Trubus.id—Teknik mencangkok anggur lazimnya 60 hari. Namun, Muhammad Apriza Suska memanen bibit anggur hanya dalam 14 hari. Suska memanen bibit anggur hasil cangkok 1,5 bulan lebih cepat. Ia memilih batang yang masih hijau sebagai bahan perbanyakan.
Sementara itu pada umumnya orang memilih batang berwarna cokelat sebagai bahan cangkok. Alumnus Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, batang hijau mengindikasikan tanaman aktif tumbuh.
Menurut Suska pertumbuhan tanaman yang masih berbatang hijau lebih cepat daripada batang cokelat yang lazim dicangkok. Tanaman anggur berbatang cokelat tidak aktif tumbuh.
Selain itu ia memanen tanaman ketika akar baru berwarna putih. Sebaliknya banyak orang yang memanen hasil cangkokan saat akar penuh dan memerah.
Menurut Suska pertumbuhan akar berhenti dalam media cangkok. Sebaliknya, ketika akar berwarna putih berarti aktif tumbuh. Akar bisa lebih bebas tumbuh ke bawah dalam media tanam yang sesungguhnya.
Ia menuturkan ketika terlalu lama dalam media tanam cangkok, akar akan cenderung melingkar. Akibatnya penyerapan unsur hara tidak maksimal.
Trik lain dalam mencangkok, Suska menghilangkan proses kerat. Pada umumnya teknik mencangkok dilakukan dengan mengupas kulit batang hingga kambium terlihat. Namun, ia cukup melukai batang untuk memunculkan kalus.
“Kalus ibarat luka bakar pada kulit manusia. Jadi, dengan adanya luka itu jaringan tanaman akan terdeferensiasi. Jika ada luka, tumbuh jaringan tertentu seperti akar,” ujar Suska.
Menurut Suska tanpa pengkalusan sebenarnya akar juga bisa muncul. Anggur termasuk tipe tanaman yang mudah muncul akarnya asalkan media cangkok lembap. Pengkalusan hanya untuk mempercepat proses munculnya akar.
“Pertimbangan lainnya ketika dikerat akan timbul risiko gagal karena luka mengenai kambium memicu tanaman mati. Selain itu dengan hanya melukai bisa lebih efisien waktu dibandingkan harus mengupas kulit,” ujar Suska.

