Daya tetas telur itik meningkat menjadi 86,48—89% dengan penambahan ekstrak daun kersen.

Trubus — Permintaan daging itik meningkat sering tumbuhnya rumah makan yang menyediakan menu berbahan dasar daging itik secara otomatis akan meningkatkan permintaan itik di tingkat peternak. Menurut Direktorat Jendral Peternakan kebutuhan itik nasional 14.300 ton, baru terpenuhi 6.400 ton. Artinya kekurangan daging itik mencapai 7.900 ton. Penyebab kekurangan itu ketersediaan bibit itik berumur sehari (Day Old Duck, DOD) terbatas.
Bibit itik terbatas karena daya tetas telur yang rendah. Peternak itik di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, Arifin, menyebutkan daya tetas menggunakan mesin tetas hanya 70—80%. Penetasan telur itik paling efektif dengan mesin tetas telur, karena induk tidak dapat mengerami telurnya sendiri. Sebab, sayap itik pendek dan bulunya sedikit sehingga tidak optimal dalam pengeraman. Itulah sebabnya peternak menitipkan pengeraman telur itik pada ayam.
Daun kersen
Peternak dapat meningkatkan daya tetas telur hingga 86,48—89% dengan cara sederhana seperti riset Fatikhatul Huda Alkhakim dan rekan dari Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya. Mereka memanfaatkan daun kersen Muntingia calabura sebagai disinfektan nabati untuk meningkatkan daya tetas telur itik. Daya tetas telur rendah antara lain karena higienisitas rendah. Oleh karena itu, peternak perlu menjaga kebersihan kerabang atau cangkang telur.

dan rekan peneliti ekstrak daun kersen. (Dok. Fatikhatul Huda Alkhakim)
Ekskreta pada kerabang berpotensi sebagai sumber bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan Salmonella sp. Kedua jenis bakteri itu mampu mempengaruhi perkembangan embrio, bahkan dapat menyebabkan gagal tetas karena matinya embrio. Oleh karena itu, proses disinfeksi pada telur harus dilakukan. Pembersihan menggunakan air hangat dan formaldehida atau formalin berbahaya dan sifatnya beracun.
Dosis formaldehida terlalu tinggi berakibat cacat hingga kematian embrio. Sebaliknya pada konsentrasi rendah, gagal mengendalikan bakteri patogen. Itulah sebabnya, Fatikhatul Huda Alkhakim memanfaatkan daun kersen. Ia mengekstrak daun kersen untuk menetaskan 400 telur itik terdiri atas 5 kelompok perlakuan. Ia menyemprotkan larutan disinfektan kemudian meletakkan telur dalam mesin tetas bersuhu 38,5°C,” kata Huda.

antibakteri alami pada penetasan telur itik. (Dok. Trubus)
Ia membalik telur itik pada mesin tetas secara manual 3 kali sehari mulai hari ke-4. Pembalikan telur berakhir pada hari ke-25. Selain itu ia juga meneropong telur pada hari ke-4, 14 dan 21 untuk mengetahui perkembangan embrio. Embrio yang mati saat peneropongan langsung dikeluarkan dari mesin untuk meminimalisir telur meledak. Riset itu membuktikan, konsentrasi 20% ekstrak daun kersen memberikan hasil paling optimal, 86,48—89%.
Daya tetas telur itu lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pemberian antibakteri kimia yang hanya 80,16—81,46%. Peningkatan persentase daya tetas telur disebabkan karena zat aktif seperti tanin dan flavonoid dalam ekstrak daun kersen yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri merugikan pada telur tetas. Tanin merupakan polifenol yang larut dalam air dan banyak dimanfaatkan terutama untuk proses penyamakan kulit.
Terlalu pekat
Mekanisme antibakteri tanin antara lain menghambat enzim ektraseluler mikrob dan mengambil alih substrat yang dibutuhkan pada pertumbuhan mikrob. Selain itu tanin juga bekerja langsung pada metabolisme dengan cara menghambat proses oksidasi, sehingga keluarnya air dan gas-gas dalam telur dapat dicegah. Namun, pada konsentrasi 30% daun kersen daya tetas telur hanya 79,52—82,74%.

besar.
Itu karena ekstrak terlalu pekat sehingga menutup pori-pori cangkang telur yang menyebabkan kebutuhan oksigen dalam embrio tidak tercukupi. Persentase terendah pada kelompok tanpa perlakuan sanitasi ekstrak daun kersen atau antibakteri kimia, yaitu 76,71—79,95%. Oleh karena itu, mikroorganisme di dalam telur lebih mudah berkembang hingga menyebabkan kematian embrio.
Kerusakan telur tetas umumnya terjadi beberapa jam setelah ditelurkan, karena perubahan suhu telur dari suhu tubuh (37°C) ke suhu kamar yang lebih rendah sehingga terjadi penyusutan isi telur. Dengan kondisi itu, bakteri dengan mudah dapat masuk melalui pori-pori telur dan ketika sudah berada di dalam telur sulit sekali mengendlaikannya tanpa membunuh embrio.
Kondisi cangkang telur yang mengalami retak rambut akibat benturan juga membuka peluang bakteri untuk masuk ke dalam telur. Bakteri yang terinkubasi bersama-sama dengan telur dapat membunuh embrio itik bila mencapai konsentrasi yang tinggi. Perkembangan embrio selama penetasan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor salah seperti kejadian meledak yang mencapai 10 kali dalam penelitian itu.
Teknologi penetasan dengan daun kersen dapat menjadi pilihan bagi para peternak untuk meningkatkan daya tetas telur. Sebab, cara itu relatif mudah, untuk memperoleh daun kersen pun mudah dan murah. Peningkatkan daya tetas telur berpeluang peningkatan ketersediaan bibit itik sehingga peternak dapat memenuhi permintaan besar rumah makan. (Muhammad Awaluddin)
