Trubus.id—Ekspor buah naga bukan tidak mungkin, asalkan memenuhi syarat pasok pasar dunia. Menurut Pekebun di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Asroful Uswatun, pasar Eropa mensyaratkan buah berbobot 250—390 g, sedangkan Singapura memiliki batasan bobot 300—500 g per buah.
Syarat lain ekspor buah naga, jumbai buah atau sirip buah tidak boleh menguning atau tetap hijau ketika sampai di negara tujuan. Buah naga juga harus lulus uji residu di bandara nasional. Kondisi buah tidak boleh cacat, harus segar.
Itulah sebabnya Uswatun ketat menerapkan budidaya buah naga secara organik. Syarat utama buah yang lolos ekspor memiliki sertifikat organik dan tersertifikasi standar sistem pertanian yang baik atau good agricultural practices (GAP). Kunci utamanya budidaya buah naga organik tidak menyemprotkan bahan kimia sintetis.
Kebun buah naga yang tersertifikasi GAP menunjukkan kredibilitas kebun dan kualitas buah naga yang dihasilkan. Pasar mancanegara lebih tertarik menjalin kerja sama dengan kebun yang juga resmi terdaftar di pemerintah Indonesia.
“Budidaya organik bukan berarti membiarkan tanaman dan kebun telantar. Kami mengaplikasikan bahan-bahan alami untuk mendukung pertumbuhan tanaman serta menjaga kesehatan lingkungan,” kata Uswatun.
Kunci lain menghasilkan buah yang sesuai kehendak pasar ekspor adalah hindari pemberian nitrogen terlalu tinggi dan hindari pemberian hormon pembesar. Kedua hal itu mengakibatkan cita rasa buah naga kurang manis dan tidak segar, serta bobot buah yang terlalu besar.
Ketika proses pemetikan buah dilakukan pastikan alat pemotong benar-benar tajam, sehingga tangkai tidak menjadi memar dan tidak melukai batang lain. Keruan saja Uswatun getol membersihkan buah naga satu per satu menggunakan kuas untuk menghindari serangga atau kotoran kecil yang kerap menempel di kulit buah.
Ia memiliki boks dengan banyak lubang untuk sirkulasi udara untuk mencegah kelembapan tinggi. Pekebun sejak 2008 itu menyusun rapi buah di keranjang secara perlahan. Satu keranjang terdiri atas 40 buah naga setara 15 kg.
Ia lantas menumpuk keranjang-keranjang terisi buah naga agar rapi, maksimal tiga tumpukan. Tujuannya agar tidak memberi tekanan terlalu besar pada keranjang paling bawah.
