Trubus.id – Petani sayur di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Eka Agus Susilo, selalu waswas saat musim hujan tiba. “Tanaman kentang rawan terserang cendawan phytophthora,” ujar Eka.
Kekhawatiran itu meningkat terutama saat masa peralihan menuju musim hujan. Eka menanam berbagai jenis sayur seperti kentang, wortel, dan kubis.
Tanaman hortikultura tersebut ia tanam di lahan seluas 4 hektare yang tersebar di sembilan lokasi. Dari total itu, ia memanfaatkan agen hayati di lahan kentang seluas 3.500 meter persegi.
Eka memulai dengan pengolahan lahan secara tepat. Ia menaburkan 3,5 ton pupuk kotoran ayam terfermentasi.
Ia meracik sendiri larutan agen hayati dari 2 kg trichoderma, 1 liter bacillus, 1 kg asam humat, dan 200 liter air. Setiap 1 hektare lahan membutuhkan 1.200 liter larutan tersebut.
Untuk lahan seluas 3.500 m², ia hanya memerlukan 420 liter larutan agen hayati. Larutan itu ia semprotkan pada lahan sebelum ditanami.
Selain itu, ia juga menaburkan 150 kg pupuk NPK majemuk 15:15:15. Ia menambahkan 150 kg pupuk yang mengandung fosfat.
Setelahnya, lahan ditutup menggunakan mulsa. Dua pekan kemudian, benih kentang ditanam di media tersebut.
Menurut Eka, agen hayati meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk yang ditabur akan terserap sempurna sehingga pertumbuhan tanaman lebih sehat.
Agen hayati juga berfungsi sebagai pertahanan alami terhadap penyakit tular tanah. Dengan begitu, tanaman lebih tahan terhadap gangguan organisme pengganggu tanaman.
Eka menambahkan 200 kg pupuk yang mengandung 21% nitrogen dan 24% sulfur pada umur 25 hari setelah tanam (hst). Ia sengaja tidak menaburkannya di awal pengolahan lahan.
Pupuk dengan kandungan nitrogen dan sulfur mudah menguap jika diaplikasikan terlalu awal. Akibatnya, nutrisi bisa hilang sia-sia.
Pemberian pada umur 25 hst dinilai waktu yang tepat. Tanaman mampu menyerap nutrisi dengan optimal saat fase pertumbuhan berlangsung aktif.
Usaha Eka membuahkan hasil yang memuaskan. Tanaman kentangnya terbukti bebas dari serangan phytophthora.
Tanaman juga tumbuh bongsor dan tahan terhadap perubahan cuaca. “Padahal pada waktu yang sama, beberapa petani lain mengalami gagal panen,” kata Eka.
Produksi pun meningkat signifikan. Setiap tanaman menghasilkan umbi besar dengan bobot rata-rata 250 gram per umbi.
Biasanya, bobot kentang hanya sekitar 200 gram per umbi. Upaya yang dilakukan Eka memberikan hasil panen yang lebih unggul.
