Trubus.id — Bagi orang awam yang baru melihat tanaman hias lithops tentu akan menyangkanya batu hias. Anggapan mereka sangat wajar. Penampilan lithops memang mirip batu. Novita Chandra, S.T., salah seorang pehobi lithops di Kelapagading, Jakarta Utara.
Nama lithops merupakan pinjaman dari bahasa Yunani, lithos yang bermakna batu dan ops berarti wajah. Bagian atas membelah menjadi dua bagian atau di kalangan pehobi disebut clover.
Lithops membelah setiap tahun untuk menumbuhkan badan baru. Lazimnya, jumlah clover itu hanya dua. Namun, Novita juga mengoleksi lithops tiga clover. Lithops itu unik karena membelah menjadi tiga dalam sekali proses pembelahan.
Varian warnanya juga beragam. Ada yang hijau muda bertotol gelap. Jenis lain koleksinya berwarna ungu seperti lebam bekas luka. Perempuan kelahiran Medan, 26 September 1987 itu mengoleksi lebih dari 500 tanaman terdiri atas sekitar 50 spesies.
Sekadar menyebut beberapa jenis Lithops karasmontana, L. dorothea, L. julii, L. kikushogiyoku, L. terricolor,dan L. fulviceps. Beberapa jenis tumbuh variegata hingga makin menawan.
Tanpa variegata pun tanaman anggota famili Aizoaceae itu pun amat seronok. Apalagi, jika tanaman berbunga, keelokannya menjadi-jadi. Beberapa koleksi Novita seperti dorothea, karasmontana, dan julii pernah berbunga.
Bunga muncul dari belahan tengah, berwarna putih, dan mampu bertahan tiga hari. Ia menempatkan lithops dalam ruangan berpendingin. Suhu dalam ruangan 16°C. Itu sesuai habitat aslinya di gurun-gurun Afrika Selatan.
Novita tidak pernah mengeluarkan koleksinya. Pengaturan sirkulasi udara di dalam ruangan menggunakan kipas angin. Bahkan, pehobi lain kerap jatuh hati melihat koleksi Novita. Itulah sebabnya, beberapa kali Novita melepas koleksinya.
Sarjana Teknik Industri alumnus Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya itu pernah menjual lithops tiga clover berukuran 1 cm seharga Rp200.000. Harga sukulen mini jenis variegata lebih mahal hingga Rp450.000 berukuran 2,7 cm.
