Wednesday, August 17, 2022

Hanya Satu Mata

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pembibitan tebu sistem mata tunas meningkatkan laba  Rp10-juta.

Ukuran lebih kecil, sehingga Muhammad Irawan hanya perlu 2.000 kg untuk menanam tebu di lahan 1 ha. Padahal, semula ia memerlukan hingga 12.000 kg. Sejak Januari 2012, pekebun tebu di Desa Turu Kidul, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, itu memang memanfaatkan mata tunas, bukan bagalan alias setek sepanjang 20—25 cm seperti penanaman sebelumnya. Penggunaan mata tunas untuk budidaya tebu lebih ringkas.

Sebatang tebu rata-rata terdiri atas 10 mata tunas alias bud chips. Irawan mengambil mata tunas itu dihitung dari titik delapan daun paling atas (titik patah, red). Ia tidak memanfaatkan mata tunas paling atas karena masih terlalu muda. Bandingkan saat itu menggunakan setek sepanjang 30 cm, maka sebatang tebu hanya menjadi  5 bibit.  Keruan saja ia menghemat minimal Rp6-juta per ha untuk pengadaan bibit.

Lebih cepat

Kepala Pusat Penelitian Gula PTPN X, Ir Budiarto MMA menuturkan, keuntungan utama tanam bibit asal mata tunas adalah menghemat bibit. “Bila tanam bagal pekebun butuh bibit sepanjang 15—20 cm berisi 2—3 mata, sedangkan bud chips cukup satu mata,” kata Budiarto. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan untuk calon bibit berkurang. Penghematan bibit merupakan kelebihan pertama penggunaan mata tunas dalam budidaya tebu.

Kelebihan kedua, pertumbuhan tunas tanaman serempak. Budidaya dengan mata tunas mengurangi munculnya sogolan, yakni anakan yang tumbuhnya menyusul. Sogolan memang menambah bobot panen, tapi hasil gulanya rendah karena kadar kemanisan turun. “Sekilas pekebun panen melimpah tapi saat digiling, gula yang didapat sedikit,” kata Purwono, dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor.

Kelebihan ketiga adalah masa panen lebih cepat, yakni 9 bulan sejak penanaman. Sementara pekebun yang menanam tebu dengan bibit bagalan, baru akan panen pada umur 11 bulan sejak penanaman di lahan. Menurut Purwono, hal itu karena pekebun yang memanfaatkan bud chips mencuri “start” dua bulan. “Bibit sudah belajar bertunas, mengeluarkan anakan, dan kokoh lantaran memiliki akar yang kuat. Jadi saat penanaman di lahan persentase kematian dapat ditekan,” katanya. Bandingkan bila menanam bagalan. Bila keduanya—bibit mata tunas dan bagalan—ditanam di bulan yang sama, misalnya Oktober, bagal baru belajar bertunas, bibit dari kepingan mata sudah memiliki anakan.

Saat musim giling tiba, yakni pada Juni, tanaman asal mata tunas siap panen. Sementara tebu asal bagalan belum siap panen. “Bila pekebun tetap panen tentu rendemennya sedikit, tapi bila panen diundur bulan giling telah lewat,” kata Purwono. Apabila pekebun ingin mengejar bulan giling dengan menggeser waktu tanam bagal lebih awal dua bulan, kebutuhan air belum tercukupi lantaran masih kemarau.

Produksi meningkat

Kelebihan keempat, produktivitas tanaman penghasil gula itu meningkat. Ketika panen pada Oktober 2012, Irawan memperoleh 70,8 ton tebu giling dari lahan 0,5 ha. Bandingkan dengan panen-panen sebelumnya ketika ia menggunakan bibit setek, produktivitas paling banter cuma 60  ton per 0,5 ha. Saat itu Irawan memang tengah menguji coba penggunaan mata tunas di lahan 0,5 ha. Semula ia ragu-ragu mengadopsi inovasi baru itu. Apalagi pada Januari 2012, saat penanaman curah hujan relatif tinggi.

Namun, bibit yang ia tanam berjarak 130 cm x 50 cm itu selamat hingga panen. Tingkat kematian bibit di lahan hanya 1%. Biasanya, dengan menggunakan bagalan, tingkat kematian lebih dari 40%.  Yang menggembirakan, produktivitas tinggi. Itulah sebabnya pada penanaman berikutnya, ia memperluas penggunaan bibit mata tunas di lahan 1 ha. Jika tak aral, Irawan akan panen pada Mei 2013.

Kelebihan lain adalah rendemen tinggi. Pengalaman Irawan tebu hasil penanaman mata tunas berendemen 8,76%, sementara tebu asal bagalan, 8,01%. Artinya untuk menghasilkan 100 kg gula pasir perlu 1,14 ton tebu asal mata tunas atau 1,24 ton tebu asal bagalan. Tingginya rendemen berkaitan dengan kadar kemanisan tebu yang mencapai 230 briks. “Semakin manis berarti semakin tinggi rendemen, otomatis pendapatan bertambah,” ujarnya. Kadar kemanisan tebu hasil perbanyakan bagalan, hanya 180 briks.

Enam bulan

Irawan  memanfaatkan tanaman berumur tepat  6 bulan untuk perbanyakan tebu dengan mata tunas. Alasannya mata tunas dalam kondisi optimal dan tidak mengandung banyak air. Tunas layak bibit sebanyak 8—10 mata per batang dihitung dari titik patah atau batas antara batang tua dan batang muda. Menurut Purwono, mata tunas di atas titik patah terlalu muda sehingga rentan busuk saat pembibitan. “Sementara mata di hitungan lebih dari 10 terlalu tua dan mulai berdormansi (berhenti tumbuh, red) sehingga tunas lambat tumbuh,” ujarnya.

Irawan mengambil kepingan mata dengan bor khusus. Ayah 3 anak itu lantas merendam kepingan calon bibit dalam air hangat bersuhu 500C selama 1 jam. Tujuan perebusan untuk mengurangi infeksi hama dan penyakit penting tebu seperti hama penggerek Chilo sp dan penyakit RSB (ratoon stanting disease). “Bandingkan dengan bibit asal bagal, hanya pisau yang steril. Padahal hama dan penyakit itu bersembunyi dalam batang,” katanya. Kepingan mata itu lalu direndam selama 3 menit dalam 10 liter larutan campuran 5 gram fungisida, 2 ml insektisida, dan 15 ml zat pengatur tumbuh.

Irawan lantas menanam kepingan di polibag berisi media tanam berupa campuran tanah masir, pupuk organik, SP36, dan furadan. Selang 1—2 pekan anakan mulai bermunculan. Irawan lantas menyeleksi bibit itu berdasarkan ketinggian. Bibit terpilih adalah yang memiliki 2—3 daun, biasanya tingginya 25—40 cm. Ia lantas meletakkan polibag di atas rak bambu setinggi 15 cm dari permukaan tanah. Tujuannya agar akar bibit tidak menembus tanah.

Bila itu terjadi bibit mengalami stres dan infeksi ketika pemindahan tanam di lahan. Biasanya 50% bibit yang terinfeksi mati. Dengan perlakuan itu kematian di lahan hanya 5%. Bibit siap tanam 2 bulan sejak persemaian di polibag. Cirinya daun menguning dan akar penuh. Sayang, pekebun tebu yang menggunakan teknik bud chips masih sedikit. Selama ini cara itu hanya digunakan sebatas kebun bibit. (Andari Titisari)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img