Tuesday, January 27, 2026

Teh Organik Pasok Pasar Ekspor

Rekomendasi
- Advertisement -

Teh tumbuh tanpa pupuk kimia dan tanpa pestisida sintetis. Pasar mancanegara pun menggemarinya.

Trubus — Butir embun memenuhi udara meski matahari muncul hampir 30 menit. Namun, sudah 1 jam pemetik teh—berjumlah nyaris setara 5 peleton tentara—memetik pucuk-pucuk daun Camellia sinensis var sinensis itu. Menerobos sela tanaman di lahan seluas 40 hektare, pasukan pemetik yang mayoritas kaum hawa itu memasukkan daun hasil petikan ke dalam keranjang bambu di punggung mereka.

Para pekerja memetik daun teh organik pada di lahan Harendong Green Farm, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. (Dok. PT Harendong Green Farm)

Aktivitas itu berlangsung hingga pukul 09.00 lalu mereka mengumpulkan petikan sekaligus jeda istirahat. Itu kegiatan rutin setiap 42—45 hari di kebun teh milik PT Harendong Green Farm (HGF) di lereng Gunung Halimun, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sebagian tenaga panen adalah pekerja harian dari desa di sekitar kebun. “Waktu panen memerlukan 150 pekerja, kalau yang rutin sehari-hari hanya 110 orang,” kata direktur Harendong Green Farm, Alexander Halim.

Juara dunia

Setelah dipanen 6—7 kali dalam setahun, pekerja memangkas pohon lalu mengistirahatkan 2 bulan. Setiap bulan kecuali pada musim kemarau, HGF memproduksi 3—4,5 ton teh. Mereka mengolah pucuk daun itu menjadi teh putih, hitam, hijau, dan oolong. Ada 2 bentuk teh hitam dan hijau, tergulung (rolled) dan melintir (twisted). Teh dari lahan berketinggian 850—1.000 m di atas permukaan laut (dpl) itu mengisi pasar ekspor.

Menurut Alexander 85% produk mereka meluncur ke pasar ekspor antara lain Uni Eropa (Jerman, Perancis, Inggris, dan Belanda) dan Asia (Jepang, Malaysia, Singapura, dan Thailand). Teh juga sempat rutin mengisi pasar Amerika Serikat atas pesanan salah satu jaringan kedai internasional. HGF menjual produk US$25 per kg di pasar ekspor. Sejak membuka kebun pada 2005, Alexander dan kedua rekannya berniat memproduksi teh organik untuk pasar ekspor.

Itu sebabnya, demi kemudahan pengiriman ke mancanegara, mereka memilih lahan di Lebak yang relatif dekat dengan Jakarta. Opsi lain adalah Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Teh organik hasil kebun Alexander bersaing dengan produk negara lain penghasil teh seperti Tiongkok, India, atau Srilanka. Oleh karena itu, Alexander rajin memboyong teh bermerek Banten Tea mengikuti pameran di berbagai negara.

Cita rasa teh organik dari tanah Banten itu teh menyebabkan pembeli asal Jepang menjadi pelanggan sejak 2010 hingga sekarang. Selain rasa unik, mereka mampu menjual dengan harga lebih miring ketimbang pesaing. Tahun itu juga mereka menjalin kontrak dengan jaringan kedai kopi multinasional asal Amerika Serikat. Di negara Abang Sam itu produk oolong Banten Tea menyabet juara pertama dalam kontes teh sedunia pada 2015. Trofi kejuaraan itu menjadi magnet yang menarik pembeli berikutnya.

Blended tea kreasi PT Bukitsari untuk kaum milenial yang sadar kesehatan. (Dok. PT Bukitsari.)

Namun, pada 2015 itu terjadi gejolak ekonomi yang menyebabkan perlambatan ekonomi di Eropa dan Amerika. Seolah belum cukup, tahun berikutnya jaringan kedai asal Amerika Serikat menutup divisi teh mereka dan menghentikan pembelian. “Penjualan anjlok tinggal separuh,” kata doktor Teknik Mesin alumnus Universitas Aachen, Jerman itu. Untungnya penjualan dalam negeri, yang serapannya hanya berkisar 6 ton per tahun, cukup bisa menambal. Meski secara volume hanya menyerap 15% produksi, nilainya lumayan karena penjualan eceran.

“Harga eceran bisa tiga kali lipat curah,” kata Alexander. Kebanyakan pembeli adalah pemilik kedai atau kafe yang menyajikan teh buatan HGF sekaligus menyediakan kemasan untuk dibawa pulang dengan label mereka sendiri. Pada 2018, produk oolong ditambah teh hitam kembali menyabet juara di Amerika Serikat. Demi mendongkrak penjualan, kakek 4 cucu itu rajin mondar-mandir di berbagai pameran mancanegara, utamanya di Eropa. Saat ini, menurut Alexander, omzet mereka kembali normal, plus sedikit pertambahan serapan dalam negeri.

Rempah dan aromatik

Direktur PT Harendong Green Farm, Dr Ing Alexander Halim. (Dok. Trubus)

Pasar mancanegara juga menjadi andalan PT Bukit Sari yang mengusung merek Bankitwangi Organic Tea. Mereka menawarkan 2 jenis teh, varian India Camellia sinensis var assamica dan teh Tiongkok C.s. var sinensis. Menurut product manager PT Bukitsari, Ronald Gunawan, tujuan ekspor mereka antara lain negara-negara Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat. Negara-negara Uni Eropa menjadi pembeli terbanyak, hingga 50% total pasokan. Sayang, Ronald enggan mengungkap omzet mereka.

Lahan seluas 1.270 ha di Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sekitar 70% ditumbuhi teh sejak masa kolonial pada 1920. Lainnya berupa tanaman rempah dan aromatik berupa daun pandan, sereh, atau bunga telang. Tanaman-tanaman itu menjadi bahan membuat blended tea yang mereka tujukan bagi kaum milenial tanah air. Seiring pertambahan usia, generasi tahun 2000 yang sadar kesehatan memasuki dunia kerja dan memiliki penghasilan. “Mereka memilih makanan dan minuman, termasuk teh, yang organik,” kata Ronald.

Menurut Ronald, produksi teh organik lebih rendah ketimbang konvensional. “Bisa sampai separuhnya,” kata ayah 3 anak itu. Namun, itu tertutup dengan harga jual yang lebih tinggi di pasar dunia. Demi berorganik, Bukitsari sampai memelihara sapi dan kambing untuk memasok pupuk. Mereka mesti menanam rumput dan hijauan untuk pakan. Tenaga kerja pun harus bertambah untuk memelihara ternak dan mengurus tanaman pakan. Keseriusan Bukitsari dan HGF berorganik dibuktikan dengan berbagai sertifikat internasional seperti USDA Organic (Amerika Serikat), Non-EU Agriculture (Uni Eropa), dan Ecocert. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img