Friday, January 16, 2026

Siasat Raih Untung di Luar Musim

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Menanam sayuran pada musim hujan berisiko tinggi. Serangan layu bakteri dan busuk daun akibat cendawan sering kali manghancurkan tanaman. Gagal panen berdampak pasokan ke pasaran berkurang sehingga harga melambung.

Kenyataan itu berlangsung November—April setiap tahun. Di banyak negara di Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan RRC, pada saat itu bahkan tak ada penanaman karena musim dingin. Teknologi hidroponik atau aeroponik sebetulnya dapat jadi solusi.

Namun, biaya produksi terlalu besar sehingga tidak semua petani bisa menerapkannya. Inilah sebetulnya kesempatan bagi petani skala kecil bersaing mendapatkan pasar. Pada musim tanam raya mereka selalu kalah dengan petani besar. Harga melorot tajam.

Hanya saja untuk menanam di luar musim butuh teknologi budidaya spesifik. Sayur semusim berprospek baik untuk ditanam di luar musim di antaranya kubis, kol bunga, kol merah, brokoli, sawi putih, tomat, cabai, mentimun, terung, dan buncis.

Komoditas itu tidak menghendaki air berlebih, air tanah relatif dalam, dan aerasi kurang baik. Jika terjadi air berlebih saat musim hujan, respirasi akar terhambat sehingga timbul glukosa saturated. Senyawa itu menghambat karbon asimilasi yang menyebabkan pertumbuhan terganggu, gugur bunga, dan buah.

Tanaman sangat rentan serangan hama dan penyakit terutama cendawan dan bakteri. Busuk akar fusarium dan xanthomonas mematikan tanaman. Belum lagi busuk daun, busuk buah, bercak daun, downy mildew, dan alternaria terus mengintai.

Saat persemaian, penyakit rebah batang masalah serius yang harus diantisipasi. Misalnya fusarium, phytium, sclerotium, rhizoctonia, dan phytopthora. Dengan risiko kegagalan tinggi itu menyebabkan sedikit petani yang menanam.

Petani-petani bermodal besar menggunakan mulsa dan penyemprotan pestisida intensif. Itu pun tidak menjamin keberhasilan panen. Penanaman di luar musim sebetulnya sederhana. Prinsipnya membatasi masuknya air hujan ke dalam lapisan olah tanah dan meningkatkan pertumbuhan akar.

Aerasi atau respirasi akar lancar sehingga tanaman bisa menyerap lebih banyak hara. Oleh karena itu produksi tidak kalah dengan penanaman pada musimnya. Penanaman di luar musim bisa diterapkan di dataran rendah dan tinggi, asal tepat memilih varietas.

Buat guludan setinggi 40 cm dari dasar selokan dan berbentuk “punuk kebo” (tidak rata). Sekitar 1—2 hari sebelum tanam, tanah disemprot kompos cair yang mengandung Mg, Zn, C organik, karbohidrat dan asam humus.

Konsentrasinya 0,5 l/tangki dengan dosis 10—20 l/ha, tergantung jenis tanaman dan tanah. Tanah berpasir dosisnya lebih tinggi dibanding tanah liat. Pupuk dasar diberikan sesuai anjuran dan jenis tanaman.

Setelah bibit ditanam, 2—3 cm tanah di permukaan guludan dipadatkan. Tujuannya agar air hujan yang meresap ke dalam tanah berkurang. Cara ini murah dan praktis. Akar tanaman lebih aman dari kemungkinan tergenang air hujan yang sering masuk melalui lubang mulsa plastik.

Akar lateral pun tumbuh meluas dan dalam. Dengan bantuan asam humus akar mampu menambang hara terikat dan mineral induk. Untuk menyempurnakan kerja akar tambahkan pupuk organik cair asal fermentasi tumbuhan dan hewan, serta pupuk makro dan mikro.

Ketersediaan pupuk itu umumnya minim di tanah pertanian intensif dan tanah mineral berpasir. Di dataran tinggi mutlak dibutuhkan pupuk organik padat berupa kompos dan pupuk kandang.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img