berjualan manggis di kantor pusat BRI di Jakarta. Saat itu mereka membawa 400 kg manggis berkualitas ekspor. “Hanya kurang dari sejam manggis habis,” kata Pintono. Padahal harga jual manggis tergolong mahal yakni Rp40.000 per kg. Itu bukti bahwa jika produk bagus, pasar lokal pun mampu menyerap.

Tali pengaman bantuan BRI untuk menjaga keselamatan petani saat memanen manggis di pohon yang tinggi. Foto : Widi Tria Erliana

Partisipasi kelompok tani itu di kantor pusat BRI turut mempromosikan manggis mereka sehingga lebih dikenal banyak orang. BRI juga memberi berbagai bantuan seperti 10 tangga, 20 sabuk pengaman, 100 keranjang, 15 pemetik buah berupa kantong, dan 10 jaring pengaman hasil panen.

Tangga memudahkan petani memanjat pohon manggis yang tinggi. Sementara sabuk pengaman menjaga keselamatan para pemanen sehingga kecelakaan kerja diminimalisir. Fungsi keranjang untuk menampung hasil panen agar kondisi buah tidak rusak. Terutama menjaga agar cuping buah tetap segar dan utuh.

KUR BRI

Pemetik buah berupa kantong menghindari kerusakan buah. Adanya bantuan BRI itu makin memudahkan pekerjaan para anggota klaster di kebun manggis. Kehadiran klaster juga menjadi wadah para pekebun manggis.

“Jadi, jika pekebun ada keluhan, maka bisa didiskusikan dan dimusyawarahkan,” ujar ketua Sentra Budidaya Manggis Tri Mandiri itu.

Harga manggis juga menjadi lebih stabil yakni Rp10.000—Rp20.000 per kg. Saat eksportir membutuhkan pasokan manggis, maka para pekebun anggota bisa berkumpul untuk memenuhi kapasitas yang diperlukan eksportir.

Pohon manggis rajin berbuah berkat perawatan rutin. Foto : Dok. Trubus

Pekebun juga lebih mudah mendapat akses untuk mendapatkan kredit usaha rakyat (KUR) BRI. “Prosesnya mudah, bunganya ringan, dan cairnya cepat. KUR BRI membantu perekonomian para pekebun, perputaran ekonominya lancar, dan perdagangannya bagus. Dengan begitu, peningkatan ekonomi masyarakat juga semakin bagus,” tutur Pintono mewakili anggota klaster. (Imam Wiguna/ Peliput: Widi Tria Erliana).

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Harga Hingga Rp25 Juta, Kambing Hias Pigmi Incaran Pehobi

Trubus.id—Para pehobi menggemari kambing pigmi yang lucu sebagai kambing hias. Menurut pemilik Pet Icon Jogja di Kabupaten Sleman, Provinsi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img