Trubus.id—Gula aren semut diminati pasar mancanegara. Menurut Direkrur PT Gunung Hijau Masarang, Aulia Reinozha Akbar, konsumen mancanegara menginginkan kualitas gula aren yang prima.
Gula semut berwarna cokelat, kadar air 1,5—2%, kemurnian 100%, serta bebas logam dan benda asing. Sejumlah negara mensyaratkan sertifikat food safety seperti Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) dan sertifikat organik.
Gula aren produk PT Gunung Hijau Masarang sudah mengantongi sertifikat organik dari United State Departement of Agriculture (USDA). Bahan baku pembuatan gula aren di PT Gunung Hijau Masarang berasal dari petani di Tomohon.
Menurut Reino kemampuan petani menyadap nira itu 100—200 liter per hari. Nira segar dari pohon aren mesti memiliki pH lebih dari 7 dengan tingkat kemanisan lebih dari 11°brix. Sementara tingkat kemanisan setelah pasteurisasi—pemanasan pada suhu tertentu—mencapai 16—18°brix.
“Nira secepat mungkin harus dipasteurisasi maksimal dalam waktu 2 jam,” tutur Staf ahli Yayasan Masarang Prof. Dr. Ir. Julius Pontoh, M.Sc.
Reino dan tim memerlukan 7,5—8 liter nira aren untuk memproduksi 1 kg gula semut atau rendemen 13,3%. Sementara 1 kg gula cetak membutuhkan 6—7 liter untuk gula cetak. Kadar air gula semut 1,5—2%. Pabrik gula aren di Tomohon itu menggunakan uap panas bumi dalam pemasakan.
“Penggunaan uap panas mengurangi penebangan pohon untuk kayu bakar. Ratarata pemasakan 1 kg gula semut butuh 10—15 kg kayu bakar,” ujar Reino.
Selain pengolahan yang benar, teknik pengemasan gula aren semut pun mesti diperhatikan. Tujuannya agar kualitas produk tidak berubah selama pengirimian.
Olah karena itu butuh penanganan khusus pascaproduksi gula aren. Berikut langkah Kemas Gula Aren Ekspor.

