Friday, December 2, 2022

Setangkai Flores

Rekomendasi

 

Padahal, Flores sungguh hijau, subur, elok, dan permai. Sawah terasiring terhampar, hutan kemiri, cengkih, dan kopi tumbuh subur. Mungkin lantaran itulah Portugis memberi nama pulau seluas 142 km2 itu Flores yang berarti bunga. Pada penghujung Agustus 2009 wartawan Trubus Sardi Duryatmo mengunjungi Lembah Mukun, Kabupaten Manggarai Timur, di Pulau Flores.***

 

  1. Penyambutan tamu secara adat di Desa Golomeni, Kecamatan Kotakomba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. David Ngge (tengah), tetua adat memimpin penyambutan dengan membaca mantra-mantra dalam bahasa Manggarai. Intinya mendoakan agar tamu selamat dan kehadirannya membawa berkah.
  2. Tuak atau cairan nira aren Arenga pinata hasil fermentasi melengkapai ritual penyambutan tamu. Minuman itu tersimpan dalam labu botol <i>Lagenaria vulgaris</i> yang secara turun-temurun dimanfaatkan sebagai penyimpan air. Selain tuak masih ada ayam jantan berbulu putih simbol penerimaan secara terbuka.
  3. Simbol diterimanya para tamu adalah ketika warga memberikan romboh alias peci dan kain songkekain tenun khas Manggarai. Selendang dan songke hasil tenunan masyarakat Todo, Manggarai Tengah, dan Lambaleda (Manggarai Timur). Mereka menenun dengan alat tenun bukan mesin selama 3 bulan. Warna dasar biru karena benang dicelupkan dalam air rebusan daun tarum Indigofera tinctoria.
  4. Suara David Ngge membahana: ‘Yo hai lalong Jakarta, sanggen sekareng deudeu tara tara.’ Ia mencabut keris lalu mengacung-acungkan ke angkasa. Tangan direntangkan seperti hendak terbang. Lalu ia menyodorkan ujung keris itu agar kami sentuh dengan kedua tangan.
  5. Di atas rumah adat Manggarai biasanya terdapat patung kepala manusia dengan 2 rangga kaba alias tanduk kerbau (rangga = tanduk, kaba = kerbau). Tanduk kerbau simbol kerja keras, solidaritas, dan kebersamaan. Periuk di atas kepala menghadap ke langit simbol hormat kepada pencipta.
  6. Pada hari berikutnya masyarakat setempat mengadakan upacara doal kaba (doal = jatuh, kaba = kerbau). Mereka mengorbankan seekor kerbau dan babi untuk persembahan kepada leluhur yang marah. Bentuk kemarahan leluhur antara lain longsor di berbagai tempat dan kekeringan. Mereka memaknai gejala alam itu sebagai amarah para leluhur. Oleh karena itu mereka mengorbankan kerbau.
  7. Dalam setiap upacara adat terdapat tim ronda, bukan penjaga malam, tetapi grup paduan suara yang berjumlah 8 orang. Mereka menyanyikan kidung yang melengking-lengking selama upacara berlangsung.
  8. Ritual adat tak dapat dilepaskan dari peran raga sae. Raga diperankan para pria yang akan menari dengan gerakan kuat perlambang kejantanan. Mereka mengenakan baju putih dan kain songke. Sae diperankan oleh perempuan yang menari dengan penuh kelembutan perlambang tulus dan cinta kasih
  9. Manggarai mempunyai tarian khas bernama caci. Caci berasal dari kata ca dan ici. Ca berarti satu; ici, masing-masing. Artinya, penari secara bergantian melecut dengan cemeti. Para penari cacihanya dimainkan oleh kaum priamengenakan pakaian adat didominasi warna merah.
  10. Lengan Rofinus Nomat, penari caci, terluka akibat sabetan cemeti. Di punggung pemain lain terdapat luka sepanjang 20 cm akibat cambukan penari caci lain. Peserta caci tak pernah dendam satu sama lain. Urusan selesai begitu tarian rampung dipentaskan.
  11. Masyarakat Lembah Mukun, Manggarai Timur, memanfaatkan bunga kering tanaman wela kelas (kedua huruf ‘e’ dibaca keras seperti pada kata kemah) sebagai pengganti kapas untuk mengisi bantal. Dalam bahasa setempat wela berarti bunga. Namun, kini wela kelas jarang dimanfaatkan lagi.
  12. Pendatang dari Sulawesi Selatan menetap di Kaburea, Kabupaten Nagekeo, NTT. Mata pencaharian mereka berladang garam secara tradisional, selain beternak sapi.
  13. Manggarai (kini terbagi menjadi 3 daerah tingkat II) salah satu pemasok beras bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur. Salah satu sentra padi adalah Kabupaten Manggarai Timur yang memiliki banyak sawah terasiring.
  14. Sebuah bukit kecil menyembul di dekat pantai Maorole di bagian utara Pulau Flores. Panorma elok pantai itu dapat dinikmati pelancong dalam perjalanan dari Maokaro, Kabupaten Nagekeo menuju Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, NTT.
  15. Masyarakat Manggarai menyelenggarakan tarian caci ketika ada penti alias upacara pernikahan atau tahun baru khas Manggarai pada Juli atau Agustus. Biaya penyelenggaraan caci amat mahal, mencapai belasan juta rupiah. Penyelenggara caci menanggung biaya konsumsi peserta dan tamu. Pada saat bersamaan warga memotong kerbau dan 10 babi.
  16. Panorama Kabupaten Manggarai Timur dengan latar belakang Gunung Inerie. Gunung setinggi 2.245 m itu terdapat di Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Hanya bagian barat yang masih terdapat hutan. Di sisi lain telah terkonversi menjadi lahan perkebunan.
  17. ‘Hutan’ mahoni tertata rapi di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai.
  18. Dua remaja Lembah Mukun menyalakan lilin dalam upacara pentupan Pesta Petani Integritas. Menurut tetua adat setempat, lilin yang menyala simbol penerangan agar rencana pengembangan pertanian organik di Mukun berjalan lancar.
  19. Dalam tradisi Manggarai, tua teno merupakan pemimpin adat yang mewakili setiap dusun. Di Desa Golomeni, Kecamatan Kotakomba, Manggarai Timur, terdapat 12 tua teno seperti tua tabu, ladok, manus, podol, dan leke. Tugas mereka mengatur pembagian dan pemanfaatan tanah.Sedangkan tua golo berperan dalam merawat rumah adat. Para tua tuna dari kiri: Nicolaus Enggong, Kandidus Nabi, Gerardus Golo, Martin Tolentino, Joseph Juni, dan Johanes Pawo
Previous articleSikas Naga
Next articleEksplorasi Nepenthes Papua
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img