
Semua superred koleksi Stephen Suryaatmadja itu kian cantik lantaran semburat merah menyelimuti sekujur tubuh – kepala, perut, sirip, dan ekor. Tiada yang menyangka superred muda itu berasal dari farm arwana yang bertebaran di Pulau Jawa. Sebut saja di Cibubur, Jakarta Timur, atau di Bogor dan Karawang, Jawa Barat. Mereka bukan dari farm arwana di Pontianak, Kalimantan Barat, yang sudah lama tersohor.
Menurut Stephen beberapa tahun belakangan farm arwana yang dibuka di Pulau Jawa memang mulai sukses menangkarkan. Dulu farm di Pulau Jawa umumnya hanya tempat pembesaran. Penangkaran tetap dilakukan di farm di tepi Sungai Kapuas atau anak Kapuas seperti Sungai Landak. Sungai di Pontianak itu habitat asli siluk merah sehingga dianggap satu-satunya tempat yang cocok untuk penangkaran.
Di Greenville, Jakarta Barat, ada pula Jonathan Kusumahadi yang mengoleksi 5 superred dari farm di Bogor, Jawa Barat. Sosoknya istimewa: bongsor dan semburat merah mulai muncul di tubuhnya.
Umurnya 8 bulan dengan panjang 22 cm. ‘Kini arwana dari Pulau Jawa tak kalah dengan ternakan dari Pontianak. Bahkan, bila blood line-nya murni, kualitas bisa lebih bagus,’ kata Stephen.
Air bagus
Meski arwana ternakan farm di Pulau Jawa baru muncul beberapa tahun belakangan di tangan hobiis, sebetulnya sukses menangkarkan arwana di luar Kalimantan sudah dimulai sejak 1986. Ketika itu Liaw Eng Pang alias Pang Lesmana mengumpulkan 12 induk superred dari Putussibau, Kalimantan Barat, sejak 1978.
Menurut Heriyanto, domestic sales manager PT Inti Kapuas International, di sana terdapat Danau Sentarum, hulu Sungai Kapuas yang merupakan habitat asli superred. Dari Danau Sentarum itulah siluk merah lalu menyebar di sepanjang Sungai Kapuas hingga ke hilir. ‘Pada prinsipnya induk arwana dapat berkembangbiak bila habitatnya sesuai dengan habitat asli di hulu Kapuas’ kata Heriyanto.
‘Indukan dari sana lalu dirawat selama 8 tahun di Cibinong, Jawa Barat. Lalu lahirlah 10 anakan pertama di sana,’ kata Stephen. Hingga sekarang dari 12 indukan itu telah lahir ribuan superred. Saat Trubus berkunjung ke farm Lesmana pada Januari 2011, 12 induk dengan umur tertua 32 tahun itu berukuran 92 cm – 97 cm. Sayang, ternakan pengusaha spareparts otomotif itu tak dijual di tanahair. Anakan Scleropages formosus dari tangan Lesmana terbang ke Singapura, Taiwan, China, Jepang, dan Kanada.
‘Sebetulnya air di Pulau Jawa lebih bagus ketimbang di Kalimantan,’ kata Lesmana. Itu karena profil tanah Jawa berlapis-lapis sehingga air tanah lebih jernih dan soft. Beda dengan di Kalimantan yang berada di tanah gambut yang sudah terbuka. ‘Dulu saat ekosistem belum terganggu memang cocok buat arwana. Hutan di tepi sungai belum terganggu sehingga air tetap bagus meski tanahnya gambut,’ tambah Lesmana.
Menurut Henrico, pemilik Summit Arwana, di Jakarta Barat, kualitas air di Pontianak, Kalimantan Barat, yang berubah mulai dirasakan para pemilik farm di hilir Kapuas. Makanya banyak penangkar bergerak ke arah hulu Kapuas untuk memperoleh air yang lebih bagus. ‘Banyak penangkar yang buka farm di Sintang dan Putussibau untuk memperoleh air yang bagus,’ kata Henrico. Itu karena hutan di daerah hulu cenderung lebih terjaga ketimbang di hilir.
Dengan kualitas air yang lebih baik, anakan arwana yang diperoleh lebih baik: warna merah lebih muncul secara alami. Bahkan, indukan superred asal hulu Kapuas dipercaya lebih berkualitas. ‘Meski sama-sama superred, induk dari daerah hulu cenderung lebih merah,’ kata Henrico. Itu diduga karena induk arwana di daerah hulu masih galur murni superred yang belum tercampur dengan arwana jenis lain. Karena itulah anakan yang diperoleh, blood line-nya lebih terjamin.
Blood line
Superred juga bakal lebih bongsor dan berkualitas bila blood line-nya murni. Maksudnya ia berasal dari induk jantan dan betina superred. Pasalnya, sekitar 4 – 5 tahun silam banyak peternak yang tidak sengaja mengawinkan superred dengan banjar red. Yang disebut terakhir arwana yang mirip superred tapi hanya ekor dan sirip saja yang merah. Ia kerap bercampur di kolam bersama superred sehingga melahirkan anakan hibrid.
Beberapa peternak malah sengaja mencampur superred dengan banjar red karena yang disebut terakhir lebih cepat siap kawin. Superred mulai birahi di atas umur 4,5 tahun sedangkan banjar red sejak umur 2 tahun. Anakan hibrid itulah yang banyak beredar saat ini. ‘Saat masih berukuran kurang dari 25 cm sosok anakan hibrid hampir tak ada beda dengan superred yang murni. Namun, begitu dewasa terlihat yang hibrid warna merahnya kurang tegas,’ kata Stephen.
Belakangan pertumbuhan arwana hibrid pun jadi lambat. Umumnya pertumbuhan mereka mandek saat mencapai 50 cm pada umur 5 tahun. Beda dengan superred murni yang bisa mencapai 70 cm pada umur setara. ‘Karena itu pastikan mengoleksi arwana asal farm dengan indukan yang benar-benar superred,’ kata Stephen. (Destika Cahyana/Peliput: Tri Susanti)
Stephen, sebenarnya penangkaran arwana di Pulau Jawa sudah berhasil dilakukan sejak 1986. Hanya saja anakan hasil tangkaran dilempar ke luar negeri sebagai arwana ekspor
Arwana koleksi Stephen, berumur 9 bulan tapi ukuran sudah mencapai 35 cm
Henrico, saat ini banyak penangkar yang membuka farm di hulu Kapuas yang kualitas airnya lebih bagus
