Batang seanjang 70 cm menghasilkan 26 bibit setek.
Khulub Satria Hadi memotong batang tin jenis bourjassote noire yang tumbuh di depan rumahnya. Setelah membuang daun, pehobi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, itu memperoleh 70 cm batang siap setek berdiameter 2 cm. Kolektor puluhan jenis tin itu lalu memotong-motong batang menjadi 26 irisan sepanjang masing-masing 2—2,5 cm atau setiap mata tunas.
Itulah bahan setek yang amat pendek. Menurut Khulub perbanyakan tin dengan teknik setek lebih cepat dibandingkan dengan cangkok. Akar lebih cepat tumbuh sehingga lebih cepat sekaligus lebih banyak menghasilkan bibit. Perbanyak setek hanya memerlukan waktu 12—20 hari untuk menghasilkan akar, sedangkan cangkok memerlukan waktu sekitar 28 hari.
Cepat

Khulub membandingkan dengan perbanyak cangkok, batang dengan panjang 70 cm hanya dapat menghasilkan maksimal 2 bibit. Jika tanaman yang sama ingin dicangkok lagi memerlukan waktu 3 bulan untuk menunggu batang tumbuh dan siap dicangkok. Jika batang bercabang menjadi 3 maka dalam empat bulan hanya mendapatkan 2 bibit dan 3 calon bibit hasil cangkok.
Setek superpendek itu mulai ia lakukan sejak 2014. Sebelumnya ia hanya melakukan setek dengan 3—4 mata tunas atau panjang batang setek 15—20 cm. Ia mengadopsi teknik setek pada tanaman tebu yang dapat mengeluarkan tunas di setiap ruas batang. “Awalnya lihat tanaman tebu yang bisa mengeluarkan tunas di setiap ruas batang. Lalu saya coba-coba di tin,” ujarnya.

Percobaan pertama itu tidak langsung berhasil. Menurut Khulub saat itu tingkat keberhasilan hanya 10%. Namun, setelah mencoba beberapa kali kini tingkat keberhasilan meningkat hingga 70%—80%. Khulub memilih batang yang sudah tua untuk di setek dengan ciri batang berwarna cokelat, dalam masa dormansi, dan berkambium. Ir Edhi Sandra MSi mengatakan, pemilihan batang untuk setek lebih baik yang berkayu dan tidak terlalu tua.
“Jaringan pada batang yang sudah terlalu tua akan sulit berakar, sedangkan jika batang muda, belum berkayu, dan berwarna hijau lebih rawan rusak jika di setek,” ujar Ahli Fisiologi Tumbuhan Institut Pertanian Bogor itu. Selain itu Khulub juga memperhatikan diameter batang, karena akan mempengaruhi panjang setek yang dibuat. Semakin besar diameter batang maka calon tunas juga semakin besar sehingga setek akan semakin panjang.
Selain mendapatkan bibit dalam jumlah banyak dan cepat Khulub juga dapat menghemat tempat. Karyawan salah satu lembaga riset di Cangkringan, Yogyakarta, itu cukup menggunakan gelas bekas es krim berdiameter 6 cm dan tinggi 7 cm untuk menanam setiap potongan setek. Ia mencuci batang yang sudah dipotong dengan air bersih untuk menghilangkan getah dan kotoran.

Khulub lalu merendam batang di larutan zat perangsang tumbuh (ZPT) untuk mempercepat pertumbuhan akar selama 1—2 jam. Selain ZPT yang ada di pasaran, Khulub juga beberapa kali mengganti ZPT dengan air bawang merah. “Bawang merah dihancurkan lalu dimasukkan ke dalam 100 ml air. Air rendaman itu dapat digunakan untuk menganti ZPT,” ujar Khulub.
Komposisi media semai adalah serbuk sabut kelapa 50% dan arang sekam 50%. Khulub memilih kedua media tanam itu karena mudah didapatkan dan relatif murah. Berbeda dengan temannya, Candra Dio di Medan, Sumatera Utara. “Ia menggunakan media perlite yang harganya mencapai Rp25.000—Rp30.000 per liter. Media itu bagus karena dapat menyimpan air dan suhu media tetap terjaga,” ujar Khulub.
Setelah menanam bahan setek di gelas es krim, ia menyungkup agar suhu di media tanam terjaga. Khulub menggunakan gelas plastik berdiameter 9,25 cm dan tinggi 15 cm sebagai sungkup. Keberhasilan setek ditandai dengan keluarnya akar. Setelah terlihat akar stek siap dipindah ke polibag. Menurut Khulub proses pindah tanam merupakan tahap yang paling sulit.
“Kegagalan paling banyak terjadi saat pindah tanam karena tanaman stres dan tidak dapat beradaptasi di media barunya,” ujarnya. Khulub menggunakan media tanam campuran sekam, serbuk sabut kelapa, dan tanah dengan perbandingan 2:1:2. Setelah pindah tanam, Khulub meletakkan polibag di bawah naungan atau di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung sampai keluar tunas, yaitu 2 pekan.
Setelah itu ia memindahkan polibag ke bawah sinar matahari langsung agar pertumbuhan tunas semakin cepat. “Pada umur 2,5 bulan setelah pindah tanam biasanya sudah tumbuh setinggi 20 cm,” ujar Khulub. (Ian Purnama Sari)
