Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) mengembangkan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk melindungi budi daya lebah trigona dari ancaman satwa liar. Melalui program pendampingan, tim yang dipimpin Dr. Saladin Uttunggadewa memasang Smart Apiary Protection System (SAPS) di dua Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan di Provinsi Lampung pada 24–26 Juli 2026.
Dua kelompok penerima teknologi tersebut yaitu KTH Lantana di Desa Sidomulyo, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, dan KTH Apicalis di Desa Pemerihan, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat. SAPS merupakan sistem monitoring dan peringatan dini yang dirancang untuk mendeteksi keberadaan satwa liar yang mengancam koloni lebah.
Selama ini, peternak lebah trigona di Lampung menghadapi kendala berupa serangan beruang madu (Helarctos malayanus) terhadap stup budi daya. Serangan tersebut dapat menyebabkan kerusakan stup, hilangnya koloni lebah, hingga menurunkan produksi madu sehingga berdampak terhadap pendapatan peternak.
Selain menimbulkan kerugian ekonomi, gangguan satwa liar juga berpotensi meningkatkan konflik antara manusia dan satwa liar (human-wildlife conflict). Oleh karena itu, tim pengabdian mengembangkan SAPS sebagai solusi perlindungan peternakan yang tetap memperhatikan kelestarian satwa.
Program pendampingan komunitas peternak lebah trigona tersebut telah berlangsung sejak 2022 hingga 2026. Tim yang terdiri atas peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sumatera (ITERA), STMIK Mardira Indonesia Bandung, serta Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) secara berkelanjutan menerapkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk lebah.
Selama pendampingan, tim telah menghasilkan sejumlah inovasi, di antaranya Tracebee berupa sistem informasi dan traceability digital untuk pencatatan produksi serta pemasaran madu. Inovasi lainnya yaitu Tracebee Purifier, perangkat portabel pengolahan pascapanen untuk menjaga mutu madu sesuai standar nasional, serta sistem IoT untuk mencatat kondisi cuaca di area peternakan.
Berbagai teknologi tersebut telah dimanfaatkan oleh sejumlah kelompok, termasuk KTH Lantana dan KTH Apicalis. Penerapan inovasi membantu peternak meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas akses pasar.
Namun, hasil evaluasi lapangan menunjukkan tantangan utama peternak saat ini bergeser dari aspek mutu dan pemasaran menuju perlindungan aset usaha. Gangguan satwa liar menjadi risiko yang perlu mendapat perhatian agar keberlanjutan usaha budi daya lebah trigona tetap terjaga.
Smart Apiary Protection System bekerja menggunakan sensor gerak dan modul komunikasi untuk mendeteksi aktivitas satwa liar di sekitar area peternakan. Ketika sensor menangkap adanya pergerakan, sistem akan mengirimkan notifikasi secara langsung kepada peternak.
Selain memberikan peringatan, SAPS juga mengaktifkan mekanisme pengusiran non-mematikan menggunakan kombinasi suara dan cahaya berpola acak. Sistem tersebut dirancang agar satwa tidak mudah terbiasa terhadap rangsangan sehingga efektivitas perlindungan tetap terjaga.
Teknologi ini dikembangkan dengan konsep sederhana, hemat energi, dan berbiaya rendah. Dengan demikian, peternak di wilayah pedesaan dapat mengoperasikan serta melakukan perawatan secara mandiri.
Penerapan SAPS diharapkan mampu menekan kerugian akibat serangan beruang madu sekaligus mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Dengan perlindungan yang lebih baik, budi daya lebah trigona di Lampung dapat berkembang berdampingan dengan upaya konservasi satwa.
Selain mengembangkan budi daya lebah trigona, KTH Lantana juga tengah menyiapkan pengolahan hasil kebun kakao untuk meningkatkan nilai tambah produk. Kelompok yang sebagian besar digerakkan oleh perempuan tersebut berencana mengolah biji kakao menjadi produk turunan seperti pasta kakao dan permen cokelat.
Pengembangan produk olahan kakao tersebut masih membutuhkan pendampingan teknis agar dapat menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Jika terealisasi, inovasi tersebut diharapkan menjadi salah satu fondasi pengembangan Desa Wisata Sidomulyo.
Nantinya, desa tersebut berpotensi menawarkan paket eduwisata berbasis budi daya lebah trigona, pengolahan kakao, hingga wisata susur sungai malam hari untuk menikmati keanekaragaman hayati sekaligus mencari udang dan kepiting di alam
