Saturday, January 17, 2026

Teknologi Smart Aquaculture Berbasis IoT LoRa untuk Budi Daya Udang Vaname

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Kepala Kelompok Riset Teknologi Akuakultur, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Puput Dani Prasetyo Adi tengah mengembangkan Smart Aquaculture berbasis IoT LoRa. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas udang vaname, khususnya di Kabupaten Lebak, Banten.

“Riset ini bermanfaat untuk memantau kondisi kesehatan udang serta mendeteksi perubahan lingkungan yang tidak sesuai,” ujar Puput. Menurutnya, pemantauan yang akurat dapat membantu mencegah kematian udang vaname akibat kondisi lingkungan yang buruk.

Teknologi yang dikembangkan dalam riset ini memanfaatkan Artificial Intelligence of Things (AIoT). “Kami menggabungkan kecerdasan buatan dengan Internet of Things (IoT) menggunakan teknologi Long Range (LoRa),” jelasnya.

LoRa dipilih karena kemampuannya mengirimkan data dalam jarak jauh dengan daya rendah. Teknologi ini sangat cocok untuk daerah tambak yang umumnya sulit dijangkau sinyal wifi atau internet.

“Jarak antartambak bisa mencapai lebih dari 300 meter sehingga LoRa menjadi solusi ideal untuk transmisi data,” kata Puput. Dengan teknologi ini, pemantauan kondisi tambak dapat dilakukan secara real-time.

Budi daya udang vaname membutuhkan kualitas air yang sesuai standar. Berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, dapat memengaruhi kondisi air di tambak.

Untuk itu, tim riset mengembangkan alat multisensor yang dilengkapi tujuh sensor pemantau. Sensor ini mengukur suhu, kadar oksigen, salinitas, kekeruhan, pH, ammonia, dan nitrat.

“Kami melakukan uji coba pertama di UPT BAPL Bangil, Pasuruan, Jawa Timur,” ungkap Puput. Alat monitoring dipasang di tambak berukuran 10m² dan akan ditambahkan sensor curah hujan.

Kolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan memungkinkan pemantauan dari tebar benih hingga panen. Data dari tambak dikirim melalui LoRaWAN ke server LoRa dan dapat diakses nelayan lewat aplikasi tago.id di smartphone.

Puput juga menjelaskan tantangan dalam riset ini, terutama mengenai ketahanan alat. “Air payau rentan menyebabkan korosi, sehingga kami menggunakan High Density Polyethylene (HDPE) untuk pelampung dan melapisi sensor dengan plastik,” terangnya.

Selain itu, alat ini memerlukan perawatan rutin agar data tetap akurat. “Kami telah melatih nelayan tentang cara membersihkan, merawat, dan memperbaiki alat monitoring,” tambahnya.

Riset ini diharapkan dapat membantu nelayan memprediksi gangguan kesehatan udang. Dengan pemanfaatan teknologi multisensor, produktivitas dan kualitas udang vaname dapat meningkat signifikan.

Kredit foto: BRIN

(Melansir dari laman BRIN)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img