Friday, August 12, 2022

Tertawan Lidah Jin

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ini dia sosok sansevieria tidak biasa: hibrida dan variegata.

Erwin Karnadi jatuh cinta pada pandangan pertama begitu melihat sosok sansevieria ‘black bird’. “Sosok lidah mertua itu unik dan eksotis,” kata pehobi di Cinere, Kotamadya Depok, Provinsi Jawa Barat, itu. Daunnya saja berwarna  hijau dan cenderung hitam. Lazimnya daun sansevieria hijau atau variegata.

Paduan warna daun dan crossbanding unikmembuat S. ‘better legacy’ terlihat cantik
Paduan warna daun dan crossbanding unik
membuat S. ‘better legacy’ terlihat cantik

Keunikan lain pada daun dewasa tidak terdapat guratan-guratan tegas yang memanjang sepanjang daun sehingga sosok tanaman terlihat kekar. Arsistek lulusan Universitas Katolik Parahyangan, Bandung,  Jawa Barat, itu mendapatkan tanaman idaman setelah menebus black bird Rp10-juta pada Maret 2013. Black bird hasil silangan Soejatno Soebekti, penyilang sansevieria di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah.

“Tanaman itu lucu karena berdaun bulat, berwarna gelap, dan pendek. Langsung saja tercetus nama black bird,” ujar penyilang sansevieria sejak 2008 itu. Ia tidak sembarangan melepas koleksinya. “Setinggi apa pun harga yang ditawarkan saya tidak akan melepas sebelum mengenal sosok pembelinya,” tutur Soejatno yang mengenal Erwin Karnadi sejak awal 2010 itu.

Buaya

S. ‘royal crown’ variegata terbesar setinggi10 cm kemungkinan hanya dimiliki Artanto
S. ‘royal crown’ variegata terbesar setinggi
10 cm kemungkinan hanya dimiliki Artanto

Menurut Soejatno black bird muncul dari hasil persilangan Sansevieria suffruticosa dan S. downsii. Induk S. suffruticosa mewariskan sifat susunan dan bentuk daun yang melintir. Selain itu ia juga mewariskan karakter daun yang tidak terlalu panjang. Sementara warna hitam dan bentuk daun yang menjuntai menitis dari S. downsii.  Selain black bird, sansevieria hibrida lain koleksi Erwin adalah S. ‘better legacy’ dan S. ‘crocodile rock’.

Ia mendapat dua tanaman itu pada Februari 2011. Kedua tanaman koleksi itu juga hasil silangan Soejatno. Indukan better legacy adalah S. suffruticosa dan S. parva ‘kenya hyacinth’. Arah tumbuh ke segala arah menurun dari S. suffruticosa. Sementara kenya hyacinth mewariskan karakter lurik. “Saya menyematkan nama better legacy karena paduan warna daun dan crossbandingnya unik,” kata Soejatno. Erwin menyenangi better legacy karena bentuk daun dan pertumbuhannya ke segala arah.

Sementara warna hitam dan garis longitudinal yang membuat Erwin tertarik mendatangkan crocodile rock. “Guratan crossbanding tanaman itu seperti buaya maka diberi nama crocodile rock,” kata Soejatno. Erwin juga kesengsem pada sosok tanaman itu yang seperti air mancur tegak. Selain itu, “Ciri khas crocodile rock bertepi daun merah,” kata Erwin. Menurut Soejatno itu crocodile rock lahir dari perpaduan S. ‘siam silver’ dan S. ‘midnight fountain’. S.‘siam silver’ mewariskan warna perak. Sementara S. ‘midnight fountain’ memberikan bentuk daun, garis longitudinal, dan warna gelap.

Variegata

S. ‘crocodile rock’ elok karena garis longitudinaldan warna daun yang gelap
S. ‘crocodile rock’ elok karena garis longitudinal
dan warna daun yang gelap

Pehobi sansevieria unik lain adalah dr H A Artanto Dibyosubroto SpOT FICS. Ia senang mengoleksi sansevieria variegata karena cantik dan memiliki banyak variasi warna. Menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MSi, “Peluang kemunculan tanaman variegata sangat kecil, satu per sejuta kemunculan tanaman.” Tanaman disebut variegata jika mengalami kelainan karena tak mampu memproduksi klorofil dalam jumlah cukup.

Pada tanaman pangan kelainan itu sangat dihindari karena mengurangi produktivitas. Namun, pada tanaman hias justru diinginkan karena langka. Akibatnya harga tanaman variegata jauh di atas normal. Lihat saja Sansevieria ‘royal crown’ variegata milik Artanto. Pada 2011 ia membeli lidah nakal—sebutan di Thailand—setinggi 10 cm itu lebih dari Rp10-juta. Padahal, harga royal crown normal berukuran serupa Rp500.000. Sosok royal crown istimewa karena daunnya mengipas dan melintir.

Menurut Artanto perpaduan S. Fla Ha-13 dan S. personii yang melahirkan royal crown. Karakter ukuran daun yang kecil didapat dari S. Fla Ha-13. Sementara bentuk daun mengipas warisan S. personii.  Artanto memperoleh royal crown dari Ivan Global Plant, pehobi sansevieria di Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Kini indukan dan anakan lain tidak tumbuh dan berkembang seperti kepunyaan Artanto. “Indukan royal crown variegata berasal dari Thailand, tapi kini sudah mati,” kata Ivan.

Alasan lain yang membuat Artanto semakin bangga yaitu karena kelangkaannya. “Kemungkinan kini hanya saya yang memiliki royal crown sebesar ini,” ujar ayah 2 anak itu sambil menunjuk tanaman setinggi 20 cm itu.  Selain royal crown, S. kitonga variegata juga mengisi rak koleksi Artanto. Ciri khas kitonga adalah daun menjuntai dengan ujung daun berjalu (terdapat tonjolan kecil). Sosok kitonga milik Artanto spesial. Warna kuning cerah dengan guratan hijau. “Sulit sekali menemukan kitonga dengan penampilan bagus seperti itu,” kata Ivan. Bahkan, salah satu situs di dunia maya menyebut kitonga spesies tergolong jarang. Apalagi jika kitonga itu variegata. Tidak heran Artanto tidak keberatan merogoh kocek dalam demi mendapat tanaman idaman.

Koleksi lain variegata Artanto yaitu S. johannesburg. Ia terpikat tanaman itu karena bercorak bagus. “Seperti kue lapis. Selang-seling antara hijau dan kuning,” kata ahli orthopedi di sebuah rumahsakit di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah, itu. Johannesburg variegata sejatinya sudah ada di kalangan pehobi lain. Namun, kebanyakan johannesburg itu lazimnya sanremo atau variegata yang muncul hanya sementara.

S. rorida variegata yang unik dan cantik juga hadir di kediaman Artanto di Cinere, Kotamadya Depok, Provinsi Jawa Barat.  Artanto tertarik rorida karena corak variegatanya bagus. “Pada daun terdapat warna kuning di antara warna hijau,” ucap pria kelahiran 14 September 1964 itu. Meskipun sudah banyak mengoleksi sansevieria variegata berkualitas, Artanto tetap memburu variegata lain untuk menambah koleksinya. (Riefza Vebriansyah)

 

FOTO:

  1. Muhammad Irawan di lahan tebu pembibitan perbanyakan mata tunas
  2. Batang tebu hasil perbanyakan dengan mata tunas
  3. Hamparan bibit hasil perbanyakan dengan mata tunas berusia 2 bulan di areal pembibitan milik Muhammad Irawan
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img