Thursday, February 29, 2024

Telomoyo Kembali Hijau

Rekomendasi
- Advertisement -

Gunung Telomoyo yang kerontang dan gundul kembali hijau. Bahkan muncul mata air di atasnya.

Trubus — Pepohonan seperti suren dan sengon tumbuh tegak dan menjulang di sepanjang jalan Desa Ngrancah, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Suara kicau burung dan gemericik air sayup-sayup terdengar. Penduduk desa hilir-mudik membawa hasil bumi. Padahal, puluhan tahun sebelumnya wajah Ngrancah amat kerontang. Bukit-bukit gundul yang rentan longsor mengancam warga.

Pasalnya, perbukitan di kaki Gunung Telomoyo itu berkontur miring. Belum lagi kebiasaan warga desa membudidayakan tanaman semusim membuat tanah tak mampu menahan air terlalu lama. Kondisi itu membuat Mukidin prihatin. Oleh karena itu, ia bertekad untuk menyelamatkan kawasan perbukitan seluas 150 hektare itu. “Saya ingin sekali menghijaukan bukit itu,” katanya.

Tanaman keras
Mukidin mewujudkan mimpi mengubah bukit gundul menjadi hijau royo-royo. Bukan langkah mudah bagi pria berusia 50 tahun itu merintis langkahnya sejak 1999. Ia mengajak warga desa untuk menanam pohon berkayu keras seperti sengon Albizia chinensis, mindi Melia azadirachta, dan suren Toona sureni. “Pohon keras efektif menahan longsor di lahan kritis,” katanya.

Bak penampung air untuk memenuhi
kebutuhan air sehari-hari warga desa.

Sayang, hanya 3 orang yang merespons ajakan itu. Namun, Mukidin tak patah semangat dan berkeras hati meneruskan misinya. Ayah satu anak itu menuturkan warga enggan menanam tanaman keras sebab waktu panen lama. Di sisi lain kondisi lahan semakin kritis. “Penyelamatan lahan dengan menanam tanaman keras harus segera dilakukan,” kata Mukidin.

Sebelumnya warga menanam tanaman semusim di bukit itu. Mayoritas warga mengebunkan jagung dan singkong. Menurut Mukidin pemilihan komoditas itu kurang tepat mengingat lokasi lahan di dataran tinggi yakni pada ketinggian 1.000—1.300 m di atas permukaan laut. Warga memanen jagung lebih lama yakni umur 5 bulan setelah tanam. Begitu pula singkong yang baru bisa dipanen hingga umur setahun.

Sementara di dataran rendah petani memanen jagung pada umur 3—4 bulan, sedangkan singkong cukup 7—8 bulan. Oleh karena itu, Mukidin berusaha keras untuk mengubah pola bercocok tanam warga yang sudah berlangsung puluhan tahun itu. Mantan kepala desa itu mengadakan pertemuan kecil dan rutin di balai desa. Ia tak bosan memberikan pendekatan personal kepada warga agar tertarik mengikuti ajakannya.

Kayu-kayu hasil panen warga setempat.

“Cukup sulit untuk mengajak warga mengganti komoditas yang sudah ditanam bertahun-tahun,” katanya. Sebab itu ia berinisiatif memberikan contoh nyata kepada masyarakat. Ia mulai menanam sengon di kebun miliknya seluas 0,5 hektare. Ia menanam tanaman keluarga Fabaceae itu di sela-sela barisan singkong dan jagung. Usai panen jagung ia menanam rempah-rempah seperti kapulaga dan jahe.

Rupanya warga bisa menerima sistem budidaya tumpangsari itu. “Dengan sistem tumpangsari warga tetap bisa memperoleh pendapatan dari panen tanaman semusim sambil mengunggu panen kayu,” kata Mukidin. Sejak itu banyak warga yang mengikuti jejak Mukidin menanam pohon keras. Ada pula warga yang menanam aren, durian, dan avokad. Mukidin menyarankan warga agar membiarkan rumput tumbuh subur di lahan sebagai pakan ternak.

Mata air

Mukidin sang pejuang lingkungan dari Desa Ngrancah, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Mukidin juga menginisiasi kegiatan kerja bakti kelompok setiap Rabu. Warga membuat terasering secara bergantian setiap pekan. “Terasering memaksimalkan penyerapan air, memperlambat aliran air, dan mencegah longsor,” kata Mukidin. Keberhasilan penanaman pohon berkayu keras, tumpangsari, dan terasering itu lambat laun berbuah manis. Setelah satu dedake mulai muncul mata air di bukit. Semula hanya berjumlah 10 titik kini 22 titik.

Mukidin tidak pernah terpikir akan muncul mata air dari hasil penghijaun bukit itu. “Tujuan utama hanya mengajak warga menanam pohon sehingga lingkungan terjaga,” katanya. Mata air yang jernih itu lantas ditampung dalam sejumlah bak penampungan untuk dialirkan ke rumah warga. Debit mata air di setiap bak penampungan beragam, yakni 13—20 liter per detik. Penemuan mata air itu sangat menggembirakan.

Pasalnya dahulu warga hanya menikmati air yang keruh sehingga kurang baik bagi kesehatan. Keberhasilan Mukidin menghutankan lahan kritis pun mendapat apresiasi dari beragam kalangan. Ia memperoleh sederet penghargaan bergengsi di bidang penyelamatan lingkungan. Mukidin juara pertama lomba penghijauan dan dan konservasi alam tingkat Provinsi Jawa Tengah 2012. Ia juara pertama program kampung iklim tingkat Provinsi Jawa Tengah 2014, dan juara pertama lomba dan apresiasi wana lestari 2016. (Andari Titisari)

Previous article
Next article
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tip Bungakan Tanaman Subtropis Hyacinth di Indonesia

Trubus.id— Hyacinthaceae tanaman asal Turki selatan yang subtropis. Bagi kebanyakan orang membungakan hyacinth di Indonesia tergolong sulit. Namun, menurut...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img