Di tengah hiruk-pikuk kontes burung berkicau di Bratang, Surabaya, seorang karyawannya melaporkan, “Burungnya edan (luar biasa bagus, red),” katanya Itulah sebabnya hobiis burung berkicau di Surabaya itu ingin segera tiba di tanah air untuk mendengarkan kicauan dan melihat penampilan Copsychus saularis.
Gaya Ayu—nama kacer itu—atraktif bagai penyanyi rock and roll Elvis Presley di atas panggung. Burung jantan itu hinggap di tangkringan, lalu meloncat ke lokasi lain sembari merentangkan kedua sayapnya. Suaranya tak putus-putus. Kerap kali kepalanya mendongak dan ditegakkan sehingga paruh seperti menunjuk langit.
Siapa tak kepincut melihat atraksi maut Ayu? Mungkin lantaran itulah pengusaha furnitur rela merogoh kocek dalam-dalam. Untuk seekor kacer ditebusnya Rp50-juta. Ya, lima puluh juta rupiah. Anda sedang tidak salah baca! Ahen, sang pemilik yang kerap membela Milenium Bird Club—kelompok hobiis burung berkicau di Suarabaya—pun melepaskan Ayu
Via kontes
Kontes memang acap dijadikan sarana untuk memantau mutu burung. Dari sanalah transaksi puluhan—kadang ratusan juta rupiah—demi seekor burung sering terjadi. Drs Djumadi MKes, hobiis burung di Kotamadya Surakarta, pernah mengalaminya. Ahad 11 Juli 2004 ia mengikuti kontes hari ulang tahun Himpunan Kicau Mania Indonesia di Surabaya.
Sayangnya, kicauan Kartajaya, murai batu koleksi dosen Biologi itu kurang optimal. Ia hanya meraih jawara ke-4. Itu jelas kurang mencorong ketimbang prestasi pada kontes-kontes sebelumnya. Di Solo, misalnya, Kartajaya merajai murai batu sehingga sering menyabet jawara pertama. Semarang, Yogyakarta, dan Madiun adalah saksi kehebatannya. Justru di kontes itulah Kartajaya membawa hoki.
Pasalnya, saat kontes belum usai seorang hobiis menawar burung berumur 3 tahun itu. “Iseng-iseng saya melempar harga Rp25-juta,” kata Djumadi. Toh ketika ditawar Rp20-juta master alumnus Universitas Indonesia itu melepaskan murai batu tangkarannya. Di antara riuhnya hajatan kontes, ia menerima cek senilai Rp20-juta. Saat itu juga burung plus piala tak lagi menyertai kepulangan Djumadi ke Surakarta.
Antistres
Pengusaha tekstil kenamaan di Solo telanjur menggandrungi murai batu. Sudah lama ia mengincar Copsychus malabaricus koleksi Anda Priyono, penangkar di Nusukan, Solo. Baru pada Januari 2004 cucak rawa itu berpindah tangan. Harganya? Seekor cucak rawa berumur 8 bulan “hanya” Rp75-juta. Pycnonoctus zeylanicus seumur itu sebetulnya baru belajar berkicau. Namun, kalau sudah cinta mau bilang apa?
Mengapa mereka mau membeli burung berharga mahal? Bagi Hananto Prasetyo, mantan petinju nasional yang kini gandrung burung, kicauan menenteramkan jiwa. “Suara kicauan dapat mengusir stres dan beban berat hidup sehari-hari,” ujar kelahiran Solo 30 Juni 1961. Pantas jika pemegang sabuk dan empat itu kerap mendengarkan merdunya kicauan Striker, cucak hijau koleksinya.
Menurut catatan ayah 2 anak itu Stiker telah 40 kali meraih jawara pertama. Untuk dapat memilikinya, Hananto menebus dengan harga Rp25-juta. Pengusaha studio foto di Purwokerto, Jawa Tengah, itu juga memiliki kacer sohor bernama Cover Boy. Ia 40 kali membubuhkan jawara di berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Alumnus Universitas Wijayakusuma itu enteng saja membeli Cover Boy seharga Rp30-juta.
Bergeming
Iming-iming harga tinggi tak selamanya meluruhkan hati pemiliknya. Buktinya Frans A. Djaya, hobiis di Kelapagading, Jakarta Utara. Seorang hobiis di Jakarta datang langsung ke rumahnya untuk membeli seekor pentet. Di ruang tamu ia membuka bungkusan cokelat berisi segepok uang jutaan rupiah—Frans keberatan Trubus menyebut nilainya. Rupanya sang hobiis tengah dimabuk kepayang suara Raja Pentet—nama burung itu–yang aduhai.
“Kalau segini (maksudnya senilai uang itu, red) belum mau, silakan Bapak buka harga. Atau saya ganti dengan kijang baru?” kata si hobiis seperti ditirukan alumnus Teknik Mesin Universitas Trisakti. Namun, Frans bergeming. Itu bukan karena tangisan putra sulungnya, Jason Chriscahyadi, yang berharap agar Raja Pentet tetap di rumah. “Jangan dijual, Pa. Jangan dijual, Pa,” kata bocah 8 tahun itu kepada ayahnya.
Ternyata cinta Frans kepada Raja Pentet tak dapat “dibeli”. Maklum, Raja Pentet sampai Juli 2004 sudah mengantongi 51 jawara pertama di berbagai kontes. Setiap kali ikut kontes, pemilik pentet lain dibuatnya jiper alias takut. Malahan beberapa kali dalam sehari Raja Pentet mempersembahkan 3 jawara pertama Contoh ketika kontes di Pluit, Jakarta Utara, pada 14 Desember 2003.
Sikap serupa ditunjukan oleh Budiarjo. Kipas, hwa mei milik hobiis di Yogyakarta itu berkali-kali ditawar Rp30-juta. Padahal ia membelinya, “Murah kok. Cuma seharga motor,” ujar Budiarjo. Berani taruhan burung-burung berharga wah itu belum pernah bertelur emas. Namun, harga para penghibur itu mengalahkan kilau emas. Dengarkanlah kicauannya, lalu rasakan tenteramnya jiwa. (Sardi Duryatmo/Peliput: Nyuwan SB)
